Antara Kelas, Ebiet dan Lamunanku

Kelas Menulis Kepo, Membuat Out Line, Curhat

Advertisements

Beberapa teman sudah ada dalam ruang baca yang hampir di setiap sisinya terdapat kalimat-kalimat motivasi, selain rak buku tentunya. Ruang itu memang biasa kami jadikan kelas. Kursi dan mejanya sudah tertata dengan format huruf “U” dengan papan tulis di depan sebagai poros. Hangat sapa teman-teman membuat saya semakin semangat mengikuti kelas sore itu. Ini kesempatan pertama saya ikut belajar di Kelas Menulis Kepo Angkatan III sejak dimulai sebulan lalu.

 

Sembari menunggu peserta  kelas lainnya, teman-teman bermain dengan tebak-tebakan lirik lagu yang dinyanyikan. Beberapa syair memang terasa aneh kedengaran di telinga saya. Saya kemudian mengingat-ingat sesuatu tatkala menyebut nama Ebiet G. Ade. Sampai saat ini saya masih menyimpan beberapa lagu dan masih sering mendengar lagu-lagu pria bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far.

ebietsolomountain
Ebiet G. Ade sedang memainkan gitar. (Foto: Google)

 

 

Saya mulai teringat masa-masa awal perantauan ke Kota Makassar. Waktu itu saya baru menyelesaikan liburan caturwulan pertama tingkat SMA. Satu minggu di kampung halaman, masih terasa belum cukup untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga. Menggunakan bus antar kota dalam provinsi berlabel “PIPOSS”, saya meninggalkan tanah kelahiran pukul 14.00 wita. Saya duduk di kursi kedua dari depan. Lamunan terus membayang hingga membawa saya tertidur. Silau lembayung senja membangunkan saya. Bus sudah berada di daerah Kabupaten Sidrap. Sialnya, di penghujung hari yang sendu itu mengalun lagu –Aku Ingin Pulang, milik pria yang lahir bertepatan dengan hari Kartini tahun 1954 ini. Derai air mata tidak bisa saya hindari, rasanya ingin sekali turun dan pulang ke rumah. Maklum lah, dulunya saya memang anak rumahan.

 

Kali ini, kalian pun tentu ingat di setiap Ramadan. Dengan alur cerita yang selalu berbeda tiap tahunnya, lirik lagu ini selalu menggugah rasa. Liriknya seperti ini, “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan, di tanah kering bebatuan.” Ramadan sudah dekat, saya mulai penasaran seperti apa tema yang mengiringi lagu anak bungsu dari enam bersaudara ini. Mari bertanya pada rumput yang bergoyang.

 

Ingatan saya kemudian terbawa pada sebuah perjalanan ke Bulukumba, beberapa bulan lalu. Kala itu perjalanan kami bertajuk “Liburan Kelas Kepo Di Kahayya”. Setelah menikmati jagung rebus dan segelas kopi hitam di Takalar, giliran play list di ponsel saya yang mengiringi perjalanan. Kedua teman pun sudah paham daftar play list saya, lawas. Secara kebetulan, saya baru beberapa hari lalu mengisi play list dengan album –Balada Country, Nyanyian Cinta, dan Best Of The Best, milik peraih 18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Camelia I hingga Isyu. Di luar dugaan, rupanya telinga kedua teman saya sudah begitu akrab dengan lagu-lagu tersebut. “woaah… saya seperti berada dalam dekapan bapak saat masih kanak-kanak”, pengakuan salah satu teman.

 

Ayah dari Adera ini pun tak melulu dengan lagu-lagu sendu. Coba resapi lirik dari lagu yang berjudul –Kugandeng Tangan GaibMu, “Aku ingin mengikutiMu, betapa pun jauh. Perjalanan yang bakal mengasyikkan. Menyeberangi laut, menjelajah awan,menembus langit dan bintang-bintang”. Lirik lagu –Senandung Pucuk-Pucuk Pinus pun tidak jauh beda. “Bila kita tak segan mendaki, lebih jauh lagi. Kita akan segera rasakan, betapa bersahabatnya alam. Setiap sudut seperti menyapa, bahkan teramat akrab. Seperti kita turut membangun, seperti kita yang merencanakan.” Kedua lagu dari pria yang tidak pernah sekali pun bermimpi, kalau lagu-lagunya bisa mempunyai relevansi sosial dengan banyak peristiwa di segala zaman ini, selalu hadir di setiap trip yang saya lakoni.

 

Ingatan saya pun terbawa  duka mendalam yang pernah saya alami. Hingga saat ini, mata saya selalu kerkaca-kaca hingga meneteskan air mata jika terlalu hanyut mendengar lagu dari Duta Lingkungan Hidup tahun 2006 ini. Lagu itu berjudul –Ayah Aku Mohon Maaf.

Dan pohon kemuning akan segera ku tanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba ku jalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkan ku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ayah aku mohon maaf atas keluputan ku
Yang aku sengaja maupun tak ku sengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buat mu ayah tercinta.

Siang yang begitu gerah waktu itu, saya mendapat kabar kalau bapak sudah dijemput malaikat maut untuk menghadap ke Penciptanya. Tidak ada seorang pun dari kami, lima bersaudara, yang menemani beliau menghembuskan napas terakhirnya. Bersama adik ketiga saya, kami di Makassar. Adik pertama di Kalimantan, sementara adik ke dua saya di Pare-Pare. Adik bungsu saya memang masih tinggal serumah dengan orang tua, tapi waktu itu di sedang pergi sekolah. Sebagai anak pertama, saya harus terlihat lebih tegar. Tapi di saat sendiri, saya menangis sangat lama, bahkan di saat menulis tulisan ini.

 

Woahhh… saya terbawa suasana. Harusnya saya menuliskan liputan kelas. Setelah dirasa tidak ada lagi peserta kelas yang menyusul, pelajaran pun dimulai. Materi kelas kali ini adalah “Membuat Out Line” yang dibawakan oleh Daeng Ipul.

 

Kalau dulu kita masih sering mendapat tugas mengarang, maka kerangka karangan itulah yang disebut out line. Menurut Daeng Ipul, out line bertujuan membuat tulisan lebih fokus. Arah sebuah tulisan dimudahkan dengan adanya out line.

 

Ada lima langkah dalam membuat out line menurut pemateri. Pertama, kita harus menetukan tema dan sudut pandang. Kedua, menentukan alur atau urutan. Dalam menentukan alur, kita bisa melakukan pendekatan berdasarkan urutan kronologis, urutan bangunan, atau pun urutan logis. Ketiga, membuat pertanyaan sebanyak mungkin. Keempat, menjawab dengan singkat pertanyaan-pertanyaan di atas. Terakhir, kelima, merangkai semua jawaban. Untuk penjelasan lebih detail, silakan buka link ini : http://kelaskepo.org/tips/bagaimana-menyusun-kerangka-tulisan/

 

Kelas berlangsung sebagaimana mestinya. Tanya jawab antara peserta dan pemateri pun mengalir sesuai yang diharapkan. Cuma saya yang terkadang hanyut dalam lamunan bersama tembang-tembang balada milik Ebiet G. Ade.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s