Weny; Teman Kelas yang Misterius

Saya sebetulnya bingung ketika hendak meriview sosok Weny Mukaddas. Alasannya sederhana, Weny satu-satunya teman kelas yang belum pernah bertemu dengan saya, apa tah lagi bersapa. Suatu malam ketika ada meet up untuk –Senandung Kopi Kahayya-, katanya dia ada tapi saya tetap jua tak tahu yang mana dianya. Sampai saat sebelas jari ini mengetik, tetap pula kebingungan mau mulai dari mana? Sempat terketik sekalimat judul “Meraba Weny”, lagi dan lagi jari terarahkan ke tombol “DEL”.

Teman di samping saya mengarahkan untuk meriview blognya saja, saya sendiri seorang pemula. Saya pun mengarahkan pencarian dengan kata kunci http://wenymynew.blogspot.com/. Seraya menekan tombol pembuka untuk tiap-tiap judul dalam blog tersebut lalu membacanya. Mata saya menyorot sebuah judul “Mudik dan Kapan Menikah” http://wenymynew.blogspot.com/2015/07/mudik-dan-kapan-menikah.html. Judul yang cukup menggelitik bagi orang yang belum berkeluarga, termasuk saya. Idelanya, mudik adalah perjalanan pulang kampung untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Esensinya adalah membangun keakraban dengan keluarga, terutama orang tua dan saudara. Namun memngapa belakangan mudik selalu dikaitkan dengan pertanyaan “Kapan Nikah?”. Pertanyaan yang singkat, padat dan merayap masuk ke lubuk hati. Bagi sebahagian orang memang pertanyaan tersebut tidak mengenakkan. Tapi bagi saya, soal menikah sama hanya dengan rejeki-rejeki yang lain, sudah ditetapkan olehNya. Jangan sampai karena sebuah pertanyaan, kita merenggangkan hubungan lalu hilanglah makna mudik.

Dari tuliasan-tulisan Weny berikutnya, terlihat batapa iya begitu akrab dengan buku dan bacaan. Banyak yang tidak saya pahami dari tulisan-tulisannya. Maklumlah, saya lebih sering makan bahasa tanaman yang sifatnya terapan. Mari kita masuk ke “#30HariMenulisPuisi”. Saya ambil puisi di hari ke-18 saja, berikut :

Day18

Pada suatu hari yang haru
Semua orang akan melanggar aturan
Asap penyesalan pun mengepul
Menuju muara kesia-siaan
Lalu menguap dan mengumpulkan angin
Meniupkan debu kitab kejadian
Menarik ulur takdir
Hingga harapan meletus
Menghembuskan asap penderitaan
Seperti hujan yang tak pernah habis
Dibalik matahari sang pelaksana titah
– See more at: http://wenymynew.blogspot.com/2014/11/30harimenulispuisi-30days.html#sthash.En8bDN2l.dpuf
Dari puisi di atas dan puisi lainnya, semacam ada kerinduan yang belum tuntas. Maaf kalau saya sok tahu, heheee. Dan supaya saya tidak sok tahu, mungkin Weny bisa menceritakan tentang puisi-puisinya kelak di “Kelas Menulis Kepo”. Ditunggu ya ?

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan Weny menarik untuk dibaca. Soal desain blog, saya tidak bisa berkomentar karena saya pun tak mengerti hal-hal teknis seperti itu. Terakhir yang membuat tanya untuk kesekian kalinya dalam benak saya adalah sebuah gambar dengan letter “W”. Lagi dan lagi kita hanya bisa meraba dan jangan merasa. Weny seolah sosok yang misterius di kelas.

Gambar Sampul Blog Weny.
Gambar Sampul Blog Weny.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s