Perjalanan Terakhir

Fiksi, Merangkai Kata

Advertisements

Jauh malam hari, detak jam kian terasa di telinga. Malam ini memang begitu sunyi. Tak ada serangga atau pun merdu kenari seperti malam-malam lalu. Saya merasa terbawa pada masa yang sesungguhnya telah saya pendam di palung hati.
Seperti malam ini, lima tahun lalu, Jumat pukul 02.00 dini hari. Dalam hening, dering ponsel berbunyi. Di layar bertuliskan “Tapak Kuda” memanggil. Tapak kuda adalah nama lapangan sahabat saya, dia adopsi dari nama tumbuhan yang sudah akrab di kalangan pecinta alam. Tidak salah dia menyandang nama itu, anaknya kuat dan tangguh, tenaganya seperti kuda. Langkahnya yang cepat membuat siapa pun di belakangnya akan susah mengikutinya saat berjalan, terlebih mendaki.
“Bamb, sabtu dan minggu, kamu ada acara tidak?” Tanya sahabat saya tergesa-gesa hingga lupa memberi salam saat teleponnya saya angkat. “Bamb” adalah panggilan singkat dari “Bambu Kuning” yang disematkan sebagai nama lapangan saya. Bambu kuning saya pilih karena dekat dengan tokoh cerita rakyat dari kampung saya. Konon Sawerigading adalah manusia yang dititiskan lewat bambu kuning (sawe = berkembang, ri = di, gading = bambu kuning). Selain itu, bambu memang punya peran tersendiri dalam dunia kepecintaalaman, terutama untuk masak dan bahan makanan.
“Waalaikumsalam, ada apa Da’? Semangat sekali sampai lupa beri salam” Jawab saya yang begitu penasaran. “Ada, tidak?” Tanyanya lagi. Sambil mencoba untuk tenang, saya menjawab “Apa sih yang tidak buat kamu, Da’” Seperti sudah ia siapkan, tanpa jeda dia pun menjawab “Kalau begitu, siapkan alat dan pakaianmu untuk dua hari, soal ransum biar saya yang urus” tegasnya. Saya semakin heran karena tidak biasanya ia mengajak untuk berkegiatan di alam terbuka. Dengan nada kalem, saya bertanya “Kita mau kemana Da’?” Dengan semangatnya seperti kuda binal dia menjawab, “Gak usah tanya, kita ketemu pukul 08.00 WITA di tempat biasa ya, jangan telat!” Setelah mengucap salam, teleponnya ditutup.
Segudang tanya mengisi kepala, dengan penuh rasa penasaran, saya memasukkan satu demi satu keperluan perjalanan ke dalam carrier. Segelintir solilokui terlontar hingga bibir bagai dukun yang membaca mantra. Bola mata yang masih segar harus dipaksa untuk terpejam agar tidak telat datang di tempat yang memang sering kami tempati untuk berkumpul. Lebih penting lagi agar energi cukup untuk beraktivitas esok.
***
Langit cerah di pagi yang indah. Saking cerahnya, seperti tak ada embun yang menetes ke rupa pertiwi, semua menguap menjadi partikel hingga atom. Tidak lupa saya menyeduh kopi, dengan asap yang masih mengepul di penampang mug kesayangan, saya meminumnya. Pada secarik kertas, saya menuliskan memo pada teman saya, Dactylon, yang masih lelap dan mendekap gulingnya. Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa sepetahuan teman serumah, itu pesan dari kakek saya.
Saya memacu sepeda motor dengan carrier melekat di pundak, seperti bapak yang menggendong saya karena merengek untuk ikut ke kebun waktu kecil dulu. Si Kuda memang teruji dan patut diacungi jempol dalam hal disiplin waktu. Jangan pernah berharap untuk mengulur-ulur waktu jika sudah punya janji dengannya. Di setiap pertemuan rutin bulanan grup pecinta alam yang kami tempati, Kuda selalu hadir lebih awal dari yang lain.
Benar saja, dia sudah duduk pada bangku panjang depan rumah pemilik peternakan besar di kaki gunung. Tangan kanannya memegang pena seperti menggoreskan kata di buku kecil yang selalu ia bawa. Puisi, sajak, dan gurindam selalu ia tuliskan.
Sesekali ia mengamati sapi-sapi yang berkeliaran di padang rumput yang luas. Sesekali pula matanya mengintai ke halaman rumah, berharap anak gadis pemilik rumah berdiri di jendela sekadar melempar senyum. Harus diakui kalau gadis yang berdarah India-Menado itu memang cantik. Makanya kami sering memilih tempat itu untuk berkumpul sebelum mendaki. Halaman yang luas juga membuat kami bebas memarkir kendaraan dengan mudah, dan tentu aman.
Di penghujung doa setelah lafal amin dilantunkan, tanpa komando kami mengungkap sebaris kalimat yang seolah menjadi tradisi. “Puncak adalah bonus karena tujuan utama pendakian adalah pulang ke rumah”, begitu kalimatnya. Langkah demi langkah pun kami daki. Cerita konyol hingga nyanyian yang tidak jelas siapa penyanyinya pun disuarakan. Si Kuda memang dikenal sebagai seorang periang. Hanya sekali saya melihatnya tersungkur dan membisu. Waktu itu ayahnya meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya sudah di stadium lanjut. Sangat lama ia terpuruk, sampai akhirnya bertemu dengan gadis mungil si gembala sapi. Seolah mengalami resurjensi, semangatnya yang dulu ia penjarakan kini terbebaskan.
Dua jam berjalam, langkah saya pun mulai goyah. Melihat langkah yang lunglai, Kuda mencoba menyemangati. Dari mulutnya, iya melontarkan sebuah pantun, “Bambu kuning bambu biasa. Gigimu kuning luar biasa” Saya yang letih seperti mendapat asupan enegi baru, saya pun mengejarnya. Dia pun menambah kecepatan hingga tidak sadar menyentuh perdu yang di salah satu tangkainya bergelayut sarang tawon. Tawon yang merasa terganggu lalu menyerang Kuda. Sambil menghalau tawon yang menyerang bagian wajahnya, Kuda berlari hingga tak sadar kakinya tersangkut di sebuah akar pohon. Suara teriakannya begitu keras, dengan cepat saya menyusulnya.
Saya mendapatinya tersandar di sebuah batu dengan cucuran darah yang mengalir wajahnya. Tiga ekor tawon pun masih melekat di pipi kirinya. Dengan cepat saya memperbaiki sandarannya lalu berusaha untuk mengambil kotak P3K yang ada dalam carrier. “Tidak usah Bamb” Katanya sambil mengerang kesakitan. Saya tetap berusaha meraih kotak itu. Namun setelah saya berbalik padanya, saya melihatnya tersenyum dan tak bersuara lagi. Tapak Kuda berlalu dan tak kembali lagi. Dalam bingung saya menahan tangis meski air mata sudah tak terbendung. Satu jam saya masih memeluk kaku tubuhnya hingga ada pendaki lain yang lewat. Kami pun membawanya pulang. Hari itu adalah perjalanan terakhir saya bersama Si Kuda.

 

 

***

Dari sakunya saya mengamankan buku catatan kecilnya. Bersama teman-teman seperjuangan, kami membuatkan prasasti di tempat sandaran terakhirnya. Di prasasti itu saya menorehkan epitaf yang saya kutip dari puisi terakhirnya di buku itu. Prasasti itu bertuliskan, “Kepada perempuanku yang berdiri di balik tirai, aku menunggumu di surga” Tepat di atas namanya.
***
Tidak terasa sungai kecil mengalir dari sudut mata. Dalam sunyi saya mendengar ringkikan kuda sementara tidak ada yang memelihara kuda di sekitar rumah saya. “Damailah kamu di sana sahabatku, hiasilah surgamu untuk perempuanmu”.

 

 

*****

Tulisan ini hanyalah fiksi belaka, sekadar menyelesaikan tugas di Kelas Menulis Kepo. Permainannya adalah kami harus membuat cerita dari 17 kata yang diungkapkan oleh masing-masing peserta. Kata-kata tersebut adalah : Resurjensi, penjara, India, Rumah, hadir, gelayut, langit, menulis, sahabat, uji, pulang, epitaf, gurindam, solilokui, pankreas, sapi, dan minum.

 

Sebelumnya, kami diberi waktu selama 15 menit 15 detik. cerita yang saya hasilkan sepaerti ini: “Perfilman indonesia memasuki masa resurjensi setelah terlepas dari penjara popularitas film-film India. Rumah produksi pun hadir bergelayutan di langit nusantara. Film-film yang menuliskan kisah para sahabat yang diuji dalam medan perang menjadi pupoler. Ada juga kisah tentang petualang yang tidak pulang, dimana sahabatnya mengenang kebersamaan mereka lewat epitaf yang ada di prasasti, sekadar menyanyikan gurindam penghibur lara. Paling tidak itu semua lebih baik dari film-film horor dan sinetron yang menyajikan solilokui pemerannya dan tentu mempengaruhi penontonnya. Ahh bodoh amat, mari melanjutkan makan dengan menikmati coto dari pankreas sapi lalu minum kopi.”

 

Aneh bukan? mana ada pankreas yang dibuat coto. Tapi permainan ini keren, kalian boleh mencobanya.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s