Saya Menyesal Menonton Point Break

Film, Point Break, Traveling

Advertisements
Point Break ( 2015 )
Poster Film Point Break. (Gambar dari Google)

Saya menyesal Menonton Point Break. Film ini hanya film remake sejak peluncuran pertamanya di tahun 1991. Sepertinya sang sutradara mampu membaca peluang pasar dimana hampir di seluruh belahan bumi, manusia sedang menggilai dunia traveling. Tidak ada perubahan terhadap ide cerita yang mengangkat kisah agen FBI dalam menuntaskan kasus perampokan bank dengan motif yang aneh. Film ini nyaris tidak menyajikan drama, tapi lewat aksi dan pemandangan yang menakjubkan akan membuat kita menjadi “rusmen”. Rusmen adalah istilah baru di lingkup teman-teman saya yang merupakan singkatan dari “rusak mental”. Ada-ada saja.

Saya menyesal menonton Point Break. Harusnya saya menontonnya sejak peluncuran awalnya, tapi apa daya jangankan bioskop, televisi pun masih barang mewah di desa kelahiran saya waktu itu. Tidak mungkin di umur saya sekarang ini mampu mengikuti petualangan-petualangan Bodhi dan Utah. Saya tidak lagi berada di umur 23 – 25 tahun yang mampu memaksimalkan tenaganya.

Saya menyesal menonton Point Break. Mungkin bukan saya saja yang memimpikan untuk menjejaki delapan negara yang ditampilkan dalam film tersebut. Kemampuan film-film dengan menampilkan keindahan bentang alam memang ampuh menyihir penontonnya. Bagi para traveler, tentu tidak diragukan lagi keinginannya untuk memikat tempat-tempat tersebut. Siapa yang tidak ingin duduk santai sambil memandang pegunungan Alpen dari padang yang berbunga, seperti yang ditunjukkan Utah dan Samsara. Semakin sulit rasanya untuk menabung jika seperti ini.

Saya menyesal menonton Point Break. Aktivitas-aktivitas yang ekstrim dalam film ini membuat kaki bergetar dan lubang pantat menjadi ciut. Adegan yang memicu adrenalin seperti high speed motorcross, wingsuit, surfing di ombak yang tingginya mencapai 10 meter, snowboarding, dan panjat tebing tanpa pengaman akan membuat penasaran dan mungkin saja tantangan baru. Saya takut akan berkembang aktivitas-aktivitas serupa di lingkungan terbuka di mana saya sering berkegiatan. Jika aktivitas-aktivitas seperti itu berkembang, tentulah lahir komunitas-komunitas yang mengatasnamakan diri sebagai ini dan itu lah. Padahal siapa saja bisa melakukan hal serupa.

Saya menyesal menonton Point Break. Mungkin lebih tepatnya saya malu menonton film ini. Apa yang saya sudah lakukan sebagai bagian dari penikmat alam? Apa yang sudah saya berikan kepada alam? Tidak mungkin rasanya untuk mengembalikan yang banyak dari apa yang telah saya ambil dari alam. Kalau pun saya telah lakukan penanaman pohon, rupanya menurut Samsara, itu adalah aktivitas yang paling sederhana bagi seorang pecinta alam. Nada SMS dari ponsel melantunkan lagu milik Nugie dan Katon Bagaskara dengan lirik seperti ini “Jika sang bumi bisa bicara, kutahu dia akan bertanya. Sampai kapankah kau hanya terima, tanpa pernah memberi.” Yang saya dapati hanyalah sampah yang berserakan dan pohon yang habis untuk dijadikan api unggun.

Akhirnya, saya bisa mengatakan, saya tidak menyesal menonton Point Break. Saya tidak sepakat kalau kita tidak ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami oleh rekan setim. Dalam sebuah tim, kita tidak hanya bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri tapi bagaimana setiap anggota tim mengemban tanggung jawab yang sama. Saya juga tidak ingin mempertuhankan Ozaki dengan harus menuntaskan misi “Ozaki 8”. Alam dan segala fenomenanya bukanlah sesuatu yang harus ditaklukkan. Sebagaimana dijelaskan dalam Qur’an surah Qaf ayat 7 – 8, “Dan Kami hamparkan bumi itu, dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah di pandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).”

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

7 thoughts on “Saya Menyesal Menonton Point Break”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s