Lima Tanaman Hias yang Pasang Surut

Tanaman Hias, Kebun

Advertisements

“Roda-roda terus berputar, tanda masih ada hidup. Karena dunia belum henti berputar melingkar searah” Begitulah penggalan lirik lagu berjudul “Apatis” yang pernah dipopulerkan oleh Ipang dalam soundtrack film “Sang Pemimpi”. Daun kering, jatuh dan terurai oleh mikroorganisme tanah selanjutnya menjadi bahan organik yang kemudian dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Demikianlah hidup yang terus berputar membentuk siklus.
Mungkin pembaca masih mengingat bagaimana model celana panjang yang menjadi trend fashion. Mulai dari model senapan yang selalu mengingatkan kita dengan legenda dangdut A. Rafiq, berganti dengan celana dengan penampang yang sangat kecil. Selanjutnya hadir celana panjang yang standar lalu kembali ke senapan dan berulang menjadi celana model botol. Fenomena batu pun demikian, hadir biasa saja lalu menjadi digilai dan sekarang entah bagaimana nasibnya.
Dunia tumbuh-tumbuhan pun tak ubahnya demikian, terutama pada tanaman hias. Dulunya dengan nama yang lain dan corak bunga mau pun daun yang terbatas. Setelah beberapa waktu lalu muncul dengan nama pasaran dan variasi yang lebih banyak tentunya. Berikut lima tanaman yang dulunya biasa lalu tidak biasa dan kembali biasa.
Mahkota Duri (Euphorbia mili)

e mili
Tanaman Mahkota Duri. Gambar : Google

Tumbuhan gurun yang diduga berasal dari Timur Tengah ini merupakan tanaman purba. Batang yang dipenuhi duri dengan bunga yang berwarna merah. Dulunya, tanaman ini dikenal dengan sebutan “Mahkota Duri”. Konon, istilah itu dikaitkan dengan mahkota yang dipasang di kepala Yesus Kristus.
Awal tahun 2000-an, tanaman ini sangat jarang ditemui karena kurang diminati. Kecuali pada halaman-halaman penyuka tanaman purba seperti kaktus-katusan. Duri yang banyak dan tajam pun menjadi salah satu alasan untuk tidak banyak ditanam di halaman rumah karena dinilai tidak aman bagi anak-anak.
Selang lima tahun, hadirlah tanaman yang melejit dengan nama “kembang Terkini” atau “Bunga Terkini”. Ada pula yang menamainya dengan sebutan “Delapan Dewa”, entah apa alasannya. Yang saya tahu adalah bentuk bunganya yang memang membentuk angka delapan jika dilihat dari depan. Sontak tanaman ini merajai halaman-halaman rumah penggemar tanaman hias. Selain ukuran bunga yang lebih besar, variasi warna bunganya pun lebih beragam.
Waktu berlalu, selera pun berganti. Si Dewa keluarga ubi kayu ini pun tidak primadona lagi.
Daun Rejeki (Aglaonema sp.)

aglaonema
Tanaman Mahkota Duri. Gambar : Google

Tanaman hias daun dari keluarga talas-talasan atau Araceae kian marak di kalangan pecinta tanaman hias setelah banyaknya Aglaonema hibrida yang masuk ke Indonesia. Sebelumnya, daun Sri Rejeki yang kita temui sangat terbatas, umumnya hanya yang berdaun hijau dengan bintik putih sebagai corak.
Aglaonema hibrida menyulap situasi. Daun yang beragam warna dan corak membuat peminatnya pun tidak tanggung-tanggung merogoh kocek untuk memilikinya. Pemeliharaan yang tidak terlalu rumit dan kilauan helaian daunnya membuat tanaman hias daun ini menjadi primadona di meja teras atau ruang tamu.
Lambat laun waktu berlalu, daun plastik, julukan tanaman ini pun kian meredup. Hanya kalangan yang fanatik saja yang masih setia dengan tanaman ini.
Kembang Kertas (Bougainvillea spectabilis)

bugenvil
Tanaman hias Bugenvil. Gambar: Google

Ada mitos yang kutang baik melekat pada tanaman yang satu ini jika ditanam di halaman rumah. Konon katanya, jika ada kembang kertas di halaman rumah maka gadis yang ada di dalam rumah itu susah menemukan jodohnya, entahlah. Bisa jadi, mitos inilah yang membuat tanaman hias bunga ini tidak banyak diminati dulunya. Umumnya hanya ditemukan di median jalan sebagai penghias jalan.
Melalui metode sambung pucuk, tanaman ini bisa dibuat menjadi kombinasi beberapa warna bunga sesuai yang diinginkan. Tanaman ini pun semakin menarik karena bisa dijadikan pergola sebagai shelter yang sejuk dan indah dengan bunganya. Saya sendiri pernah memiliki Bugenvil (Inggris) dengan tujuh warna bunga dalam satu pohon, membuatnya pun sangatlah mudah.
Hingga kini, popularitas tanaman ini pun kian meredup dan kembali ke fungsi awalnya sebagai tanaman lansekap di taman-taman kota dan jalan. Hanya yang menjadi bonsai dan pergola saja yang bertahan.
Kamboja Jepang (Adenium obesum)

adenium_hongthiennga
Tanaman Mahkota Duri. Gambar : Google

Entah mengapa ada kata Jepang yang dilekatkan pada tanaman yang juga dikenal sebagai mawar gurun ini. Melihat karakteristik tanamannya, Adenium berasal dari Asia Barat dan Afrika yang merupakan gurun pasir yang kering. Hemat saya, Adenium dilekatkan dengan Jepang karena bentuknya yang menyerupai bonsai yang terkenal di Jepang.
Awalnya, tanaman ini pun belum begitu populer. Hanya yang berbunga merah muda yang umum dijumpai. Setelah teknologi persilangan menyentuh tanaman ini, lahirlah bunga-bungaan dengan ragam corak. Dari situ, Adenium kemudian semakin digilai dengan bentuk bonggol-bonggol yang unik. Ada juga yang menggabungkan beberapa jenis bunga dalam satu tanaman melalui sambung pucuk.
Musim berlalu, primadona dari gurun ini pun ditinggalkan perlahan. Nyaris tidak ada lagi koleksi baru yang kita bisa jumpai.
Tapak Dara (Catharanthus roseus)

tapak dara
Tanaman Mahkota Duri. Gambar : Google

Suatu waktu saya berjalan-jalan di pedesaan, saya melihat tapak dara yang tidak umum, sepertinya hibrida. Saya pun menanyakan nama bunga itu ke pemiliknya, sedikit heran ketika si pemilik bunga mengatakan kalau nama tanaman itu adalah “Bunga Ayu Tinting”. Saya bertanya lagi, mengapa namanya seperti itu, dia pun menggeleng. Sepertinya bunga penangkal nyamuk ini kembali populer sejak Ayu Tinting marak diberitakan di infotaiment, entahlah.
Dulunya, saya sering menggunakan tangkai putik tanaman semak ini menjadi jarum yang dilekatkan di telapak tangan. Ketika ditiup, jarum itu bergerak seperti jarum jam. Dibanding dulu, ragam warna menjadi salah satu penyebab maraknya Tapak Dara ini. Ukuran lebih mini dan bunga yang lebat juga membuat Geranium (nama lainnya) ini semakin diminati. Kita lihat saja nanti, sampai kapan tanaman hias ini akan bertahan di keemasannya.
Demikianlah lima tanaman yang dulunya biasa menjadi tidak biasa lalu kembali pada mulanya. Masih banyak tanaman yang seperti ini, yang cenderung dipengaruhi oleh dinamika pasar. Contoh lain adalah Puring, Anthurium, dan kaktus mini. Layaknya ombak, tanaman hias pun demikian, kadang pasang lalu surut.

 

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

4 thoughts on “Lima Tanaman Hias yang Pasang Surut”

    1. hehehe, siip mas, di tempat lain mungkin demikian hanya saja tidak seperti di tahun 2004-2006. Sekarang banyak beralih ke tanaman buah dalam pot dan sayuran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s