Jalan Sehari Di Pucak

Jalan Sehari

Advertisements

Kepulan uap seduhan kopi Gayo, Aceh,  buah tangan dari teman, seperti menghipnotis. Suara gemercik ketika saya menuangkannya ke dalam termos laksana lirih aliran di sungai berbatu. Dari kamar yang berjarak sekitar 20 meter dengan tempat saya berpijak, mengalun lagu “Fajar Pagi” yang dilantunkan oleh Boomerang. Harmoni pagi yang sungguh indah.

“Seperti fajar pagi kau ku resapi, menyengat namun itu yang memang ku harap. Ada resah memang resah tapi aku suka. Fajar pagi kau ku resapi.” Saya ikut bernyanyi. Meski suara fals, yang penting “Rock ‘n Roll, tawwa.”

 

Seperti sudah menjadi ritual di setiap akhir pekan, ada pertanyaan yang harus dijawab. “Mau kemana, kita ngapain?” Beberapa hari sebelumnya pun telah bertebaran kode untuk trip. Pilihan pun jatuh pada sehari jelajah Pucak. Pucak sendiri merupakan ibu kota kecamatan Tompobulu, Maros yang masih tetangga dengan Makassar. Untuk sampai di Pucak, tidak cukup satu jam perjalanan, kita sudah sampai dengan rute via Jl. Hertasning – Samata – Sipur – Pucak. Itu pun sudah kecepatan standar, di bawah 40 km/jam.

 

Matahari mulai meninggi meninggalkan horizon timur. Awan putih berarak hingga kadang menjadi mendung. Bersama empat rekan saya di Pajappa (komunitas traveler gadungan yang hanya suka hore-hore), kami bertolak dari Kandang Naga (Istilah tempat kumpul mereka) dengan sepeda motor. Untuk mempermudah koordinasi selama perjalanan, kami berlima cukup menggunakan tiga sepeda motor.

 

Terasa ada sambungan interlokal dari kawasan tengah, kami pun memilih untuk mampir di sebuah kedai mie ayam di daerah Pattallassang, Gowa. Saya sendiri sudah tiga kali mampir di tempat ini, dan saya suka baksonya. Bagi kalian penikmat bakso, boleh lah kalian coba menyantapnya. “Saya pernah sengaja naik taxi dari Jl. Pettarani, pukul sembilan malam hanya untuk makan mie ayam di tempat ini”, tutur Kak Arfan sambil menyantap lahap mie ayamnya. Iccang, Feri dan Appy pun sepakat untuk mengatakan enak.

 

Rencana perjalanan kami memang untuk menikmati senja di puncak Saukang. Setelah menghitung waktu sambil mengamati pergerakan awan, kami memutuskan untuk keliling-keliling saja di sekitar Pucak. Kendaraan kami belok kan ke Pucak Teaching Farm (PTF), tapi baru sampai di gerbangnya, kami memutar. Di sebuah kedai, kami mampir untuk membeli air minum dan cemilan secukupnya. Saya mencoba untuk menggali informasi dengan membandingkan kondisi sekarang dengan yang pernah saya lihat di dalam PTF. Dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan, sambil mengamati ekspresi narasumber, saya berucap dalam hati bahwa sudah benar kita tidak masuk ke dalam. Di kedai ini pula, sekali lagi kami memastikan ada tidaknya teman-teman yang menyusul sebelum kami mendaki.

 

Kami lalu menuju ke Kebun Raya Pucak. Sekira tiga tahun lalu, kami sudah pernah ke tempat ini. Jalur tracking untuk sekadar berjalan menikmati suasana hutan cukup menguras keringat. Sayangnya tempat ini kurang mendapat perhatian serius untuk dikelola. Kali ini, kami tidak melakukan track walking. Kami lebih memilih duduk santai di bawah tajuk pohon Kecrutan (Spathodea campanulata), sambil menikmati cemilan dan berbagi cerita. Setelah paruh hari lewat, kami pun beranjak.

sd4
Bersantai dan berbagi cerita di Kebun Raya Pucak.

 

Tidak jauh dari gerbang Agro Botanical Garden, kami yang memang berkendara dengan santai mendengar riak air. Kendaraan dipinggirkan dan mencoba mencari sumber suara itu. Dari jauh, tempat itu serupa tanggul sungai. Merasa masih punya banyak waktu, kami pun mencari informasi dari beberapa warga sekitar mengenai akses ke sumber desir air tersebut.

 

Kendaraan melaju, melewati jembatan gantung yang panjangnya sekitar 30 meter, taksiran saya. Kami memasuki sebuah gerbang yang dari benda fisik yang masih tersisa merupakan bekas pabrik cipping. Melewati  jalan setapak yang mengantarkan kami menuju air terjun tersebut. Dugaan awal kami salah, ternyata memang bukan tanggul. Air terjun yang tingginya tidak lebih dari tiga meter dan membentang seluas sungai, saya taksir sekira 20 meter ini memberi sesuatu yang berbeda. Dari waktu yang tersisa, kami masih ada 60 menit untuk bersantai-santai di tempat ini. Tidak lupa melakukan eksplorasi di sekitar air terjun yang kami namai “Arda” ( Air Terjun Dattulu) ini, barang kali ada ruang yang cocok dijadikan camping ground. Beberapa rencana pun kami susun setelah mengamati sekitar.

sd2
Sejenak menikmati gemercik air terjun.

 

Perjalanan yang baik adalah perjalanan yang memiliki time line yang jelas dan tegas. Time line akan membatu kita untuk menyelesaikan misi yang telah kita rencanakan. Time line bisa dibuat dari review perjalanan kita sebelumnya atau dari informasi orang-orang yang sudah pernah melakukan trip di tempat yang sama.

 

Setelah memarkir kendaraan di  bawah kolong rumah warga, tidak lupa mengecek segala keperluan. Doa bersama menandai pendakian kami dimulai. Rute pendakian di Saukang bisa dibagi dalam tiga zona. Zona pertama merupakan jalan yang masih berupa tanah padat dengan ragam bongkahan batu berserakan.  Alur-alur yang dibentuk oleh arus lindisan air membuat beberapa titik jalan menjadi tidak berbentuk. Dengan kemiringan sekitar 20° – 30°, melewati rute ini cukup menguras keringat dengan waktu tempuh 20 menit-an.

 

Sejenak mengatur ritme keluar dan masuknya udara di paru-paru. Kami lanjut memasuki zona kedua berupa hutan campuran dengan vegetasi pohon dan bambu. Saya yang memimpin regu sedikit keliru dengan rute ini.  Saya memulai jalur di luar jalur umum. Suksesi alam berlangsung cepat di musim penghujan membuat semak dan perdu lebih rapat.  Bambu duri adalah tantangan tersendiri dalam jalur dengan tanjakan 30° – 45° ini. Di kawasan ini, kita masih bisa menemukan manggis hutan. Tapi jangan harap ada buah masak yang disisakan oleh binatang yang beraktivitas di area tersebut.

 

Sadar dengan kondisi, saya mencoba berkoordinasi dengan Kak Arfan. Kami pun melakukan penelusuran jalur dengan berjalan ke arah yang berbeda. Jalur yang sesungguhnya ada di sebelah kiri rute yang kami pilih. Artinya, kami memang start di titik sebelum simpangan jalur  pendakian yang sesungguhnya. Kami pun mengambil titik pos IV sebagai patokan. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk tetap tenang dan berusaha mengenali apa yang bisa dijadikan penanda. Penyimpangan kami belum terlalu jauh sehingga kami bisa menemukan pos yang satu-satunya ada plang penandanya ini.

 

Perjalanan kami lanjutkan dengan memasuki zona ketiga. Zona ini menuntut konsentrasi yang lebih selama berjalan. kalau dianalogikan, Gunung Saukang ini layaknya tumpukan batu setelah dituang dari truk. Di beberapa titik, butuh tenaga ekstra karena harus memanjat. Kita harus memastikan pijakan tidak pada batu yang labil. Sedikit lengah, batu-batu yang bertekstur kasar dengan sudut-sudut tajam siap menerkam. Di bagian dasar sudah siap bambu duri menadah. Satu langkah menentukan nasibmu. Ngeri, membayangkannya.

S__4153371
Salah satu momen terbaik di perjalanan ke Saukang.

 

Sekira pukul 16.30 wita, kami mengusap triangulasi sebagai sapa selamat datang. Baju yang basah oleh keringat sudah menjadi konsekuensi logis. Menikmati 360° sejauh mata memandang dan sudah pasti mencari spot-spot untuk mengabadikan diri dalam bingkai warna.

sd5
Bersantai dan memandang hijau hutan, desa serta kota yang jauh di sana.

 

Dari sisi selatan, mega hitam membayangi. Sepertinya sunset yang dinanti akan ingkar. Beruntung ada seduhan Mandailing dengan V60. Kue bipang (sejenis popcorn dari beras yang direkatkan dengan dula merah,) menjadi pemikat yang manis bagi si hitam. Canda dan tawa selalu hadir dalam cerita yang tidak pernah ada habisnya.

sd1
Menikmati kopi dan cemilan seadanya.

 

Rinai hujan pun menghampiri. Segera kami kemasi barang-barang, terutama yang rawan basah. Selang waktu sesaat, rintik-rintik pun berlalu. Namun demikian, sunset yang dinanti harus kami relakan.  Jelaga hitam di ufuk barat begitu angkuh menjadi tirai. Hanya semburat-semburat jingga dari balik awan melipur lara kami. Yeah, “May be some day come again.”

sd3
Menikmati kebersamaan di setiap perjalanan.

 

Sekali lagi, puncak bukanlah tujuan utama, melainkan pulang ke rumah. Sunset hanyalah bonus karena yang utama adalah kebersamaan.  Seperti penggalan lagu Dialog Dini Hari berikut “Tertawa –  tertawalah kawan, basuh basahi diri. Luka biar terluka kawan, karam kering sendiri. Bahagia, gembiralah, jadikan kenangan. Canda alam bersahaja. Nada terakhir bawa kita pulang. Lewati tebing tinggi menjulang.  Hei sobat kenang hari ini, simpan di hati bawa pergi.” 

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

4 thoughts on “Jalan Sehari Di Pucak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s