Pekarangan Hijau; Oase di Bontolebang

Urban Farming, Pekarangan hijau, pekarangan organik

Advertisements

Sumur satu per satu mulai mengering. Sawah yang retak sehingga rumput liar pun enggan untuk menampakkan diri. Ladang berbatu dan hanya tampak bekas tonggak-tonggak jagung dengan percikan api mudah terbakar. Pohon-pohon randu terlihat meranggas nyaris tak menyisakan daun. Hanya pohon beringin, lontar dan mangga yang terlihat hijau di titik-titk tertentu. Itulah pemandangan yang terlihat saat saya mengantar rekan kerja untuk mengabdi di desa tersebut, juni lalu. Hingga hari ini, tercatat hanya sekali langit meneteskan keringatnya. Untungnya angin masih bertiup memberi sedikit sejuk dan tetap berbisik hujan akan turun suatu saat nanti.

Penjual sayur pun hilir mudik di desa meraup rupiah yang tentunya berkah buat mereka. Desa yang layaknya sumber pangan seolah berkamuflase menjadi kompleks perumahan di kota. Ibu-ibu dengan setianya menanti pedagang sayuran dan ikan langganan datang.

Bukannya mereka tak mau pusing dengan kondisi yang seperti itu. Nyatanya, banyak di antara mereka yang hijrah keluar desa saat musing kemarau mulai menyambut untuk mencari keperluan WC keluarga. Seolah terjebak dalam kondisi bahwa tak ada yang bisa ditanam selama musim kemarau berlangsung. Yang terjadi hanyalah konflik kebutuhan antara mengairi ladang pertanian atau kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, masak dan minum. Sedikit mengutip lirik lagu Ebiet G. Ade “Perjalanan ini terasa sangat memilikan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan, di tanah kering bebatuan.”

Seperti itu pula yang dirasakan oleh rekan saya, Rustan, Ravi dan Eni di awal penempatan mereka. Mereka pun melihat masalah di atas sebagai peluang untuk membuat sesuatu yang setidaknya bisa meningkatkan kepulan asap di dapur. Selama masih ada yang berdaun hijau, kita pasti bisa menumbuhkan sesuatu yang hijau pula.

DSC01246
Kondisi Satu Bulan Pertama Program Pemanfaatan Pekarangan.

Program pekarangan hijau pun mereka buat sebagai halaman percontohan. Bersama dengan beberapa masyarakat yang ada di sekitar posko, terutama santri TK/TPA yang mereka bina, memanfaatkan polibag sebagai wadah. Pemilihan polibag bukan tanpa pertimbangan. Harga yang relatif murah dibanding pot dan tentu masih bisa digunakan untuk beberapa kali siklus tanam adalah alasan utama menggunakannya sebagai wadah. Polibag lalu diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang. Penggunaan polibag dan penambahan pupuk kandang ini tentunya lebih menghemat pemakaian air jika dibandingkan dengan penanaman di bedengan. Pekerjaan yang cukup berat adalah saat menghaluskan tanah. Karena saking keringnya, tahah harus ditumbuk dulu lalu diayak untuk memisahakan tanah dengan partikel batu.

Polibag yang telah terisi media tanam ditata sedemikian rupa secara bertingkat. Sistem bertanam seperti ini lebih umum dikenal dengan istilah vertikultur. Kelebihan yang paling menonjol adalah peroduktivitas per luasan lahan tanam dan menambah nilai estetika. Selama ini nilai estetika halaman cenderung dipengaruhi oleh berbagai corak daun dan warna bunga. Sayuran justru mampu meningkatkan nilai halaman melalu produksi pangan. Jika tidak cukup dengan hijau segar daun kangkung, ada merah kontras dari daun bayam. Jika tidak cukup dengan lembut silidris daun bawang, ada guratan dan mozaik dari daun seledri. Tak cukup dengan kuning bunga sawi, ada variasi warna buah cabe. Jangan kan manusia, kambing pun tertarik hingga harus dipagari. Halaman yang kering pun seperti disulap layaknya oase di tengah gurun.

cats
Kondisi Tanaman yang Sudah Siap Panen.

Hampir setiap hari ada saja warga desa yang datang untuk bertanya tentang cara bercocok tanam dan paket teknologi yang digunakan. Ada juga yang hanya datang sekadar melihat-lihat, mungkin juga sedang mengamati hanya saja sungkan untuk bertanya. Aktivitas siram-menyiram tanaman pun tak lagi ditangani oleh ketiga teman saya. Anak-anak dari TK/TPA yang justru berlomba-lomba untuk mengambil alih tugas itu di pagi dan sore harinya.

DSC01328kioby
Anak-Anak Santri TK/TPA yang Aktif Bersama Memelihara Tanaman.

Suatu hari ketika Ibu Camat datang ke posko teman-teman Desa Bangkit Sejahtera (DBS), beliau langsung melaporkan ke Pak Camat. Dengan penuh penasaran, Pak Camat pun akhirnya menyempatkan diri untuk melihat apa yang telah disampaikan oleh istrinya. “Saya penasaran dengan apa yang disampaikan Ibu, ternyata saya pun seakan tidak percaya bahwa berbagai sayuran bisa tumbuh dengan baik dengan cara seperti ini”. Begitu kata Karaeng Sitori selaku Camat Kelara saat kami lakukan wawancara evaluasi saat monitoring dan evaluasi program. Saat ini pun teman-teman melakukan pendampingan untuk pembuatan pekarangan hijau di halaman kantor kecamatan bersama dengan tim PKK Kelara.

Saat ini, menurut laporan dari Rustan selaku koordinator Desa Bonotlebang, sudah ada 20 rumah yang mengikuti program. Cukup dengan memberi mereka polibag, bibit atau pun benih lalu mengawalnya bersama tim. Tidak cukup dengan itu, tim Bontolebang juga melakukan edukasi pembuatan pupuk organik bokashi dengan memanfaatkan kotoran ternak dan berbagai macam sampah organik.

Melalui program-program seperti ini, kita bisa mengembalikan fungsi desa yang senantiasa menjadi sumber pangan. Pemanfaatan halaman pun juga bisa meningkatkan produktivitas ibu-ibu sehingga waktu tidak hanya cukup untuk menonton infotainment di layar kaca. Secara tidak langsung, desa akan menjadi kekuatan. Jadi, “Kita harus menanam kembali. Hijau saat ini dan nanti. Kita harus menanam kembali. Satu saja sangat berarti untukmu” kata Nosstress dalam lagunya “Tanam Saja”.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s