Mari Bersahabat dengan Cacing Tanah

Organik, Cacing Tanah, Kascing

Advertisements

Hewan invertebrata ini paling akrab dengan para pemancing. Aromanya amis dan kemampuannya bertahan hidup ternyata memancing ikan dan hewan air lainnya untuk menyantapnya. Bukan hanya itu, dari berbagai penelitian, cacing memiliki kandungan protein yang tinggi. Analoginya, jika kita diperhadapkan pada toples yang berisi kacang, bisa dipastikan rahang tidak berhenti untuk mengunyah. Mungkin ikan pun demikian jika bertemu cacing, tidak peduli resiko tersangkut pada kail.

Cacing memang memiliki beberapa keunikan. Entah mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang satu ini dengan hati dan jantung hingga lima pasang. Tidak hanya itu, cacing berkelamin ganda, dan bernapas lewat kulit karena tidak memiliki paru-paru. Cacing termasuk binatang yang berumur panjang yaitu 3 – 4 tahun, bahkan ada yang sampai 15 tahun.

Struktur tubuh cacing terdiri dari 80% air. Bisa dipastikan bahwa tanah yang menjadi habitat cacing juga mengandung banyak air. Cacing hidup dengan memakan sisa-sisa organisme hidup, berarti tanah yang mengandung banyak cacing, secara logis kaya akan humus. Cacing beraktivitas dalam tanah dengan membuat lorong-lorong. Dampaknya adalah tanah yang mengandung banyak cacing memiliki banyak pori sehingga aerase (tata udara) tanah menjadi lebih baik.

Dari ketiga peranan cacing tersebut, semuanya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman butuh air dan nutrisi sebagai bahan baku fotosintesis dan metabolisme lainnya. Akar tanaman juga membutuhkan oksigen yang dengan mudah diperoleh dari pori-pori tanah.

Penggunaan pupuk kimia sentetik yang lebih umum disebut pupuk anorganik dalam jangka panjang akan merusak sifat kimia ,fisik dan biologi tanah. Dari total pupuk yang diberikan, tidak semua diserap oleh tanaman. Selalu ada yang tersisa dan menjadi residu dan dalam waktu lama akan terakumulasi. Senyawa-senyawa sisa inilah yang merusak kimia, termasuk kemasaman (pH) tanah. Secara fisik, tanah akan menjadi padat dan keras. Tanah yang keras tentu mempengaruhi kehidupan di dalam tanah. Mikroorganisme pembentuk unsur hara (penyubur) tanah akan berkurang hingga mati. Kondisi ini menyebabkan cacing tanah akan kehilangan habitat alaminya dan akhirnya akan mati. Inilah menyebabkan tanah pertanian bergantung pada asupan pupuk kimia sintetik.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan pada tanah-tanah yang sudah terlanjur seperti itu? Teman-teman di Tolo Timur, Jeneponto mencoba menemukan solusi dengan beternak cacing. Cacing yang mereka kembangkan adalah cacing tanah dari famili Lumbricidae dengan genus Lumbricus. Alasannya, jenis Lumbricus rubellus memiliki keunggulan dari segi produktivitas yang tinggi (produksi telur/anakan & produksi bekas cacing “kascing”). Selain itu, cacing ini tidak banyak bergerak jadi lebih mudah untuk diternakkan.

Kotoran ternak, potongan pelepah pisang dan berbagai sampah organik ditampung untuk dijadikan pakan cacing. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan sedikit tanah secara merata lalu dimasukkan ke dalam keranjang. Jaga kondisi media agar tetap lembab dan hindari dari terpaan matahari langsung. Setelah media mengalami fermentasi, barulah cacing dilepas. Bibit yang digunakan berasal dari bibit komersil. Karena cacing juga makhluk hidup, ia pun perlu diberi pakan setiap hari. Sebaiknya, pakan diberi dalam bentuk bubur. Intinya, semakin halus pakan maka semakin mudah untuk dicerna oleh cacing. Jumlahnya sebanyak jumlah cacing yang dilepas. Jika dilepas 1 kg cacing, maka bubur pakan pun diberikan sebanyak 1 kg. Setelah dua minggu, dilakukan penggantian media. Media yang dipanen inilah yang kemudian disebut kascing (bekas cacing).

Menurut Akhsan, salah satu fasilitator Desa Bangkit Sejahtera (DBS), yayasan Kalla, yang bertugas di Tolo Timur, dari 3 kg bibit yang dirilis, telah dipanen dua kali lipat. Itu pun panennya masih dini, yaitu dua bulan, dari empat bulan waktu yang direkomendasikan. Sebanyak 1 kg telah diadopsi oleh masyarakat yang memang sangat antusias untuk mengembangkan cacing. Sisanya dilakukan pengembangan media biakan.

cats12
Demplot Pengembangan Budidaya Cacing Tanah.

Kascing yang dihasilkan dimanfaatkan lansung di demplot pertanaman markisa dataran rendah. Secara kualitatif, pertumbuhan markisa yang diberi kascing sangat subur. Terjadi pertambahan ukuran yang signifikan. Rencananya, pengembangan tanaman hortikultura sebagai tanaman sela markisa juga akan diberi kascing sebagai asupan nutrisi. Begitu juga dengan pengembangan tanaman sayur di pekarangan.

cats11
Demplot Tanaman markisa Dataran Rendah yang Dipupuk dengan Kascing.

Harapan tim DBS Tolo Timur (Zul Ikram, Akhsan dan Dewi), semoga kegiatan ini menjadi pilot project yang dapat diterima dan diikuti oleh masyarakat. Bersahabat dengan cacing tanah banyak mendatangkan manfaat. Selain manfaat dari sisi lingkungan dan pertanian, cacing juga bisa dijadikan komoditi industri. Saat ini, banyak industri farmasi yang menggunakan cacing sebagai bahan bakunya. Harga yang menjanjikan bisa dipastikan akan meningkatkan pendapatan masyarakat di luar hasil pertanian.

DSC_07381112
Berpose Bersama markisa yang Saya Tanam Dua Bulan Lalu.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Mari Bersahabat dengan Cacing Tanah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s