Karst Pangkep; Bank Peradaban dan Air

Setelah field trip ke Kahayya, kali ini teman-teman di Kelas menulis Kepo melakukan kunjungan ke rumah nenek moyang di Belae, Pangkep. Tak tanggung-tanggung, kunjungan ke Kecamatan Minasatene ini dipandu langsung oleh Iwan Sumantri, salah satu arkeolog dan antropolog senior di Indonesia. Saat ini Kak Iwan, sapaan kami, masih aktif sebagai tenaga pengajar di Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Hal yang menarik dari keluarga Kak Iwan adalah mereka sangat senang dengan aktivitas lapangan. Itu yang saya lihat dari caara mereka menikmati suasana saat berada di lokasi bersama kami.

Sesuai dengan jadwal yang telah disusun sebelumnya, kami tiba di Belae di waktu petang. Namun demikian, penguasa siang belum juga menunjukkan surut sengatannya di kulit. Terlihat beberapa petani sedang asik memanen padi di sawah yang menguning. Kendaraan pun ditepikan saat memasuki kawasan dengan hijau pohon sagu di sisi kiri jalan. Ingatanku kembali ke kampung halaman yang makanan pokoknya bersumber dari pati yang ada dalam batang salah satu keluarga palm itu. Kehadiran sagu di sebuah tapak adalah ciri adanya air, tidak jauh berbeda dengan sepupunya, nipa.

Setelah kendaraan terparkir dengan baik, kami pun bergegas menyiapkan peralaran seadanya, terutama sepatu lapangan dan headlamp untuk penerangan. Melewati saluran irigasi yang jaraknya tak kurang dari 20 meter dari tepi jalan, kami pun sampai pada sebuah telaga. Sambil merapikan peratan, Kak Iwan menjelaskan tentang salah satu kelebihan karst. Menurut Kak Iwan, karst memiliki sifat seperti spons. Oleh karena itu, karst dapat menyimpan dan mengeluarkan air secara bertahap. Tak heran jika di musim kemarau seperti ini, kawasan Belae masih banyak air. Bahkan terlihat beberapa mobil tangki yang masuk dan keluar dari Belae untuk memuat air. Banyaknya ikan di telaga tersebut dapat dijadikan indikasi kalau air tersebut masih dalam tahap aman dan bersih.

Di Musim Kemarau Seperti Ini, Karst Masih Menyediakan Air (Foto: @enal_18)
Di Musim Kemarau Seperti Ini, Karst Masih Menyediakan Air (Foto: @enal_18)

Sekitar 30 langkah dari pemberhentian pertama, kami sudah sampai di mulut gua yang bertuliskan Leang Lompoa di sebuah papan. Di ceruk gua ini kami pun mengamati beberapa rock painting yang ada di sekitar teras gua tersebut oleh panduan Kak iwan tentunya. Ceruk atau rock shelter adalah bidang dari gua yang masih diterpa sinar matahari dari semua sisinya. Ada sekitar 300 gambar yang tercatat di situs ini, namun di bagian ceruk Leang Lompoa terdapat 30-an gambar saja, terang Kak Iwan. Beberapa meter masuk lebih dalam ke gua, kami pun diperhadapkan pada tumpukan kulit-kulit kerang yang sudah membatu. Dari tumpukan kulit kerang tersebut terselip sebuah batu kali yang bukan jenis batuan penyusun gua. Benda tersebut menandakan batuan tersebut sengaja didatangkan untuk digunakan memecahkan kulit kerang. Kalau diamati, ada perbedaan karakter pada tumpukan kulit kerang. Ada kerang dengan permukaan kulit yang kasar dan ada yang halus. Karang dengan karakter kulit lebih kasar biasanya bersumber dari laut atau air asin sementara karang dengan karakter kulit lebih halus berasal dari sungai air tawar. Dari objek tersebut, kita dapat memperoleh informasi mengenai daerah jelajah penghuni Leang Lompoa sampai kemana saja.

Sampah Dapur Berupa Kerang Yang Tertumpuk Di Salah Satu Sisi Leang Lompoa. (foto: @enal_18)
Sampah Dapur Berupa Kerang Yang Tertumpuk Di Salah Satu Sisi Leang Lompoa. (foto: @enal_18)
Suasana dalam Leang Lompoa. (foto: Adnan Ilham)
Suasana dalam Leang Lompoa. (foto: Adnan Ilham)

Selepas dari Leang Lompoa, kami melanjutkan perjalanan menuju home base yang telah ditentukan oleh Kak Iwan. Kami memilih berjalan kaki sembari menikmati pemandangan pesawahan dan aktivitas orang-orang desa yang memanen padi. Sekitar satu kilo meter jalan kami tempuh tidak terasa, senyum sapa masyarakat desa yang ramah mengiringi perjalanan kami.

Aktivitas Masyarakat Belae, Seorang Warga Sedang Mengangkut Jerami Untuk Pakan Ternak. (foto: @enal_18)
Aktivitas Masyarakat Belae, Seorang Warga Sedang Mengangkut Jerami Untuk Pakan Ternak. (foto: @enal_18)

Sesampai di base camp, kami pun segera menyimpan barang bawaan masing-masing dan beristirahat sejenak. Matahari semakin meredupkan cahayanya menjadi sejuk teduh pada senja yang menjingga. Saya dan Adnan memilih untuk menikmati sunset di pesawahan belakang rumah. Kawan-kawan seperjalanan memilih memanjakan diri dengan merendam kaki dalam kolam yang berisi ikan-ikan yang seukuran satu jari.

Sunset Di Dusun Belae. (foto: Adnan Ilham)
Sunset Di Dusun Belae. (foto: Adnan Ilham)

Terapi ikan memang merupakan salah satu objek yang ditawarkan oleh Masyarakat Dusun Belae. Untuk kali pertama jika kita mencelupkan kaki, saya yakin pasti dengan cepat untuk mengangkat kaki. Rasa geli dan kaget membuat kita spontan mengangkat kaki. Ikan yang digunakan adalah jenis Ikan Kandea yang banyak hidup di sungai-sungai yang ada di sekitar karst. Dalam bahasa lain, ikan ini bernama Ikan Mangut atau Nilem Mangut (Ostreochlilus hasseltii). Jenis ikan ini memang tidak bergigi sehingga bagus digunakan sebagai terapis. Bisa dibayangkan jika ikan tersebut bergigi tajam, saya kemudian teringat piranha. Pertanyaan saya dalam hati, Apa iya manusia yang 4000 tahun lalu itu juga sudah merasakan terapi ikan ya ?

Setelah waktu isya dan makan malam, tepat setelah putaran kedua permainan kartu, forum penelusuran nenek moyang pun dimulai. Kak Iwan pun memulai pemaparannya tentang tiga ras utama manusia prasejarah. Ketiga ras tersebut, pertama adalah Hominit (Pithecanthropus erectus) yang hidup pada kisaran 1,5 juta sampai 100.000 tahun yang lalu. Kedua, Austrolomelanisit yang hidup pada kisaran 4000 tahun lalu. Ras ini menyebar dari Cina ke Australia. Ketiga, adalah ras out of Taiwan, seperti Austronesia. Ras Austronesia inilah yang kemudian mendiami hampir 60% dari penduduk dunia pada masa itu. Penyebarannya mulai dari Taiwan ke Philifina lalu masuk ke Kalimantan hingga ke Sulawesi. Ras ini pula yang kemudian membangun kebudayaan gua, seperti lukisan pada dinding-dinding gua. Secara antropologi, ada 2000 kata dalam Bahasa Indonesia yang sama dengan Bahasa Aborigin. Demikian juga dengan beberapa kata yang punya kesamaan dengan Taiwan. Hewan seperti kuda merupakan binatang yang dibawa oleh orang Hindu dari India pada abad ke-4. Sementara babi yang diternakkan merupakan hewan introduksi dari Taiwan, kecuali babi hutan (babi rusa) yang memang endemik di Sulawesi dan Afrika. Untuk penjelasan sejarah yang lebih lugas, nanti Om @Lelakibugis yang kupas tuntas.

Pembahasan malam itu memang berat, mulai dari sejarah manusia lampau hingga kondisi bangsa yang carut marut. Mulai dari prestasi anak muda yang membanggakan hingga pesepak bola yang dicampakkan oleh negara. Mulai dari romantisme mahasiswa pecinta alam pada wanita pemanjat tebing hingga beban seorang kawan pada nomilal 200 juta. Robusta Papua pun harus diseduh dua kali agar mata tetap melek.

Pagi pun tiba, sunrise telah berlalu meninggalkan kami. Padahal view sunrise di Belae sangat cantik karena matahari akan muncul di antara dua puncak karst yang eksotik. Mungkin semacam petanda agar suatu saat kami diajak lagi oleh Kak Iwan untuk ke Belae. Pasalnya, dari 27 gua yang ada, kami baru memasuki dua gua, berarti masih ada 25 liang yang menanti.

Setelah mencicipi nasi goreng buatan teman, kami pun berjalan sejauh dua kilo meter menuju Leang Sakapao. Menaiki anak tangga sekitar seratus cukup membuat lutut bergetar seperti memainkan drum dobel pedal. Di teras gua kita bisa menikmati pesawahan dari ketinggian 25 meter. Sayangnya sawah sudah selesai panen, tentu akan lebih memanjakan mata lagi jika sawah terisi padi yang sedang menguning atau pun masih menghijau. Dari teras gua, kita masih menaiki tangga kayu yang memiliki 15 anak tangga. Sayangnya, posisi tangga kayu ini kurang baik, tangga yang dibuat untuk dipasang pada kemiringan 45˚ dipasang dengan kemiringan 60˚. Perlu ekstra hati-hati saat naik dan turun pada tangga tersebut.

Rupanya di atas telah ada sekumpulan anak sekolah yang dipandu oleh guru mereka. Kak Iwan pun merasa terpanggil untuk menjelaskan kilas sejarah yang telah terjadi dalam gua tersebut. Mulai dari makna lukisan tangan hingga gambar-gambar babi yang ada di langit-langit gua. Demikian juga mengenai sejarah migrasi manusia prasejarah. Setelah bercerita banyak hal, kami pun turun ke saung sawah. Di saung itu telah menanti masakan Tante Muli, istri Kak Iwan. Kami pun menikmati santap siang yang hangat di bawah teduhan pohon lontar.

Suasana Kelas Di Leang Sakapao. (foto: @enal_18)
Suasana Kelas Di Leang Sakapao. (foto: @enal_18)
Salah Satu Pengunjung Mengamati Rock Painting Di Sakapao. (foto: Iqbal Lubis)
Salah Satu Pengunjung Mengamati Rock Painting Di Sakapao. (foto: Iqbal Lubis)
Kak Iwan Menjelaskan Perbedaan Batu Yang Pecah Karena Dibuat Alat dengan yang Pecah Alami. (foto: @enal_18)
Kak Iwan Menjelaskan Perbedaan Batu Yang Pecah Karena Dibuat Alat dengan yang Pecah Alami. (foto: @enal_18)
Saung Sawah Tempat Tante Muli Menyiapkan Santap Siang Kami. (foto: Mansyur Rahim)
Saung Sawah Tempat Tante Muli Menyiapkan Santap Siang Kami. (foto: Mansyur Rahim)

Isu yang paling menarik bagi saya di perjalanan ini adalah kita tidak hanya berupaya untuk menjaga cagar budaya yang ada di Belae dan sekitarnya. Kita tidak melulu diperhadapkan pada peradaban mana yang lebih tua antara barat dengan timur, antara El Castilo (Spanyol) dengan Sulawesi Selatan (Indonesia). Yang lebih menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana menjaga ekosistem di sekitar karst. Bagaimana menjaga agar fungsi-fungsi karst sebagai penyedia sumber pokok kehidupan tetap lestari. Bagaimana karst mampu menyejahterakan masyarakat yang tidak hanya menebalkan kantong penguasa belaka. Karst Belae adalah bank sejarah sekaligus bank
air. So, what do you do ?

Baca juga di http://lelakibugis.net/kembali-ke-rumah-nenek-moyang-1/. Tulisan Lelakibugis tentang Belae ada tiga bagian.

Menikmati Suasana Di Bawah Teduhan Pohon Lontar. (foto : @enal_18)
Menikmati Suasana Di Bawah Teduhan Pohon Lontar. (foto : @enal_18)
Foto Bersama Keluarga Kak Iwan dan Peserta Kelas menulis Kepo Sebelum Meninggalkan Belae. (foto : Iqbal Lubis)
Foto Bersama Keluarga Kak Iwan dan Peserta Kelas menulis Kepo Sebelum Meninggalkan Belae. (foto : Iqbal Lubis)
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s