Matamatahari; Ra’ yang Na’ [tidak] Menjadi Rana

Gambar Header matamatahari.com
Gambar Header matamatahari.com

Media sosial memang memegang peranan dalam mempertemukn seseorang dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tak terkecuali dengan pemilik akun Matamatari ini, mula bincang kami tentu lewat kicauan saat merencanakan pendakian pertama untuk komunitas Jalan-jalan Seru Makassar ke Lembah Ramma. Kalau ditinjau dari nama bekennya, lelaki tinggi kurus ini lebih layak disapa Ra’ (penggambaran matahari), kerimbang Na’ yang terkesan gemulai jika dipanjangkan menjadi Nanha’. Padahal lebih keren jika dipanggil Nasser, penggalan dari nama lengkapnya, Andi Nasser Otto. “Tapi ini bukan soal keren-kerenan” kalimat yang sering diucapnya jika membandingkan sesuatu.

Pendakian Pertama Bersama Na' Di Lembah Ramma.
Pendakian Pertama Bersama Na’ Di Lembah Ramma.

Ketenangan adalah ciri yang khas untuk anak muda penyuka nomor tujuh ini. Karakter eorang pemikir dapat kita lihat dari setiap bait dan frase yang tertuang di blognya, matamatahari.com. Sesuai dengan kalimat yang tertuang di header blognya, “himpun kisah untuk didongengkan kembali pada aufa dan althaf”, membaca isinya seperti larut dalam sebuah dongeng. Atau kita berada pada sebuah kisah pewayangan dengan tutur bahasa yang lembut namun sarat akan makna.

Jangan Tanya soal warna karena yang ia tahu cuma tiga yaitu merah, putih dan hitam. Merah dan putih untuk Indonesia sedangkan merah dan hitam untuk AC Milan. Dalam dunia pendakian, tak perlu ditanyakan lagi kredibilitasnya. Berbekal pelajaran dan pengalaman di Equilibrium Ekonomi Unhas dan MIPALA (Milanisti Indonesia Penggiat Alam), dia pun diamanahkan tugas sebagai Kepala Divisi Gunung dan Sungai di @jalan2Seru_Mksr waktu itu. Sejalan dengan waktu dan jam terbang, saya yakin jiwa kepemimpinannya pun akan tumbuh dan berkembang. Saya semdiri punya harapan besar agar dia menjadi ketua di Pajappa (@Pajappa_).

Kelihaiannya dalam mengolah kata adalah kelebihan lain yang dimilikinya. Kalau kita membuka matamatahri.com, tulisan yang berjudul “Gunung dan Kawanku” terdapat 21 seri. Saya pernah mendengar cerita tersebut di sesi bebas saat mendaki bersama, tak cukup sepuluh menit ceritanya telah usai. Ceritanya dikembangkan seolah cerita fiksi tapi tidak meninggalkan peristiwa intinya. Dengan begitu cerita bisa ia panjangkan.

Dari beberapa tulisan di blognya, Na’ memiliki ingatan kuat, terutama pada masa lalu. Ada hal yang begitu mengakar dalam dirinya, dalam hati dan pikirnya. Tapi dia begitu pandai untuk menyembunyikan kegalauannya. Sajak pada tulisan yang berjudul -Surat Untuk Perempuan yang Sedang I’tikaf- yang berbunyi “Sejak umur sepuluh lapar dan haus mampu kutahan. Sejak lima tahun lalu mengunjungi mall mampu kupuasakan. Lalu berapa lamakah aku mampu memuasakan perasaan-perasaan untukmu?” Ada seseorang yang begitu besar berpengaruh dalam hidupnya. Di bagian akhri tulisannya ia mencurahkan harapan besar pada sosok yang dimaksudnya. “Terakhir, sambil membayangkan cantikmu dengan balutan pakaian ibadah, aku berbisik. Tuhan, jika ia cinta yang baik untukku, jatuhkan aku padanya! Sejatuh-jatuhnya.” Begitu yang saya tangkap dari http://matamatahari.com/2015/07/06/surat-untuk-perempuan-yang-sedang-itikaf/.

“Seorang bisa menjadi tua, tetapi kenangan mestilah abadi.”  Adalah kalimat pembuka pada tulisan lainnya yang berjudul -Untuk Seorang yang Kunamai Masa Lalu. Kalimat itu seperti mensiratkan makna yang begitu dalam akan arti masa lalunya. Dalam hidupnya tak mengenal “move on” seperti yang diistilahkan sekarang ini untuk mencoba keluar dari masa lalu. Ataukah mungkin ia punya pemaknaan yang berbeda dari move on tersebut. Di kalimat akhir sedikit memberi terang tengtang masa lalu baginya. “Sepuluh tahun berlalu, sejak kali pertama kususuri sungai ini. setelahnya, ialah rangkaian ziarah bagi kenangan tentang kau; tepatnya, aku yg telah lalu.” Selengkapnya baca di http://matamatahari.com/2014/12/01/untuk-seorang-yg-kunamai-masa-lalu/.

Karena tulisan yang dipaparkan Na’ berisikan fiksi maka apa yang saya utarakan terhadap isi tulisannya adalah interpretasi subjektif. Namun demikian, saya yakin ada sedikit kilas masa lalu yang memang menginspirasi apa yang ia tuangkan dalam tulisannya. Lebih jauh tentang apa yang Na’ ceritakan, bisa ditinjau di http://matamatahari.com.

***

Tulisan ini saya tulis sebagai bagian dari tugas Kelas Menulis Kepo yaitu #Batusekam (Baku tulis senin kamis). Dimana setip peserta mereview teman kelas berdasarkan waktu yang telah dijadwalkan.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s