Empat Tahun Makassar Berkebun; Menggemburkan Semangat yang Tersisa

Sebiji Harapan untuk Makassar Berkebun (gambar : Doc. @MksrBerkebun)
Sebiji Harapan untuk Makassar Berkebun (gambar : Doc. @MksrBerkebun)

Lewat sebuah pertanyaan yang menggelitik dari salah asatu penggiat Jakarta Berkebun yang sempat berdomisili di Makassar, empat tahun lalu. Pertanyaan Mba Indri Seska yang lebih akrab disapa Kakak Indri itu ditujukan ke akun twitter @supirpete2. “Kenapa Makassar, yang katanya kota ke-4 terbesr di Indonesia, belum ada komunitas berkebun di Kotanya?”, seperti itu nada cuitan yang dikutip dari buku Urban farming ala Indonesia Berkebun. Pada waktu itu, twitter memang merupakan media sosial yang efektif untuk berkampanye, atau pun menarik perhatian massa yang cepat.

Atas inisiatif Kak Indri, gathering pertama pun dilaksanakan. Adalah pemilik akun @supirpete2, @mksrtdkksr, Ashari Ramadhan, Keyka Samsoe, Wahwu Mas’ud, Indah Ain, Rezky IPWP, dan Firmansyah Rasyid, itu yang saya ingat menjadi aktor pertemuan pada tanggal 11 Oktober 2011. Tanggal ini pula lah yang kemudian menjadi titik awal lahirnya Makassar Berkebun, menyusul kota-kota lain menjadi bagian dari keluarga Indonesia Berkebun. Dalam pertemuan itu, Wahyu Mas’ud disepakati sebagai koordinator pertama @MksrBerkebun (akun twitter Makassar Berkebun).

Seperti apa pencapaian Makassar Berkebun saat ini tidak lepas dari dukungan komunitas-komunitas lain yang ada di Makassar. Blogger Anging Mammiri, EH Makassar, SIGI Makassar dan Pajappa adalah sebagian kecil komunitas yang selama ini bersinergi dengan kami. Puncaknya ketika pagelaran Makassar Green Culture Festival yang dirangkaikan dengan konferensi nasional Indonesia berkebun. Teman-teman yang tergabung dalam payung Komunitas Makassar pun tak membuat kami sendiri.

Keterlibatan Makassar Berkebun pada Setiap Konferensi Nasional. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Keterlibatan Makassar Berkebun pada Setiap Konferensi Nasional. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Perjalanan selama empat tahun memang bukan waktu yang singkat. Wajar saja jika masih ada orang yang kecewa jika melihat kondisi kebun yang juga adalah lahan ke-4, penampilannya masih seperti itu. Harusnya, Makassar Berkebun sudah memiliki koleksi display aneka ragam tanaman di kebunnya. Sayangnya, perjalanan panjang itu tidak semudah menumbuhkan benih kangkung. Banyak ide-ide cemerlang yang hadir dari tiap isi kepala penggiatnya. Istilah “penggiat” digunakan sebagai predikat untuk anggota komunitas ini. Tapi, kebanyakan ide kreatif tersebut seperti benih usang yang dipaksa untuk ditanam, dumping off.

Salah Satu Penggiat yang Meluangkan Waktu Setelah Pulang Kerja untuk Menyiram Tanaman. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Salah Satu Penggiat yang Meluangkan Waktu Setelah Pulang Kerja untuk Menyiram Tanaman. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Perihal kebun, mulai dari kebun pertama di Tanjung Bunga yang merupakan milik Bosowa Corp., hingga kebun kedua di halaman belakang Rumata Art Space. Lanjut ke kebun tiga di halaman Yayasan Kesehatan Telkom. Setelah kiri kanan mencari lahan, akhirnya kami diberi kesempatan untuk mengolah halaman rumah seorang teman untuk dijadikan kebun keempat. Semoga kebun keempat ini mampu mewujudkan aspirasi teman-teman penggiat sebagai model untuk aktivitas urban farming. “Semoga kebun jadi semakin keren, bisa jadi kebun percontohan untuk di kota. Komunitas ini tidak hanya sekedar berkebun tapi juga tetap berbagi dan peduli terhadap masalah sosial dan lingkungan.” Begitu harapan yang diungkapkan Asriadi, selaku koordinator Makassar Berkebun saat ini.

Berbagai Aktivitas Makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Berbagai Aktivitas Makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Melalui interaksi di line, pemilik akun @supirpete2, yang juga sebagai salah satu penasihat di komunitas ini menuturkan bahwa sejak awal terbentuknya Makassar Berkebun sampai saat ini, saya termasuk orang yang jarang terlibat langsung dengan kegiatannya. Sampai umur empat tahun, seiring bertambahnya jumlah penggiat, Makassar Berkebun telah ikut mengambil peran dalam perkembangan komunitas-komunitas di Makassar. Peran tersebut dapat dilihat dari keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan kreatif di makassar. Tren urban farming yang berkembang di kota ini pun tidak lepas dari peranan Makassar Berkebun.

Beberapa contoh tanaman yang pernah ditanam di kebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Beberapa contoh tanaman yang pernah ditanam di kebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Namun demikian, segala macam kendala yang ada di kebun inilah yang membuat semangat teman-teman penggiat untuk tetap konsisten bergerak bersama hingga kini. Seperti yang dikatakan oleh Wahyu Mas’ud, koordinator pertama, melalui wawancara via line bahwa “Saat awal-awal membangun komunitas ini, saya pernah bertemu dengan orang-orang yang skeptis dengan gerakan urban farming. Ada yang ragu dengan keberlanjutannya dan bahkan ada yang mencibir bahwa gerakan ini hanya sebuah pencitraan dan sebagainya. Selain yang negatif, tentu saja ada juga pihak yang merespon dengan baik dan bahkan mendukung setiap kegiatan gerakan ini. Saya memaknainya sebagai pil pahit dan vitamin yang mesti ditelan untuk menguatkan suatu ikhtiar.”

Contoh perbandingan lahan di kebun dua, sebelum dan setelah dikelolah oleh Makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Contoh perbandingan lahan di kebun dua, sebelum dan setelah dikelolah oleh Makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Patut disadari bersama bahwa komunitas ini sedari awal didominasi oleh orang-orang yang justru awam dengan dunia pertanian. Umumnya mereka dari kaum arsitek, sama seperti predikat pencetus ide awal urban farming ini, Ridwan Kamil, yang kini menjadi walikota Bandung. Saya sendiri baru terlibat saat acara tanam perdana, itu pun setelah berhasil mempengaruhi Jack, akhirnya dapat tebengan. Jadi awalnya, hanya Kak Wahyu yang berstatus anak pertanian dan Rama yang meskipun dari teknik namun sudah mahir dalam bercocok tanam lewat usaha sayur organiknya.

Dengan senang hati, saya pun dibimbing oleh beberapa penggiat yang lebih dahulu waktu itu, bagaimana cara menanam bayam dan kangkung. Meskipun saya sudah tahu, tapi saya harus beradaptasi dulu dengan teman-teman. Memang tidak ada yang tahu kalau saya dan Jack adalah orang pertanian juga. Bukankah yang terpenting dari sebuah pendidikan adalah bagaimana kita bisa menghargai sebuah proses.

Segala sesuatu harus dimulai dengan niat, tapi semua tak cukup hanya dengan niat. Perlu tindakan nyata untuk mewujudkannya. Semangat dan pengalaman dari berbagai disiplin ilmu justru menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun komunitas. Sejalan yang dikatakan Kak Wahyu bahwa beruntung waktu itu penggiat Makassar Berkebun terdiri dari para pemuda yang multi talenta. Ada yang paham dengan baik cara budidaya tanaman, ada yang berpengalaman memberi edukasi kepada anak-anak, ada yang secara teknis sangat handal dalam dunia media dan IT, ada yang memiliki jaringan ke berbagai komunitas dan korporasi, dan ada yang secara tulus mendonasi setiap kegiatan komunitas ini. Yah, mereka adalah tim kecil yang memiliki mimpi besar tentang kotanya. Menginspirasi warga untuk menciptakan ruang-ruang hijau di setiap sudut kota Makassar.

Kegiatan yang menunjang edukasi makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Kegiatan yang menunjang edukasi makassar Berkebun. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Sejalan dengan visi Indonesia Berkebun, Makassar Berkebun harus tetap mengacu pada tiga aspek yaitu edukasi, ekologi dan ekonomi. Dalam hal edukasi, kami tetap rutin untuk mengadakan akademi berkebun sebagai pembekalan untuk dasar-dasar berkebun. Hanya saja alumni-alumni terbaik dari akademi berkebun ini masing-masing sudah punya rutinitas berbeda.

Berbagai macam undangan dan kolaborasi dengan berbagai macam instansi dan komunitas pun kami terlibat. Bahkan salah satu sekolah dasar dari Kabupaten Soppeng datang ke kebun kami untuk belajar berkebun. Sangat mengagumkan ketika tiga bulan setelah berkunjung, mereka mengunggah hasil kebunnya dengan tanaman yang beragam dan subur.

Belajar berkebun bersama anak-anak dari TK. Bambini. (Gambar: Doc. MksrBerkebun)
Belajar berkebun bersama anak-anak dari TK. Bambini. (Gambar: Doc. MksrBerkebun)

Tidak jauh beda dengan ekologi, sejauh ini kami tetap konsisten untuk bercocok tanam dengan pendekatan budidaya secara organik. Menurut Ida Amal, Kepala Sekolah untuk Akademi Berkebun, yang saya kutip dari forum diskusi di grup line Indonesia berkebun bahwa secara alami di dalam tanah ada ekosistem yang disebut rhizosphere. Ekosistem ini melibatkan akar tanaman, tanah, air dan berbagai mikroflora. Tuhan menciptakan bakteri yang mampu mangaglutinasi (menggumpalkan) logam berat, bahan kimia berbahaya, dan memotong rantai kimia pestisida. Jasad renik ini akan hadir dan berkembang dalam tanah membentuk rhizosphere system kalau kondisinya memungkinkan. Pupuk kandang dan kompos merupakan sumber makanan agar bakteri tetap berkembang dengan baik dalam tanah. Kalau sistem ini berlangsung baik maka tanaman diyakini akan aman dari polutan.

Selama ini kami memang masih berkutat pada kampanye bagaimana menciptakan makanan yang baik dan layak untuk dikonsumsi. Berkebun tidak hanya bagaimana kita mampu menumbuhkan tanaman dari benih lalu kita panen. Tapi, bagaiman membuat apa yang akan kita panen dan konsumsi itu bergizi dan layak untuk menuntaskan urusan kakus. Seperti apa yang dikatakan oleh Indah Ain, sebelumnya adalah koordinator makassar Berkebun, lewat line. “Saya sangat beryukur telah dipercaya menjabat sebagai koordinator selama dua tahun. Meskipun masih banyak kekurangan terutama dalam hal edukasi, tapi kita tetap semangat untuk belajar dan bekerja bersama. Harapannya, dengan kebun baru dan hadirnya teman-teman baru bisa membuat Makassar Berkebun semakin konsisten dengan urban farming. Apa lagi belakangan ini, gaya hidup sehat masyarakat mulai banyak mencari pangan yang sehat seperti yang selama ini kita upayakan.”

Urusan ekonomi sedikit dibelakangkan, setidaknya kita tidak lagi membeli apa yang bisa kita hasilkan dengan menanam. Sejauh ini, jualan hasil kebun dalam bentuk produk primer berupa kangkung, baru sekali ketika panen besar di kebun pertama. Selanjutnya berupa produk olahan yang dikemas dalam bentuk smoothies (sari sayuran dan buah-buahan) dan mojito (minuman penyegar berbahan lemon, serei dan daun mint). Namun ke depannya, perlu ada posri khusus untuk ekonomi. Meskipun komunitas ini sifatnya nirlaba tapi dalam urusan pengembangan komunitas tentu tidak lepas dari pendanaan.

Panen, Aktivitas yang selalu dinantikan oleh penggiat. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Panen, Aktivitas yang selalu dinantikan oleh penggiat. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Saya sendiri menyadari bahwa kondisi Makassar Berkebun masih sangat jauh dari harapan jika ditinjau dari usianya yang hampir memasuki taman kanak-kanak ini. Tapi itulah komunitas. Tidak ada aturan baku yang mengikat antara satu dengan yang lain. Konsistensi terhadap komitmen lah yang mampu membuatnya bertahan.

Untuk mencari lahan saja kami kesulitan. Terkadang kami iri dengan jejaring kota lain yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahnya. Batang, Banyuwangi dan Bekasi adalah contoh kota yang beruntung dengan apresiasi yang luar biasa dari aparatur kotanya. Seperti yang dibahasakan oleh Dhila, salah satu penggiat baru, bahwa semoga ke depannya, Makassar Berkebun mampu menjalin kerjasama yang baik dengan pihak pemerintahan dalam mewujudkan masyarakat yang bergaya hidup sehat melalui urban farming.

Semoga di tahun ke-5 berjalan ini teman-teman tetap solid dan konsisten untuk menjalankan misi dalam mewujudkan visi bersama. Selama teman-teman tidak bosan untuk belajar dan mempraktikkan apa yang teman-teman pelajari. Saya yakin apa yang kita harapkan dapat kita capai. Tak ubahnya dengan menyelesaikan soal-soal perhitungan, berkebun itu hanya soal kebiasaan saja. Jangan takut dan kaku untuk mempelajari teknologi selama itu relevan dengan peningkatan kapasitas kita sebagai petani kota.

Dari semua harapan teman-teman yang tercurah, semua menginginkan kebun baru semakin menarik. Sekarang tinggal bagaimana mewujudkan harapan tersebut. Mari menggemburkan semangat yang tersisa lalu menyemai benih-benih ide yang ada. Jangan lupa siram dengan secara kontinue dengan komitmen mengawal visi. Tinggal bagaimana memupuknya dengan segala ramuan kreativitas. Yakin, kelak akan menghasilkan buah karya yang membuat kita tersenyum bersama lalu mengatakan “kita telah melakukannya”.

Secercah harapan untuk masa depan Makassar Berkebun di kebun baru. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)
Secercah harapan untuk masa depan Makassar Berkebun di kebun baru. (Gambar: Doc. @MksrBerkebun)

Mari berkumpul, belajar dan berkarya bersama. Selamat empat tahun Makassar Berkebun. Lewat berkebun, mariki’ hijaukan kota ta’.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s