Educamp Ketiga Pajappa; Menjaga Tradisi

Di suatu sore yang cukup cerah, terbesit tanya pada diri, “Di mana saya berda?” Seperhitungan tanggal, saya baru meninggalkan Makassar selama enam minggu.  Terasa amat asing berada di kota yang sudah menempa saya sejak tahun 2009. Ahhh terlalu berperasaan.

 

Tidak mau larut dalam tanya yang tak berujung, saya memutuskan untuk menuju ke Kopi Kombi. Hari masih terang ketika saya tiba. Sang empunya pun masih menata meja dan bangku. Alat pembuat kopi sudah tertata dalam mobil Volkswagen (VW) yang digunakan sebagai kedai.

 

Saya memilih duduk di sebuah kursi yang lebih rendah lalu mengeluarkan sebuah buku yang kemarin saya beli. Mencoba menikmati suasana dengan membaca  lalu mencatat beberapa kata atau kalimat kunci dari paragraf-paragraf buku itu. Saya lalu memesan kopi dengan profil V60 menggunakan Arabika Kerinci seperti yang tertulis di labelnya.

 

Senja berlalu hingga malam, satu persatu pengunjung pun datang, termasuk teman-teman yang sudah menjadwalkan technical meeting Educamp ke-3 Pajappa. Tidak banyak yang datang malam itu. Pembagian tugas dan penyusunan jadwal pun dilakukan. Masing-masing dari kami yang hadir malam itu pun bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan.

 

Sampai saat hari keberangkatan, meeting poin pun akhirnya beberapa kali dipindahkan. Untuk menghindari kemacetan di sekitar bandara yang memang sedang padat-padatnya, kami memilih jalur alternatif. Jumlah kami hanya delapan orang yang berangkat pertama, termasuk instruktur dari PETA (Petualang Telusur Alam). Sangat jauh dari jumlah peserta yang diharapkan.

 

Dibanding dengan dua educamp sebelumnya, juga dengan trip-trip lainnya, educamp kali ini seperti kehilangan roh. Mungkin karena materi yang diangkat kali ini sama dengan materi sebelumnya. Tapi, saya yakin bukan karena itu, temanya pun didasarkan pada usulan dan diputuskan di rapat.

 

Saya cenderung melihat ada fase jenuh dalam berkomunitas. Meskipun Pajappa baru merayakan hari jadinya tanggal 24 Mei 2016 mendatang, orang-orangnya sudah terbentuk dua tahun sebelumnya di rumah yang berbeda. Inilah kenyataan dimana dalam sebuah komunitas akan terjadi dinamisasi sehingga memang dibutuhkan tanggung jawab moril dari setiap anggotanya. Berbeda dengan organisasi formal yang secara tegas menyajikan hak dan kewajiban anggota secara konstitusional. Dalam komunitas, pengaruh pimpinan sangat menentukan karena harus mengakomodir kepentingan anggota yang katanya seperti lirik lagu Diana Nasution “Kau datang dan pergi sesuka hatimu…”.

 

Secara teori, massa dalam komunitas lebih mudah dimobilisasi karena individu yang tergabung berasal dari kecemasan yang sama. Faktanya tidak demikian. Tidak ada yang tahu persis maksud dan tujuan individu tergabung dalam komunitas.

 

Setelah menyantap bakso di warung mie ayam yang sering kami singgahi, belakangan baru tahu namanya Mas Dodo, kami melanjutkan perjalanan. Melewati kawasan bambu lalu hamparan sawah dengan aktivitas petani yang sementara menanam tentu bukan sesuatu yang murah. Sudah barang tentu sangat berbeda jika kami memilih jalur antar kota dalam provinsi.  Hal ini dibenarkan oleh beberapa kawan yang menyusul bahwa lalu lintas sepanjang Makassar – Maros macet.

 

Setiba di lokasi, kami mengambil jeda sejenak sambil bersosialisasi dengan pengunjung lain yang lebih dahulu tiba. Setelah itu, kami pun mendirikan tenda dan mengecek peralatan yang kami bawa.  Kak Anwar yang bertindak sebagai leader langsung mengambil alih tugas memasang alat. Kawan yang lain merapikan barang, ada juga yang membuat kambing-kambing (pisang yang dipotog dadu, lalu diaduk bersama adonan tepung dengan sedikit garam dan gula, kemudian digoreng).

 

Akhirnya malam datang juga” seperti lirik lagu Payung Teduh yang sering dinyanyikan teman saya. Tidak banyak juga yang menyusul.  Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan materi pengenalan alat, simpul tali dan penggunaannya oleh Kak Anwar. Dengan sedikit pengalaman, saya hanya turut membantu teman-teman yang baru kali ini ikut. Bermodalkan cahaya lampu LED yang suplai listriknya dari power bank, kelas berlangsung hingga paruh malam. Bahkan beberapa kawan masih latihan hingga saya lelap dalam hammock yang digantung di sisi tebing karst.

ed32
Suasana edukasi pengenalan alat, jenis simpul dan penggunaannya.

 

Seusai sarapan, kami pun bersiap-siap untuk pemanasan. Olah raga single rope technique (SRT) dan panjant tebing (rock climbing) ini termasuk aktivitas yang memerlukan pemanasan yang cukup agar otot tidak mudah keseleo. Mulai dari kepala hingga jari kaki digerakkan, mengikuti instruktur yang secara berurutan bergantian sesuai putaran jarum jam. Setelah itu, kami pun secara bergantian menggunakan alat sesuai dengan kemampuan kami.

 

Kali ini saya lebih banyak kesempatan untuk latihan, begitu pun dengan teman lainnya. Maklumlah, dari jumlah alat yang ada, peserta tidak sebanyak yang sebelumnya. Lagi-lagi saya tidak bisa top (istilah untuk mencapai puncak) untuk panjat tebing. Sangat terasa bobot badan yang tidak ditunjang dengan daya cengkram kaki dan tangan. Beda dengan SRT, baik menggunakan grigri mau pun teknik prusiking, saya masih bisa top. Itu sudah pencapaian yang luar biasa bagi saya dengan postur tubuh yang tidak seperti delapan tahun lalu.

ed33
Suasana latihan SRT dan Rock Climbing.

 

Menjelang siang, kami melakukan caving (susur gua). Headlamp dan webbing pun disiapkan  karena selain gelap, ada bagian gua yang berupa sungai dan cukup dalam sehingga perli bantuan tali sebagai pemandu. Apa tah lagi ada peserta yang tidak bisa berenang. Safety menjadi prioritas dalam beraktivitas di alam terbuka. Cukup waktu satu jam menyelesaikan rute bersama seluruh tim, kami pun membersihkan diri dari lumpur di sungai yang ada di sekitar camping ground.

ed31
Suasana saat caving di Gua Saripa.

 

Rencananya, kami akan memindahkan tali ke jembatan. Kalau di tebing sistemnya naik lalu turun, sebaliknya di jembatan, turun dulu lalu naik. Sayangnya hujan turun dengan derasnya. Ada yang berteduh di tenda, ada pula di rock shelter yang ada di tepian tebing.

 

Hari sudah mendekati sore, hujan pun reda. Kami memilih mengemasi barang dan alat agar tidak kemalaman tiba di Makassar. Meskipun kali ini, misi untuk bermain-main di jembatan tidak kesampaian, tapi semuanya sudah cukup.

 

Rasa kecewa dengan jumlah partisipan yang minim di educamp ke-3 ini sudah tentu ada. Setidaknya, saya sudah ikut menjaga tradisi yang ada dalam komunitas dengan ikut ber-educamp. Demikian juga yang lain, yang baru pertama kali mencoba olah raga ini, mereka punya banyak waktu untuk belajar.

EC 3 ta'deang_222
Peserta Educamp ke-3 Pajappa

 

Sangat penting bagi sebuah komunitas untuk mengevaluasi diri. Terlebih bagi setiap anggota yang merasa peduli dengan eksistensi Komunitas Pajappa, saatnya menunjukkan seperti apa kepedulian teman-teman. Yakin saja, dimana pun kita berorganisasi atau pun berkomunitas, tidak ada yang jadi kalau semua hanya berdiam diri dan menunggu. Seperti apa Pajappa ke depan bukan semata di tangan saya atau di tangan presidium, atau siapa. Kita punya tanggung jawab bersama dan hanya bisa terwujud jika kita bergerak secara masif, bukan dalam kelompok kecil apa lagi individu. Bukankah kita semua punya potensi?

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Educamp Ketiga Pajappa; Menjaga Tradisi”

  1. Pesan di paragraf terakhir sangat mengena..

    Komunitas digerakkan oleh orang-orang yang peduli, tapi ketika kepedulian sudah mulai tersapu oleh kesibukan lain maka secara tidak langsung komunitas juga akan mulai jalan di tempat.

    Been there buddy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s