Lebaran yang (Tak) Dirindukan

“Kenangan terentang bagai lukisan terpanjang. Tak pernah bertepi selalu ada yang menggoda, bagai terurai di relung hati. Dan takkan kutahan sekarang aku harus pulang. Aku rindu ibu, wibawah ayah dan suasana yang ada, yang pernah singgah.” Pulang – Dik Doank.

Lirik lagi di atas selalu menjadi lagu favorit saat menjelang musim mudik, terutama musim libur sekolah. Sedari tamat SMP, saya kemudian hijrah ke Makassar untuk melanjutkan sekolah. Saat itu pula saya baru merasakan pisah jauh dari orang tua, terpisah dari aroma dan cita rasa masakan ibu yang selalu menunggu. Telinga tak mendengar lagi petuah-petuah seusai makan malam di ruang tengah depan televisi. Mulai hari itu pula, pertemuan saya dengan mereka pun tentu sangat sedikit, bahkan lebih banyak jumlah jari sebelah tangan dalam setahun.

Seiring waktu berjalan, adik-adik saya pun demikian, mereka keluar dari rumah untuk mengejar cita-cita. Lebaran tentu menjadi hal yang sangat dirindukan. Dengan moment itulah kami bisa berkumpul bersama.

Selama saya meninggalkan tanah kelahiran, lebaran kali ini adalah kali ketiga saya tidak melaksanakannya di kampung halaman. Pertama saat masih kuliah dan terlalu banyak praktikum yang tidak bisa ditinggalkan serta memang tidak ada libur untuk lebaran haji. Yang kedua saat saya berangkat ke Jambi, tepat sepuluh hari sebelum lebaran idul adha tahun 2008. Beruntung sebelum berangkat, saya sempat pulang untuk berpamitan dengan orang rumah. Tahun ini adalah yang ketiga.

Seusai shalat id kemarin, saya pun menelpon ibu untuk saling menyapa dan memohon maaf. Tak lupa saya menjelaskan alasan tidak pulang kali ini. Saya memilih mengikuti jadwal yang telah ditetapkan Muhammadiyah, rupanya di kampung juga sudah melaksanakan shala id, terutama di masjid dekat rumah. Beban dalam hati pun seolah sirna kala mendengarkan suara ibu meski hanya lewat telepon genggam.

Sampai pada pukul 09.18 wita tadi, saat notifikasi sms mendendangkan penggalan lagu Nugie “Jika Sang Bumi Bisa Bicara”. Rupanya sms dari adik bungsu saya, isinya seperti ini “Minal aidin walfaidzin sammane… Mali-mali na jio bapa’ bah. Malino kang inde mallappa, sipattalu ri.” Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia seperti ini “Minal aidin walfaidzin saudara laki-laki ku… Saya jadi rindu sama bapak (alm.). Kami sepi lebaran di sini, hanya bertiga.” Seketika air mata mengalir, tak lupa pintu kamar saya kunci, takut kalau Ucup bangun dan melihat mata saya berlinang. Masak Rambo menangis heheheeee.

Suasana sepi rumah pun selalu terbayang. Setelah kepergian bapak yang sudah hampir empat tahun, rumah memang sepi. Apalagi setelah adik bunsu pun hijrah ke makassar untuk melanjutkan kuliahnya. Tinggallah ibu dan seorang nenek yang semakin renta. Mungkin inilah lebaran yang tak pernah saya rindukan. Lebaran yang membuat saya tidak bisa meluangkan waktu untuk mereka, walau hanya sekadar mencium tangan dan memeluk ibu dan nenek.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s