Bergaya Hidup Sehat Lewat Pangan Organik

Pemanfaatan pekarangan dengan berbagai cara bercocok tanam.
Pemanfaatan pekarangan dengan berbagai cara bercocok tanam.

Peningkatan jumlah penduduk dengan segala kebutuhannya berdampak pada berbagai tekanan terhadap sumber daya alam. Hal yang paling terlihat adalah bagaimana setiap individu berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Istilah yang kemudian menjadi lazim terdengar adalah “gaya hidup sehat”. Berbagai upaya dilakukan untuk menjalankan praktik gaya hidup sehat. Salah satu dari praktik itu dijalankan dengan cara perbaikan kualitas makanan melalui pangan organik. Muncullah ungkapan bahwa “kita adalah apa yang kita makan”.

Apa sih pangan organik itu? Menurut Peraturan Mentri Pertanian No. 64/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Sistem Pertanian Organik, bahwa Pangan organik adalah pangan yang berasal dari suatu lahan pertanian organik yang menerapkan praktek pengelolaan yang bertujuan untuk memelihara ekosistem dalam mencapai produktivitas yang berkelanjutan, melakukan pengendalian gulma, hama, dan penyakit, melalui beberapa cara seperti daur ulang sisa tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, pengelolaan air, pengolahan lahan, dan penanaman serta penggunaan bahan hayati (pangan). Dalam pengertian di atas, kita bisa melihat ada sistem yang berkelanjutan dan ada nilai konservasi sumber daya alam dalam aktivitas pertanian organik.

Konteks berkelanjutan dalam pertanian organik dapat diartikan sebagai kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Dalam buku Pertanian Masa Depan, Coen Reijntjes dkk.(1992), mengungkapkan lima prinsip yang harus dipenuhi oleh pertanian berkelanjutan. Pertama harus mantap secara ekologis dengan mempertahankan kualitas sumber daya alam dan meningkatkan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan, mulai dari manusia, tanaman dan hewan sampai orgnanisme tanah. Kedua, bisa berlanjut secara ekonomis, bahwa petani tidak hanya memenuhi kebutuhan secara subsisten tapi juga mampu meningkatkan penghasilan dari tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Ketiga adalah adil, yakni pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama. Prinsip yang keempat adalah manusiawi, dimana integritas budaya dan spiritualitas masyarakat harus dijaga dan diperihara. Yang terakhir, harus luwes, bahwa masyarakat harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi, terkait pengembangann teknologi dan inovasi.

Banyak referensi yang lebih tegas menjelaskan tentang pertanian organik dengan tidak membolehkan penggunaan pupuk dan pestisida sintetik. Itu sah-sah saja. Melalui forum diskusi Indonesia Berkebun, dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa tanaman organik adalah Tanaman yang bebas dari residu zat kimia berbahaya seperti unsur logam berat (Pb, Hg, Cd, Cr, Sr, As, Ni, dll) serta unsur pestisida. Dengan demikian, produk (pangan) organik dihasilkan akan mengutamakan penggunaan sumber-sumber terbarukan (renewable resources ) serta terdapat konservasi lahan dan air untuk meningkatkan kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.

Melalui slogan “grow your food”, masyarakat perkotaan pun menggeluti dunia pertanian lewat konsep “Urban Farming” sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Sederhananya adalah bahan makanan yang dihasilkan melalui aktivitas bercocok tanam di tempat sendiri akan lebih terkontrol. Dengan kata lain, sayuran atau buah-buahan yang dihasilkan lebih mengedepankan kualitas.

Pemanfaatan pekarangan dengan sistem tanam bertingkat (Vertikultur).
Pemanfaatan pekarangan dengan sistem tanam bertingkat (Vertikultur).

Cara bercocok tanamnya pun beragam. Memanfaatkan lahan kosong di pekarangan atau menggunakan pot dan berbagai jenis wadah tetapi masih menggunakan tanah sebagai media dasar. Sekarang yang lebih marak digunakan adalah akuaponik dan hidroponik. Manakah cara bercocok tanam yang lebih organik dari ketiganya?

Sistem hidrponik dengan istilah lain soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah memang lebih praktis. Cara ini sangat cocok untuk orang-orang dengan aktivitas yang padat. Pemberian hara dilakukan bersamaan dengan pemberian air (fertigasi). Nyaris tidak lagi dilakukan penyiraman seperti pada pertanian konvensional. Unsur hara yang larut bersama air lebih lengkap dan terukur sehingga hasil yang diperoleh melalui hidroponik pun lebih banyak dan berkualitas. Kontaminasi patogen dari tanah jelas bisa dihindari. Hidroponik pun menggunakan air lebih sedikit karena kehilangan air hanya terjadi melalui evapotranspirasi (penguapan).

Bercocok tanam secara hidroponik.
Bercocok tanam secara hidroponik.

Akuaponik memiliki sistem kerja yang sama dengan hidroponik. Bedanya hanya pada sumber nutrisinya. Pada sistem hidroponik, nutrisi diracik dengan menggunakatn dosis khusus dari berbagai unsur yang dibutuhkan tanaman. Sedangkan pada akuaponik, nutrisi berasal dari kotoran ikan yang dirombak oleh bekteri menjadi nitrat. Ada keuntungan ganda yang diperoleh dari akuaponik yaitu ikan sekaligus tanaman. Di kalangan penggiatnya, sistem ini juga diklaim paling organik. Itu sah-sah saja sebab dalam akuaponik, selain melibatkan ikan dengan tanaman, ada bakteri yang terlibat dalam sistem ini. Bakteri-bakteri baik tersebut berkembang di wadah penyangga tanaman dan bersimbiosis dengan akar tanaman.

Contoh penggunaan bercocok tanam dengan akuaponik di kebun Komunitas Makassar Berkebun.
Contoh penggunaan bercocok tanam dengan akuaponik di kebun Komunitas Makassar Berkebun.

Lantas bagaimana dengan sistem konvensional yang menggunakan tanah sebagai media dasar ? Kedua sistem di atas boleh mengklaim kalau penggunaan tanah akan membuat tanaman yang dihasilkan rawan terkontaminasi oleh patogen tanah. Tapi coba kita lihat bagaimana ekosistem hutan yang berjalan alami. Tanpa keraguan, kita akan melahap strawbery hutan yang kita jumpai saat hiking dan tanpa ragu mengatakan, buah itu organik. Itu berarti bahwa dalam situasi yang normal, mikroba yang baik akan bekerja secara optimal dan menekan pengaruh negatif mikroba jahat.

Budidaya bawang merah secara konvensional dengan low input eksternal.
Budidaya bawang merah secara konvensional dengan low input eksternal.

Menurut Ida Amal, penggiat Indonesia Berkebun, yang saya kutip dari forum diskusi Indonesia Berkebun, bahwa secara alami di dalam tanah ada ekosistem yang disebut rhizosphere. Ekosistem ini melibatkan akar tanaman, tanah, air dan berbagai mikroflora. Tuhan menciptakan bakteri yang mampu mangaglutinasi (menggumpalkan) logam berat, bahan kimia berbahaya, dan memotong rantai kimia pestisida. Jasad renik ini akan hadir dan berkembang dalam tanah membentuk rhizosphere system kalau kondisinya memungkinkan. Pupuk kandang dan kompos merupakan sumber makanan bagar bakteri tetap berkembang dengan baik dalam tanah. Kalau sistem ini berlangsung baik maka tanaman diyakini akan aman dari polutan.

Jadi sebenarnya, ketiga sistem ini sama-sama memiliki peranan yang kuat dalam konservasi air. Hidroponik dan akuaponik menggunakan air secara bersiklus sementara penggunaan pupuk kandang atau kompos mamapu meningkatkan daya serap dan daya ikat air oleh tanah.

Soal nutrisi, sumber hara boleh berbeda tapi yang diserap dan digunakan oleh tanaman dalam tumbuh dan berkembang, sama-sama dalam bentuk ion. Nitrogen misalnya, baik hidroponik, akuaponik maupun pertanaman konvensional, diserap dalam bentuk nitrat atau amonium. Fosfor diserap dalam bentuk ion ortofosfat dan ion ortofosfat sekunder. Begitu juga dengan 14 unsur lainnya yang merupakan unsur esensial bagi tumbuhan.

Sebagai penutup, selama hidroponik, akuaponik dan pertanaman konvensional mengikuti kaidahnya masing-masing, maka produk yang dihasilkan sangat layak dan aman dikonsumsi dan itu organik. Penggunaan pestisida kimia sintetik jelas tidak direkomendasikan dalam sistem pertanian organik.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s