Pa’ladingan Panen 12 Ton per Hektar Bawang Merah

Panen Perdana, Bawang Merah, Paladingan

Advertisements

Selasa (1/12/2015) siang, suhu udara menjadi panas dan menggerahkan, langit tampak mendung, pertanda hujan akan turun. Benar saja, pukul 14.00 waktu setempat, tercium aroma tanah basah. Dari dalam ruangan kelas 6 (enam), Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pa’ladingan, saya melihat rintik demi rintik hujan jatuh dari bibir seng. Hari itu masih berlangsung pelatihan peningkatan kompetensi guru sekolah dasar untuk pengajaran bidang studi matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Terlihat Asrul bersama kedua rekannya Hilda dan Uni mulai gundah, pasalnya sore nanti akan ada acara panen perdana bawang merah di demplot (demonstrasi ploting) mereka.

Selang 30 menit, hujan masih berlangsung dengan tempo yang lambat. Dengan kamera di tangan, saya mendokumentasikan jalannya pelatihan. Sesekali saya melihat ke luar ruangan. Kali ini saya berharap hujannya tidak sampai pukul empat nanti. Seorang anak laki-laki berseragam olahraga sekolah datang dan menyapa “Kak Enal, ayok mi pergi panen.” “Belum pi Akmal, jam empat pi nanti” jawabku. Dengan spontan Akmal menjawab “Ededeee, masih lama… sekarang mo, Kak”. Saya hanya menanggapinya dengan tertawa, dalam hati berkata semoga semangat anak ini sama dengan semangat para petani yang ada di desa ini. Akmal ini adalah anak dari kepala desa Pa’ladingan yang masih kelas dua SD.

Malaikat Mikail rupanya berpihak pada kami, hujan pun berhenti. Meskipun awan masih tampak kelabu, tapi itu tidak menyurutkan semangat kami. Undangan telah disebar beberapa hari sebelumnya. Kecuali jika hujan deras maka tidak ada alasan untuk tidak menunda waktu panen.

Sesaat setelah pelatihan guru ditutup, Pak Camat Bontolempangan beserta rombongan pun tiba. Hanya sebentar mampir, beliau lalu memberi kode untuk segera menuju lokasi panen. Beruntung saya masih bisa menyempatkan diri untuk menyelesaikan kewajiban asar. Dengan segera, saya menyusul ke demplot yang jaraknya sekitar 500 meter dari posko. Sambil berlari-lari melewati jalan perkerasan yang sedikit mendaki, kadang pijakan terpeleset karena salah menggunakan alas kaki. Sudah ada sekitar 30-an orang yang lebih dahulu tiba di demplot.

DSC_05681
Spanduk Panen Perdana Budidaya Bawang Merah.

Sambil mengatur kamera, layaknya fotografer profesional, perlahan saya mendekat ke arah kerumunan massa. Terlihat dua orang membentang meteran di bedengan tanaman bawang merah, yang belakangan saya tahu kalau sala satunya adalah Pak Aziz. Pak Aziz adalah Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian untuk kecamatan Bontolempangan. Setelah terbentuk persegi dengan ukuran 2.5 x 2,5 meter, tanaman yang ada dalam kotak pun dipanen. Pengambilan sampel panen dengan cara seperti ini dalam dunia pertanian disebut mengubin. Dengan mengetahui hasil ubinan, kita bisa menaksir hasil panenan secara cepat. Hasil ubinan kemudian dikalikan dengan 1600 maka diperoleh angka yang menunjukkan produksi untuk 1 Ha. Angka timbangan menunjukkan angka 8 (delapan), namun karena di asumsikan bobot karung dan sampah yang masih ikut mencapai 0,5 kg, sehingga disepakati pada angka 7,5 kg. Jika dikalikan dengan angka 1600 maka akan diperoleh 12.000 kg atau 12 ton per hektarnya. Hasil yang dicapai sangat logis kata Pak Aziz.

Camat Bontolempangan, Bapak Asdar Ahdar, dalam sambutannya memberikan pandangan logis dan hitungan matematis dalam usaha tani bawang merah. Beliau menekankan bahwa usaha tani yang menjanjikan diharapkan bisa mengurangi angka perantauan yang ada di Pa’ladingan dan sekitarnya. Pak camat juga mengarahkan agar ke depannya juga dilakukan pengembangan komoditi horti yang lain, seperti wortel dan kubis sehingga ada banyak pilihan yang bisa dibudidayakan. Pa’ladingan juga dikenal sebagai penghasil kopi, sehingga perlu upaya untuk memperkenalkan kopi dari Desa Pa’ladingan.

 

DSC_03721
Sambutan Camat Bontolempangan.

Menjawab apa yang disampaikan oleh Pak Camat, Bapak Abdul Hakim, selaku manajer community depelopment Yayasan Kalla mengatakan bahwa baru-baru ini ada pameran di GTC Makassar. Dalam pameran tersebut, di stand Yayasan Kalla juga dipamerkan produk dari beberapa desa dampingan, termasuk bawang merah dan kopi dari Paladingan. Banyak pengunjung yang meminati kopi Pa’ladingan, tinggal bagaimana meramu model pemasaran yang cocok. Lebih dari itu, bagaimana masyarakat mampu mengontrol kualitas kopinya mulai dari budidaya, panen hingga pascapanennya.

Hari semakin sore, kabut tipis pun turun memberi panorama yang indah di antara barisan pegunungan Lompobattang. Setelah sesi sambutan, panen bersama pun dilakukan. Masayarakat yang datang pun antusias mencabut rumpun-rumpun bawang dan mengikatnya dengan tali ketita jumlahnya sudah melebihi genggaman. Mereka semakin senang pulang dengan membawa hasil panen yang dibagikan.

DSC_04611
Panen bawang merah bersama Desa Pa’ladingan.
DSC_02551
Akmal memamerkan bawang hasil panenannya.

Perasaan lega tampak di wajah Asrul, Uni, dan Hilda yang telah sukses meproduksi bawang merah dengan tonase yang memuaskan. “Seandainya waktu panen lebih awal, mungkin hasilnya bisa lebih banyak. Awalnya bawang yang ditanam ini dipersiapkan untuk bibit, namun karena untuk menghindari pembusukan akibat hujan, terpaksa bawangnya dipanen di umur 80 hari. Kalau untuk kebutuhan bumbu dapur, sudah sejak sebulan lalu dipanen” komentar Asrul.

DSC_0816111
Senja dan kabut tipis Desa Pa’ladingan.

Jingga mentari senja menutup hari dengan sempurna. Rasa lelah seolah terbayarkan. Seusai magrib dan makan malam bersama, saya pun pulang bersama lantunnan lagu-lagu bergenre ska.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

8 thoughts on “Pa’ladingan Panen 12 Ton per Hektar Bawang Merah”

  1. keren tulisannya, runut dan enak di baca
    hanya satu yg buat saya agak mengganggu, mungkin hanya perasaan saya, sebenarnya nama desanya Pa’ladingan sesuai di gambar, atau Paladingan? tanda jeda / apostrof itu cukup penting dlm bahasa Makassar dan sebaiknya dipertahankan untuk menjaga keaslian penyebutan. tabe’.

    1. Ini mi yang bikin bingungka Daeng, ada yang tulis Paladingan, Pa’ladingan, Paladingang, dan Pa’ladingan. Tapi mungkin saya perlu sesuaikan saja dengan spanduk di gambar ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s