Lima Hal yang Harus Diperhatikan dalam Berkebun

Urban Farming, Kebun Kota, Tips Berkebun

Advertisements

Aktivitas berkebun di kota mulai banyak digandrungi sejak empat tahun terakhir. Beragam isu yang diangkat terkait dengan perkebunan kota (urban farming), di antaranya penghijauan, pengolahan sampah, dan pangan organik. Suatu hal yang membanggakan jika seseorang mampu menghasilkan produk tanaman, entah buah atau sayur dari yang ditanamnya. Sedikit membayangkan, mungkin perasaannya sama dengan manusia pertaman yang melakukan aktivitas bercocok tanam setelah budaya berpindah-pindah mulai hilang.

 
Perubahan gaya hidup juga turut andil dalam menjamurnya kegiatan berkebun dalam kota. Banyak lahan-lahan yang dulunya terbengkalai kini dimanfaatkan sebagai kebun. Ada juga yang cukup memanfaatkan sedikit ruang di halaman rumah mereka. Bagi yang tidak memiliki halaman yang cukup luas pun tidak kalah kreatif, mereka memanfaatkan dinding lalu bertanam secara bertingkat. Bercocok tanam dengan menggunakan media air (hidroponik) sedang diminati belakangan ini.

 
Bagi mereka yang sudah mahir atau berpengalaman di dunia pertanian, mungkin tidak jadi masalah. Ada juga orang yang belum memulai karena mereka merasa tidak tahu dan takut gagal. Maka dari itu, lewat tulisan ini, saya akan menyajikan lima (5) hal yang harus diperhatikan dalam berkebun.

 
Benih
Saya bisa mengatakan bahwa dengan menggunakan benih yang berkualitas dalam bercocok tanam, kita sudah berhasil 60%. Benih yang berkualitas akan menghasilkan tanaman yang baik pula. Dalam memilih benih, sesuaikan dengan kondisi lingkungan tempat menanamnya. Jangan memilih benih dataran tinggi jika ingin ditanam di dataran rendah karena hasilnya tidak optimal.

 
Perhatikan label benihnya. Benih yang baik adalah benih yang memiliki viabilitas dan vigor yang tinggi. Viabilitas diartikan sebagai kekuatan tumbuh dan vigor diartikan sebagai ketegaran tumbuh. Jadi, benih juga harus kuat dan tegar. Perhatikan juga tanggal kadaluarsanya karena benih yang telah mati label, daya tumbuhnya menurun.

 
Media Tanam
Media tanam adalah wadah tumbuh kembang tanaman untuk berproduksi. Media tanam yang umum kita kenal adalah tanah karena sebahagian besar tumbuhan memang tumbuh di tanah. Namun demikian, kita juga bisa memanfaatkan pasir, kompos, pupuk kandang, kerikil, arang, sekam bakar, serbuk sabut kelapa (cocopeat), zeolit, atau bahkan pecahan bata merah. Media ini bisa digunakan secara sendiri-sendiri maupun dicampur dengan bahan lain. Tergantung apa yang ingin ditanam dan menggunakan sistem apa (konvensional atau hidroponik).

 

Intinya bahwa, media tanam yang baik itu porous (banyak pori), kaya bahan organik, aerase (tata udara) dan drainase (tata air) bagus. Penggunaan media tanam standar berupa campuran tanah lapisan atas (top soil), pasir dan kompos dengan perbandingan volume sama sudah mewakili media tanam yang baik. Dengan memahami karakter tanaman yang akan di tanam maka dapat memudahkan dalam membuat media yang sesuai.

 
Nutrisi Tanaman
Layaknya makhluk hidup lainnya, tumbuhan juga butuh makanan yang bergizi. Pupuk adalah sumber nutrisi bagi tanaman. Kandungan hara dalam pupuk akan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Secara umum, tanaman memelukan 16 unsur hara esensial yang terdiri dari unsur hara makro dan mikro. Dikatakan makro karena dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar dan mikro dalam jumlah yang lebih sedikit. Unsur hara makro terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan sulfur. Unsur hara mikro terdiri dari besi, mangan, boron, molibdenum, tembaga, seng dan khlor.

 
Sejauh ini, hanya nutrisi hidroponik lah yang paling lengkap kandungan haranya karena komposisinya ditakar secara persisi. Pupuk kandang dan kompos juga memiliki kandungan hara yang lengkap namun tidak selengkap nutrisi hidroponik. Namun demikian, penggunaan kompos dan atau pupuk kandang secara kontinu akan memberi dampak yang baik pada tanah dan tanaman.

 
Penempatan Tanaman
Selain air yang memang merupakan bahan baku fotosintesis, tanaman juga memerlukan cahaya dalam proses pembuatan makanan di daun. Hanya saja, tidak semua tanaman memerlukan cahaya yang sama. Ada tanaman yang memang menyukai cahaya langsung (umumnya sayuran), ada yang teduh (beberapa tanaman hias), dan ada juga yang netral (umumnya nenas-nenasan). Oleh karena itu, meskipun kita telah menggunakan benih yang unggul, media yang sesuai, dan kaya nutrisi, jika tidak ditanam pada tempat yang sesuai pun akan menghasilkan tanaman yang kurang baik.

 
Disamping itu, jarak antar tanaman pun perlu dipertimbangkan. Jika tanaman ditanam dengan rapat maka akan memicu persaingan antar tanaman itu sendiri, baik ruang, unsur hara, mau pun cahaya. Sebaliknya, jika ditanam terlalu renggang, selain mengurangi populasi maksimal, juga akan memicu pertumbuhan gulma yang unjung-ujungnya juga bersaing dengan tanaman pokok.

 
Kepekaan
Ini mungkin agak aneh. Saya sengaja memasukkannya ke dalam poin terakhir karena ini menyangkut pekebunnya. Saya teringat dengan seorang peneliti bernama Luther Burbank dari Santa Rosa, California, Amerika Serikat. Dia melakukan eksperimen bertahun-tahun untuk mengembangkan varietas kaktus tanpa duri. Cara yang dilakukannya pun cukup aneh. Dengan penuh kasih sayang, dia berbicara dengan tanaman-tanamannya seperti ini, “Kamu tidak perlu takut pada apa pun. Juga tidak memerlukan duri untuk mempertahankan diri. Akulah yang akan melindungimu.”

 
Tanaman juga butuh kasih dan sayang layaknya manusia. Memahaminya tentu dengan cara yang berbeda karena tanaman tidak berbicara. Tapi kita bisa melihat dari gejala fisik yang diperlihatkannya. Bagaimana ia jika kekuranga atau kelebihan hara. Bagaimana ia jika ada hama dan atau penyakit yang menyerang. Bagaimana ia jika kekurangan atau kelebihan cahaya atau air. Semua itu bisa kita pahami lewat kepekaan kita terhadap kondisi tanaman yang kita tanam.

 

Berkebun mengajarkan banyak hal. Berkebun bisa melatih kedisiplinan kita melalui waktu menyiran, memupuk dan menyiangi secara kontinu. Berkebun bisa melatih kesabaran melalui perawatan tanaman mulai dari menyemai benih hingga menikmati panenannya. Berkebun juga bisa melatih keihklasan terutama jika tanaman yang kita tanam dimakan hama atau bahkan dipanen lebih dulu oleh orang lain. Mari menanam, apa pun alasannya.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Lima Hal yang Harus Diperhatikan dalam Berkebun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s