Belajar Kopi Dari Lompobattang Ke Sesean

Kopi, Kopi Arabika

Advertisements

Tampak matahari pagi ramah menyambut kami. Udara dingin yang selalu akrab di dataran tinggi bersama aroma embun yang membasahi masih terasa. Rasa capek bercampur kantuk serasa tidak ingkar meskipun sudah mandi. Segelas arabika di gelas bening dan sepotong roti pia menemani sarapan pagi kami.


Meninggalkan kota Rantepao, kami beranjak menuju arah Pasar Bolu yang terletak di jalan poros Rantepao – Palopo. Sambil menelusuri tempat kunjungan yang kami belum tahu dimana, jemari tiada henti untuk menekan simbol telepon di ponsel. Setelah tersambung, harapan mulai nyata karena lokasi yang dituju sudah didapatkan.

 
Mengikuti marka yang ada di simpang jalan, akhirnya kami tiba di kantor Toarco Jaya, Rantepao. Dengan dua lembar surat pengantar, saya pun masuk dan menyatakan keinginan kunjungan kami. Bersama Zainal (hanya beda “i” dan “e” dengan nama saya) dan Pak Mansyur, kami disilakan untuk masuk ke ruang tunggu. Di salah satu dinding ruangan itu tampak poster yang bergambar pegunungan dengan kabut dan awan yang menyelimuti. Tak lama berselang, datang sosok yang perawakannya sudah tidak muda lagi. Sejenak berpikir, sepertinya saya pernah melihat sosok tersebut. Rupanya yang menyambut kami adalah sosok yang ada di poster kator Toarco Jaya, Makassar . Pak Sardjang yang menyambut saya waktu itu menyebut nama Pak Jabir. Dalam hati berkata, sepertinya sosok yang berperawakan jepang dengan rambut cepak dominan warna putih di depan kami ini adalah Pak Jabir.

 
Beliau langsung menyalami kami namun tanpa menyebutkan nama. Di tangan kirinya terdapat gunting pangkas. Sambil memaninkan guntingnya, sosok tersebut membuka pembicaraan mengenai maksud dan tujuan kami berkunjung ke kantor mereka. Secara singkat, saya pun menjelaskan maksud kedatangan kami. Beliau sempat kaget ketika saya menyebut asal kami dari Jeneponto karena selama ini yang dikenal sebagai penghasil kopi di wilayah selatan Sulawesi adalah Bantaeng dan Malakaji, Gowa. Masih dengan gunting yang berpindah dari kiri ke kanan, kanan ke kiri tangannya secara bergantian, beliau berdiri dan berkata, “Kalau begitu, ayo kita ke kebun di Padamaran.”

 
Sosok bapak tua yang belum saya tahu betul namanya tersebut menaiki kendaraan operasional perusahaannya. Ikut naik di mobil dobel kabin tersebut seorang Jepang dan supirnya. Kami pun mengikuti mobil tersebut dari belakang dan memang kami juga belum tahu dimana lokasi kebunnya. Kendaraan melaju manuju kota Rantepao lalu menuju arah Makale. Di simpangan Tugu Tedong (Tugu Kerbau), kendaraan belok ke arah yang saya tahu kalau itu jalan menuju Kete Kesu, salah satu objek wisata rumah adat tertua di Toraja. Dari informasi sebelumnya, jarak tempuh ke Padamaran adalah sekira 25 km dari kota Rantepao. Tak ada petunjuk jarak yang bisa saya amati tapi memang jaraknya jauh. Selepas aspal, kami pun menyimpang ke arah kiri dengan jalan yang berbeton. Jalan sempit dan tak mulus adalah tantangan tersendiri. Tanjakan dan jurang yang terjal di sisi kiri menambah keseruan di perjalanan. Tak jarang, kawan yang duduk di jok belakang menyerukan “Kencang ombak, Kapten!”

 
Kendaraan memasuki sebuah kawan dengan pagar berwarna biru. Tampak sosok lelaki bertubuh kekar dengann kulit gelap berpakaian lengkap yang menandakan diri sebagai petugas keanaman memberi hormat. Belakangan kami tahu kalau namanya, Yacob Lamma. Mungkin seperti itu cara rutinnya dalam menjamu tamu. Kendaraan pun berhenti di sebuah bangunan yang berbentuk baruga. Beberapa orang menyambut kami dengan ramah.

 
Kami pun disilakan duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja besar berbentuk segi empat. Sebagai bentuk seremonial, saya memulai pembicaraan dengan menyatakan maksud dan tujuan kunjungan kami. Pak mansyur selaku perwakilan petani kopi dari Ujung Bulu pun menyampaikan selayang pandang tujuan kunjungan. Kopi memang mampu mencairkan suasana, kehadirannya membuat pebicaraan mengalir. Terjadilah tukar informasi mengenai kopi, mulai dari budidaya hingga dinamika pasarnya.

 

 

IMG_2626
Suasana di baruga dengan sajian kopi sebagai pencair suasana.

Tahun 1992, kisaran tahun 90-an, dicatat bahwa Malakaji pernah memasukkan kopi ke Toraja, kata bapak yang menyambut kami dan belum saya tahu persis namanya. Sementara menurut runutan cerita Pak Mansyur selaku ketua APKI (Asosiasi Petani Kopi) Rumbia bahwa tahun 80-an (diperkirakan tahun 1984), kopi arabika mulai ditanam di Rumbia. Rupanya, kopi Malakaji yang dikenal adalah kopi yang tidak sepenuhnya dibudidayakan di Malakaji, melainkan didatangkan dari Jeneponto, Bantaeng hingga Bulukumba.

 
Pak Mansyur yang juga kepala desa Ujung Bulu mengungkapkan bahwa APKI dibetuk atas keinginan bersama dengan masyarakat sebagai upaya untuk menekan aktivitas ijon atau tengkulak. Para pedagang dengan modal besar datang ke daerah-daerah penghasil kopi. Para pedagang itu memiliki stratergi yang jitu. Di awal panen, ketika kopi masih hijau namun sudah tua dihargai dengan harga tertinggi dan turun sejalan dengan kematangan buah. Harga tersendah pada kopi yang panen cherry. Kondisi ini membuat petani seolah tidak berdaya karena akan berujung pada nominal pendapatan.

 
Pembicaraan kami mengalir begitu saja tanpa ada alur yang mengarahkan, sepertinya masih sama-sama membangun persepsi. Pak De, sapaan akrab untuk Pak Desa, melanjutkan ceritanya. Di awal penanaman arabika tidak mulus begitu saja. Ketika Ibu dari Pak Mansyur menanyakan kepada suaminya, “Mengapa menanam kopi, mengapa tidak menanam padi?” Dengan dingin Bapaknya Pak Mansyur menjawab, “Lebih baik menanam kopi karena kita tidak bisa menanam padi dengan kondisi lahan seperti ini. Nanti tinggal beli beras dari hasil penjualan kopi” Kenang Pak De.

 
Bapak tua yang belum memperkenalkan dirinya itu pun kembali angkat bicara. Katanya, di tahun 80-an, sekira tahun 1986, Pak Jusuf Kalla (JK) pernah mengikuti temu usaha kopi di Makale. Pak JK yang masih menjabat sebagai kadin waktu itu menyebutkan bahwa Toraja sebagai pusat pembeli kopi arabika di Sulawesi Selatan. Toarco sendiri mulai membeli kopi dari luar Toraja sejak tahun 1979 hingga tahun 1991. Setelah tahun 1992, kopi yang digunakan Toarco adalah buah kopi yang pohonnya tumbuh di Toraja, baik dari kebun sendiri maupun dari petani mitra yang didampingi.

 
Beliau menambahkan bahwa Toarco memulai dengan harga ekspor tertinggi di Indonesia. Di jepang, kopi Toraja malah menjadi kopi termahal kedua. Penekanannya pada kualitas. Kualitas kopi yang bagus adalah senjata pertama untuk memperlihatkan biji kopi tanpa harus berbohong, tegas bapak yang bermata sipit itu.

 
Pembicaraan pun mulai merambah ke aspek ekonomi kopi. Menurut narasumber yang belum saya tahu namanya itu, harga biji kopi di New York sekarang tidak lebih dari $3,5. Sejauh ini, ekspor biji mentah (green bean) tertinggi yang dipegang oleh Toarco adalah $7. Sampai pada masa panen sebelumnya, harga beli Toarco dari petani adalah Rp 15.000,00 per kg kopi peco kering sehari. Kopi peco adalah kopi yang yang baru dilakukan pengupasan kulit cherry hingga pulp-nya.

 
Narasumber pun membandingkan harga kopi yang ada di Ujung Bulu dan sekitarnya. Harga kopi peco menurut Daeng Misi, salah satu petani yang ikut studi banding, berada pada kisaran RP 20.000,00 per liter. Untuk mendapatkan 1 kg kopi kering, diperlukan 3 liter kopi peco. Untuk membeli 1 kg kopi kering digunakan biaya sebesar RP 60.000,00 atau setara dengan $4,5. Harga semahal itu sudah tidak layak untuk ekspor. Mau tidak mau kopi harus dijual dalam bentuk barang jadi (kopi bubuk atau sudah sangrai). Lebih bagus lagi kalau penjualan melalui coffee shop, imbuhnya.

 
Sembari berdiri, bapak yang masih saja belum saya ketahui namanya itu berkata “Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan ke kebun, kalian ikut di mobil kami saja.” Beliau melanjutkan cerita, “satu lagi, jangan menjanjikan harga ke petani ketika sebuah kopi menang atas kontes. Itu hanya harga bonus yang sifatnya sementara, bukan harga normal yang bisa berlaku sepanjang tahun. Jika itu dilakukan maka kalian sendiri yang merusak pasar yang kalian bangun.”

 
Sambil berjalan menuju kendaraan, saya pun memberanikan diri bertanya, “Bapak, Pak Jabir ya?” Dengan spontan beliau menjawab, “Tahu dari mana nama saya?” “Waktu antar surat ke kantor Toarco di makassar, saya diberitahu kalau nanti di kebun akan didampingi sama Pak Jabir, sambil ditunjukkan posternya bapak.” Jawab saya. Beliau Cuma tertawa sambil mengarahkan kami.

 
Rekan-rekan setim saya lebih memilih untuk mengisi kabin belakang mobil, mau tidak mau saya harus mengisi jok tengah bersama Pak Jabir. Memanfaatkan waktu dalam kendaraan yang melaju pelan saya mencoba bertanya tentang kebun yang mereka kelola. Pak Jabir pun menjawabnya dengan santai setiap pertanyaan dari saya. Beliau mengungkapkan bawha luas pertanaman kopi di Padamaran mencapai 518 Ha, tetapi yang terisi kopi danya sekitar 300 Ha, itu pun semuanya tidak optimal. Harus diakui bahwa kalau secara teori, tanah di Padamaran masuk kelas IV (empat). Kedalaman solum yang dangkal dan curah hujan mencapai 3200 mm per tahun adalah masalah meskipun berada pada ketinggian potensial yaitu 1200 – 1250 mdpl. Belum lagi genangan yang lama, mencapai tujuh hari, sementara untuk kopi maksimal dua hari. Sambil menunjuk pohon-pohon pelindung yang mati, Pak Jabir menegaskan bahwa pohon-pohon itu tidak mati karena kekeringan melainkan busuk akar. Sejalan dengan apa yang disajikan dalam data kesesuaian lahan untuk kopi dari http://bbsdlp.litbang.pertanian.go.id bahwa curah hujan optimum untuk kopi arabika antara 1.200 – 3.000 mm per tahun. Dikutip dari http://www.coffeegayo.co.id yang mengatakan bahwa curah hujan yang terlalu tinggi akan dapat mengganggu penyerbukan dan seringkali menyebabkan terjadinya keguguran buah muda.

 
Saya akhirnya mengajukan pertanyaan, “Bagaimana Toarco memenuhi kebutuhan pasar ekspornya?” Dengan tersenyum Pak Jabir menjawab, “Dari total 600 ton kopi per tahun yang diekspor, hanya 10 – 15% yang berasal dari kebun Toarco, selebihnya berasal dari petani kopi yang ada di Toraja.” Kami pun tiba di sebuah kawasan dengan pertumbuhan kopi yang bagus.

 

 

cats
Kondisi umum pertanaman kopi di Padamaran milik Toarco Jaya.

Secara alami kami membentuk lingkaran kecil pada pohon kopi yang telah diberi pemangkasan berat. Pembicaraan seputar budidaya tanaman kopi termasuk alasan pohon yang kami kelilingi itu menjadi perbincangan yang menarik. Beberapa varietas yang dikembangkan di sekitar posisi kami pun diperlihatkan. Salah satunya adalah PM 88 (PM diambil dari Padamaran) yang dikembangkan sejak tahun 1988. Kopi ini tidak disebar ke petani karena rasanya yang kurang enak. Ada juga jenis KT (Catimor) yang katanya kurang bagus untuk petani yang cenderung malas memupuk. Jenis USDA bagus, hanya saja buahnya gampang gugur. Yang rekomendasi dan umumnya dibudidayakan oleh petani adalah S Lini yaitu S795, kata Pak Jabir.

 

 

IMG_2677
Suasana belajar di kebun kopi Padamaran milik Toarco Jaya.

Inti dari kuliah lapang kami siang itu adalah jenis kopi apa pun yang dibudidayakan, jangan biarkan ada buah yang tinggal setelah panen. Hal ini dilakukan karena dua alasan penting. Pertama, agar tanaman cepat pulih setelah energi terkuras pada fase pembuahan. Kedua, untuk memotong siklus hama bubuk buah.

 
Selanjutnya kami mengelilingi kawasan pegolahan kopi. Saya hanya melihat bebepa teknisi yang sedang memanitenance alat. Saat ini tidak ada aktivitas karena memang musim panen telah berlalu. Kami pun kembali ke baruga untuk menikmati semangkuk mie yang telah disediakan. Setelah bersantap siang bersama dan diselingi oleh pembicaraan seputar varietas arabika uang umum dikembangkan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, kami pun pamit untuk pulang. Perjalanan panjang dari kawasan Lompobattang hingga Sesean tidak sia-sia. Banyak pelajaran dan pengalaman baru yang kami dapatkan. Saatnya kita pulang membangun desa dari kopi.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s