Momen yang Dirindukan di Kemarau

Kemarau, Eksotisme kekeringan

Advertisements

Saya teringat saat berada di Bone, dasari kedua Oktober lalu. Awalnya kami berencana untuk menginap di Desa Bana dan hanya numpang lewat di Desa Pammussureng. Desa Bana dan Pammussureng merupakan dua desa yang masuk dalam administrasi Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Saat kami dalam perjalanan dari Kecamatan Kajuara, kami mendapat pesan singkat yang menyarankan kami untuk tidak menginap di Bana. Alasannya, kondisi air di Bana sudah langka. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati malam di Pammussureng yang persediaan airnya masih memungkinkan untuk melangsungkan aktivitas harian secara normal.

Dalam kurun waktu Juli hingga November tahun ini (2015), memang terjadi banyak kelangkaan air di berbagai daerah. Mulai dari desa yang sering saya kunjungi, seperti di Gowa, Jeneponto, Bone dan Maros. Bahkan teman saya dari kampung, di Palopo juga mengabarkan bahwa tanaman kakaonya sudah banyak yang mulai mengering akibat kekeringan.

pld
Persawahan di Pa’ladingan yang tidak diolah saat kemarau.

Musim kemarau sering diidentikkan dengan paceklik, puso, dan tidak produktif. Banyak lahan-lahan yang dibiarkan kosong dan tidak diolah karena minim air. Ternak-ternak pun hanya menyantap jerami kering. Di beberapa tempat, orang-orang rela mengangkut air untuk memenuhi kebutuhan dapur saja. Untuk mandi tidak etis untuk ditanyakan.

DSC0106211
Petani sedang mengangkut jerami untuk persediaan pakan.

Di balik itu semua, musim kemarau tidak melulu tentang kekeringan. Bagaimana dengan bentang alam nusa tenggara yang eksotik dengan kondisi kering? Kondisi itu justru membuatnya menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan domestik mau pun mancanegara. Kondisi iklim Flores justru mejadi rumah mewah bagi komodo. Saya sejenak membayangkan, bagaimana jadinya jika komodo hidup di hutan hujan tropis?

1445750902718
Padar yang eksotik di kemarau.

Musim kemarau adalah waktu yang terbaik untuk menambak kristal asin pelengkap dapur ini. Saat melintasi Kecamatan Batang, Jeneponto di musim kemarau, kita akan melihat hamparan putih di dalam petakan-petakan tambak. Ada juga yang sudah ditumpuk berbukit-bukit di pematang tambak. Di kiri kanan jalan pun tampak deretan karung-karung yang berisi garam tentunya.

DSC018891
Tambak garam di Jeneponto.

Pada penghujung November tahun ini, sosial media banyak menceritakan taman bunga amarillis di Jogjakarta. Tanaman dwi musim ini akan memunculkan bunga cantik berwarna orange yang diikuti oleh daun baru pada awal musim penghujan. Selama musim penghujan, tanaman ini akan melangsungkan fase vegetatif dengan membentuk daun dan umbi anakan sebanyak mungkin. Dengan jumlah daun yang banyak maka akan memperluas bidang fotosintesis sehingga membentuk umbi yang besar pula. Memasuki musim kemarau, daun berguguran dan menyisakan umbi dalam tanah. Di akhir kemarau, biasanya setelah hujan pertama, bunga pun bersemi. Mekarnya bunga amarilis bisa menjadi indikator musim hujan telah tiba.

Taman-bunga-amaryllisTaman Bunga Amarillys yang indah di Pathuk Gunung Kidul
Taman bunga amarillis di Pathuk, Gunung Kidul. (Gambar dari Google)

Tidak hanya amarilis, pemandangan serupa diperlihatkan oleh pohon flamboyan. Semerbak bunga orange dari flamboyan hanya bisa dinikmati saat musim kemarau. Demikian halnya dengan violet dari bungur.

grg
Semerbak bunga flamboyan di musim kemarau.

 

Kembali ke Bana, saat kami melakukan tinjauan ke pertanaman bawang merah. Ada pemandangan yang begitu indah untuk dipandang. Sawah yang sebelumnya hijau berganti dengan warna cokelat yang kering. Tidak seperti biasanya pada kuning padi yang hendak dipanen. Yang nampak hanya bulir-bulir hampa dan helai daun yang kaku dan kering. Secara ekonomi memang tidak menguntungkan bagi petani pemilik sawah tersebut. Tapi bagi saya, yang datang dan mendapati pemandangan seperti itu, justru menjadi momen yang rugi untuk dilewatkan begitu saja.

DSC00550_wonder
Persawahan di Desa Bana yang mengalami paceklik.

Musim kemarau tidak selamanya mendatangkan sesuatu yang buruk. Pada musim kemarau, manusia lebih mudah untuk melaksanakan berbagai aktivitas, terutama nelayan. Pada musim kemarau, ganguan transportasi laut cenderung lebih sedikit. Kondisi ini lebih baik untuk Indonesia yang masih mengandalkan laut sebagai jalur angkutan. Dan yang paling sederhana, cucian cepat kering.

DSC_091711
Senja di Bontolebang.

Musim kemarau telah berlalu, selamat datang hujan. Musim kering kelak dirindukan kala penghujan kian menggenang. Begitulah hidup terus bergulir.

sopp
Pemandangan sungai di Galung Langi’e, Soppeng.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s