Menikmati Eloknya Jeneponto Di Tama’lulua

Wisata alam, Air Terjun, Tama’lulua, Rumbia, Jeneponto

Advertisements

Ponsel berdering, semakin lama semakin nyaring, itu berarti hari sudah pagi. Sebelum tidur, saya sudah menyetel alarm di pukul 05.00 WITA. Saya pun segera bangun dari sofa tempat lelap semalam dengan sarung hijau sebagai selimut. Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, saya kembali duduk di sofa. Tidak lama berselang, Ibu Aji (Sapaan Ibu yang punya rumah tinggal kami) datang dan membawakan kopi hitam dan sepiring rangginang.

 

Dari balik jendela, matahari belum tampak karena cakrawala diselimuti mega. Suara rinai hujan masih mengalun dari atas seng. Lagu “Busur Hujan” milik Navicula terputar dari ponsel berwarna merah hitam seperti warna club sepak bola favorit pemiliknya. Harap-harap cemas dalam hati, pasalnya pagi ini kami berencana untuk melancong ke sebuah objek wisata yang mungkin kedengaran aneh ketika mendengar nama Jeneponto. Pagi ini kami akan menikmati air terjun di Kecamatan Rumbia.

 

Gerimis berlalu dan sunrise yang dinanti pun tinggal impian. Bersama enam orang rekan, kami memacu sepeda motor menyusuri jalan desa yang tak mulus. Di batas desa, kami singgah di rumah seorang warga yang sudah akrab dengan kami, namanya Daeng Sikki. Rupanya Accang (salah satu rekan saya) sudah janjian dengan Rusli (anak Dg. Sikki). Setelah meneguk teh manis dan mencicipi kue jipang, kami pun pamit. “Kalau hujan di atas, jangan tinggal di bawah karena susah itu dibendung airnya kalau banjir bandang” Begitu pesan Dg. Sikki kepada kami.

 

Perjalanan kami lanjutkan, hanya lima menit dari rumah Dg. Sikki, kami pun tiba di sebuah rumah yang masih kerabat dari Rusli. Setelah memarkir kendaraan di kolong rumah, kami pun berjalan menyusuri jalan setapak. Sejauh mata memandang, di pelupuk mata terlihat hamparan tanaman jagung yang menghijau. Seperti sudah menjadi tradisi, di musim rendengan (penghujan) seperti ini, masyarakat Jeneponto memang memaksimalkan lahannya untuk bertanam jagung. Akan terlihat sebaliknya di musim gadu (sebutan lain untuk kemarau).

Rumbia1
Brjalan menyusuri setapak dengan tanaman jagung yang tumbuh menghijau di kiri dan kanan jalan. enal_18

Berjalan kaki di pagi hari memang meyegarkan. Tidak terasa, sekira satu kilometer kami berjalan, tampaklah air terjun dengan tiga aliran air utamanya. Rupanya tempat yang kami pijak adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati jatuhnya air di antara bukit-bukit batu yang menghijau. Dari jejak pelancong yang datang, seolah memberi isyarat bahwa tempat ini telah ramai dikunjungi.

Rumbia2
Menikmati suasana pagi sambil memandangi air terjun yang membentuk tiga pilar utama aliran airnya. enal_18
Rumbia3
Bukit di depan air terjun yang merupakan lokasi favorit bagi para pelancong untuk mengabadikan momen. enal_18

Setelah mengabadikan momen, saya mendapati seorang kakek dengan parang di tangannya. Dia duduk sambil menebas-nebaskan parangnya pada rumput liar yang ada di sekitar tanamannya. Saya pun mendekati lalu duduk di dekatnya. Sementara itu, saya mengamati kemana arah rekan saya menuju agar mudah menyusulnya nanti. Pembicaraan kami yang tidak terlalu lancar meskipun terlihat akrab, maklum saya menggunakan Bahasa Indonesia dan beliau tetap dengan bahasanya, Bahasa Makassar. Yang saya tangkap dari percakapan kami, bahwa Daeng Juma’ sangat menyayangkan tanaman jangungnya diinjak-injak oleh pegunjung yang datang, terutama anak sekolah, katanya. Tempat ini mulai ramai dikunjungi setelah diresmikan bupati tahun lalu, mulai dari Jeneponto, Bantaeng, bahkan mahasiswa-mahasiswa dari Makassar pun sudah banyak yang datang, lanjut Bapaknya bercerita.

Rumbia4
Pertanaman jagung yang rusak akibat pengunjung yang kurang bertanggung jawab. enal_18

Saya pun menyusul ke arah rekan saya menuju air terjun. Mengitari paruh relung yang mengapit lembah dan sungai. Angin lembah membelai daun-daun jagung menambah sorak pagi hari. Tampak juga beberapa pohon liberika yang lebih akrab disebut kopi lompo di Jeneponto (karena memang ukurannya lebih besar dibanding robusta dan arabika), seperti tak terurus atau mungkin memang belum pulih usai kemarau panjang. Tidak jauh berbeda dengan tanaman lada yang ada.

Rumbia6
Semilir angin lembah yang berhembus membelai daun-daun jagung. enal_18
Rumbia5
Beberapa pohon liberika yang ada di antara pertanaman jagung. enal_18

Di ujung setapak sebelum penurunan menuju air terjun, telah tampak beberapa pondok-pondok yang beratapkan terpal. Dari bentuk mejanya, bisa dipastikan pondok itu adalah lapak-lapak warga yang menyediakan makanan dan minuman ringan bagi wisatawan yang datang. Menurut pengakuan salah seorang teman dari Komunitas Pajappa yang pernah ke tempat ini, bahwa banyak penjual yang menjajakan gogos (nasi ketan yang diberi santan lalu dibalut daun pisang kemudian dipanggang) di sini. Sepertinya kedatangan kami terlalu pagi sehingga lapaknya masih kosong.

Rumbia7
Lapak sederhana beratapkan terpal milik warga untuk menjajakan makanan dan minuman ringan masih tampak kosong. enal_18

Gemuruh air semakin jelas. Semakin diresapi, suara itu kian menggoda untuk mengunjunginya. Untuk mencapai air terjun yang pernah dikunjungi Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, tanggal 26 Agustus 2015 lalu (dilangsir dari www.jenepontokab.go.id) ini perlu kehati-hatian. Dengan kemiringan 45° dan semakin dekat ke sumber air semakin licin karena tanahnya yang basah oleh bias air yang jatuh, menuntut konsentrasi saat berjalan.

Rumbia8
Jalur menuju air terjun yang membutuhkan ekstra kehati-hatian. enal_18

Sesampainya di wajah yang dikenal umum dengan nama “Air Terjun Rumbia” ini, saya urungkan niat untuk berbasah-basah. Selain jelaga di atas langit yang membayangi, airnya juga kelihatan keruh. Bisa jadi di bagian hulu, terjadi hujan. Saya kemudian mengamati setiap ruang jangkauan indera dua bola mata. Hemat saya menuturkan bahwa perlu ekstra waspada berada di sekitaran aliran air. Subjektivitas saya mengatakan bahwa dinding-dinding yang mengapit sungai terlihat rapuh dan rawan longsor.

Rumbia9
Rupa air terjun Tama’lulua dari dekat, dinding yang terlihat kurang solid. enal_18

Berjalan sedikit ke atas, sebelah kanan sisi kedatangan, melewati rumpun bambu. Terlihat ada aliran air yang membentuk air terjun kecil dan bermuara ke sungai menyatu dengan aliran utama. Saya melihat sampah-sampah yang dari jenisnya merupakan sampah rumah tangga. Sekadar masukan kiranya tempat ini akan dikelola dengan baik, sebaiknya hal ini juga perlu perhatian khusus dari pengelolanya kelak.

Rumbia10
Sisi lain air terjun Tama’lulua dengan aliran yang membawa sampah. enal_18

Usai menyantap nasi goreng yang kami bawa sebagai bekal, kami pun bergegas untuk pulang. Mendaki lalu membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel di kaki pada sebuah pancuran yang tidak jauh dari lapak-lapak tadi. Menyusuri jalan utama yang sengaja diperlebar, seperti ada upaya serius untuk pengembangan kawasan wisata. Di ujung jalan tanah yang dibatasi oleh jembatan ada beberapa anak muda, salah satu dari mereka memegang palu. Rupanya mereka baru saja memasang baliho penanda yang bertuliskan “Air Terjun Tama’lulua”.

Rumbia11
Baliho penanda dan pengarah objek wisata alam, air terjun Tama’lulua. enal_18

Beruntung, kami ditemani seorang pemda (pemuda daerah), sehingga kami lebih mudah berbaur dengan mereka. Kepada pemegang palu saya bertanya, “Apa arti Tama’lulua?” Dia menjawab kalau meraka tidak tahu dan hanya ditugaskan untuk memasang baliho tadi. Di sisi yang lain saya melihat papan bertuliskan tempat parkir, sepertinya mereka juga yang mengelola parkiran pengunjung.

 

Pada seorang perempuan paruh baya yang melintas, salah seorang dari mereka meneruskan pertanyaan saya. Sambil berlalu, Ibu itu menjawab, “Itu tempatnya orang selingkuh atau yang jelek sifatnya didorong dari atas.” Sejenak terdiam lalu kami pamit menuju tempat kendaraan kami terparkir.

 

Di rumah tempat kami menitipkan motor, saya pun menanyakan kembali arti nama air terjun tersebut. Jawab nenek yang sedang memangku cucunya itu singkat, “karena itu air na a’lulu ki.” Saya cuma menggaruk kepala bagian belakang.

 

Dengan penuh rasa penasaran, saya meninggalkan Rumbia bersama tembang Ebiet G. Ade -Kugandeng Tangan GaibMu. “Gemuruh yang aku dengar, adakah suaraMu? Gemersik daun bergeser aku memanggilMu. Gema yang berputar-putar mengurung mencekam. Aku merasa terpencil sendirian.”

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Menikmati Eloknya Jeneponto Di Tama’lulua”

  1. Kerennya air terjunnya kak Enal 😀 Nda sangka di Jeneponto ada tempat indah begini, saya kira sanging garam sama tempat tandus ji di sana hehehe soalnya klo melintas ke Bulukumba, ituji di liat 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s