Di Sini, Di Jalan Ini

Jungle Book, Kolaka Timur

Advertisements

Pagi yang segar seusai memanjakan diri dengan guyuran air hangat, fasilitas penginapan. Saya menyalakan televisi, menantikan siaran olah raga di pagi hari, terutama kejutan pertandingan liga Champion Eropa. Sambil menikmati kopi susu dan roti bakar, dari arah pintu terdengar suara ketukan. Saya pun segera membuka pintu dan rupanya kode untuk berangkat. Dengan segera saya memunggungkan semi carrier, tak lupa membawa sepotong roti yang masih tersisa.

 

Langit terlihat mendung, sedikit rasa khawatir terbesit. Soalnya, minggu sebelumnya,kendaraan yang kami gunakan sempat mengalami masalah ketika melintasi sungai di daerah yang akan kami tuju. Cerita dari teman, waktu itu volume air sungai meningkat, demikian juga arusnya sehingga sempat membuat kendaraan tidak terkendali. Beruntung mesin masih bisa hidup kembali dan kendaraan bisa diselamatkan dari sungai tersebut. Sehari setelah kejadian ini juga dikabarkan ada kendaraan yang sempat hanyut.

 

Perjalanan menuju Kecamatan Uluiwoi, Kabupaten Kolaka Timur ini memang cukup menantang. Uniknya lagi setelah jalan beraspal telah habis, habis pula lah jangkauan signal. Macam lagu – Balada Pelaut – saja, “Lapas tali, lapas cinta” Jalan perkerasan yang berdebu hanya dilintasi pada areal perkampungan. Selepasnya, kendaraan harus bekerja ekstra melintasi jalan tanah yang di banyak titik berlumpur.

 

j3
Kondisi Jalan yang dilewati berlumpur dan sepi.

Saya teringat tulisan seorang teman yang menyatakan bawha kita sering dan seolah tahu apa yang terjadi di ibu kota sana. Sehingga, begitu tertinggalnya kita jika ada berita dari kota itu yang kita belum tahu. Padahal, belum tentu kita tahu siapa nama ketua RT (Rukun Tetangga) yang ada cuma lima rumah dari pagar halaman kita. “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir” kata Chu Pat Kay.

 

Tujuan perjalanan kami adalah Desa Pehanggo, Desa Undolo, dan Desa Uete yang masuk dalam administrasi Kecamatan Uluiwoi. Sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan, saya dan tim sebanyak lima orang tiba di Pehanggo sekira pukul 09.00 waktu setempat. Maksud kunjungan kami adalah untuk mensosialisasikan pokok-pokok program yang akan kami jalankan nantinya di lokasi tersebut.

 

Dalam sebuah ruang kelas sekolah yang dibangun atas kerja sama dengan lembaga donor dari luar itu sosialisasi dilangsungkan. Pihak sekolah memperbolehkan karena memang muridnya sementara libur dan tentu sudah ada koordinasi dari pemerintah setempat, kata salah seorang warga yang sempat saya tanyai.

 

Sosialisasi yang berlangsung dengan durasi 120 menit ini diikuti oleh peserta dengan antusias. Hal itu tercermin dari interaksi yang terjadi selama sosialisasi. Berbagai masalah seputar kakao mulai bermunculan, mulai dari hama dan penyakit hingga sikap petani yang memang mulai patah semangat dengan kondisi kakao yang ada.

 

Ada hal menarik yang disampaikan dalam forum yang dihadiri lebih dari enam puluh orang dari data daftar hadir itu. “Jika surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka hama dan penyakit kakao itu berada di jejak kaki petani.” Saya mencoba menginterpretasikannya seperti ini, semakin banyak jejak kaki petani dalam kebunnya, mengindikasikan dia rajin ke kebun. Tentunya, dengan rajin petani ke kebun, semakin intensif pula perawatan yang dilakukan pada tanamannya. Bahkan menurut pembawa sosialisasi, petani cuma butuh empat jam per hari untuk beraktivitas di kebunnya, itu sudah cukup.

 

j4
Suasana Sosialisasi.

Satu demi satu hingga banyak masalah diungkap oleh peserta sosialisasi. Mungkin saking banyaknya hingga kadang kita menganggapnya sebagai hal yang wajar, apa lagi di pedalaman yang masih sulit dijangkau. Beda dengan kota-kota besar yang begitu dekat dengan akses informasi sehingga percekcokan dalam rumah tangga saja perlu diketahui orang sejagat. “dan sementara, kita di sini di jalan ini” Kata Bang Iwan Fals.

 

Ada pembahasan yang menarik dan sontak membuat hadirin terkesima ketika menyentuh sisi ekonomi masyarakat. Kecenderungan yang ada kata pembawa sosialisasi, bahwa sering dijumpai kasus dimana hasil panen sama dengan belanja. Dengan kata lain, hasil panen dikurangi belanja sama dengan nol. Lebih repot lagi jika hasilnya minus.

 

Semua orang tidak ingin berada pada kondisi tersebut, tidak cuma petani, pagawai atau pun buruh swasta seperti saya. Kondisi yang diharapkan adalah Hasil Kebun (HK) dikurangi Tabungan (Tb), Investasi Kebun (IK) dan Zakat Infak (ZI) barulah sama dengan Belanja (B). Secara matematis dapat dituliskan dengan rumus, (HK – Tb – IK – ZI = B. Belanja ditempatkan pada posisi paling akhir, bukan hal utama yang ditunaikan.

 

Konsep ini sebenarnya bagaimana membawa kita pada situasi hidup sederhana dengan tidak mengedepankan nafsu belanja. Tabungan diharapkan untuk dimanfaatkan di waktu-waktu krusial. Investasi kebun merupakan biaya rutin yang harus dikembalikan ke kebun, entah melalui pupuk, pestisida, pengairan, dan saprodi (sarana produksi) lainnya.

 

Lebih dari itu semua, yang terpenting dalam membangun adalah kolektivitas. Dalam konteks masyarakat tani kita bisa sebut sebagai kelompok tani. Jika tidak ada kebersamaan yang terbentuk maka sangat sulit untuk membangun kekuatan dalam masyarakat. Pastinya akan berbeda jika setiap orang sama-sama kerja dengan bekerja sama. Saya terkesan dengan pesan yang ditanamkan oleh para serigala dalam film “The Jungle Book” yang tadi saya tonton. Mereka selalu menanamkan bahwa “Kekuatan serigala itu ada dalam kawanan” Saya melihat sisi kolektivitas yang kuat di situ. Jika serigala saja mampu, kenapa kita sebagai manusia tidak?

 

Setelah sosialisasi selesai, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju desa berikutnya. Memasuki paruh hari di Rabu yang menggerahkan, bersama dengan tim, saya menikmati santap siang berupa mie rebus di satu-satunya warung makan yang dilewati. Tidak menunggu waktu lama setelah mangkuk kosong, apa lagi gerimis mulai turun, kami pun melanjutkan perjalanan. Pasalnya, jika hujan deras atau debit air di sungai meningkat maka kami tidak bisa menuju desa yang masyarakatnya sudah menunggu kehadiran kami. Bukankah kesan pertama begitu menggoda?

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s