Kahayya; Senandung Kopi Di Negeri Dongeng

Eflyrs Senandung Kopi Kahayya
Eflyrs Senandung Kopi Kahayya

Pertama kali mendengar kata Kahayya, saya seperti dibawa ke negeri dongeng 1001 malam. Seperti mendengar nama tempat yang terletak di Timur Tengah atau paling tidak di Asia Barat. Siapa sangka kalau Kahayya ini merupakan sebuah tempat di Bulukumba. Asal penamaan Kahayya dari tumbuhan yang dikenal sebagai penghasil cafein. Dalam bahasa Arab, sebutan kopi adalah “Qahwa”.

Dalam bahasa Konjo, Kahayya berasal dari kata “KAHA”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, “KAHA” berarti “ KOPI“. Kata “KAHA“ ini kemudian ditambah akhiran “YYA” sehingga menjadi “KAHAYYA”. Penambahan “YYA” menunjukkan suatu tempat. Jadi bisa disimpulkan bahwa “KAHAYYA” adalah sebuah wilayah atau tempat yang terdapat banyak kopi. Contoh lain, “Jonga-yya” dari kata dasar “Jonga” yang artinya rusa. Setelah ditambahkan –yya berarti tempat perburuan atau tempat banyak jonga (rusa sebagai binatang buruan).

Rasanya memang seperti bermimpi berada di Desa Kahayya. Sebuah desa yang terletak di sebelah utara Kota Kabupaten Bulukumba. Lembah yang indah dengan deretan perbukitan di antara Pegunungan Lompo Battang dan Pegunungan Bawakaraeng. Kahayya terletak pada ketinggian antara 1.000 – 1.600 meter dari permukaan laut. Udara yang dingin sudah tentu membuat kita enggan untuk melepaskan selimut hangat di desa yang luas wilayahnya 1.468 Ha ini.

Tak perlu ditanyakan lagi apa aktivitas perekonomian masyarakat Kahayya. Separuh dari total luas desa diperuntukkan untuk aktivitas bercocok tanam dengan rincian 319 Ha untuk pertanian dan 468 Ha sebagai lahan perkebunan. Lahan pertanian diperuntukkan untuk menanam jagung dan tanaman sayur-sayuran. Sedangkan untuk tanaman perkebunan dimanfaatkan dengan menanam tembakau, cengkeh dan sudah pasti kopi yang menjadi komoditi andalan di tanah ini. Tak tanggung-tanggung, luas pertanaman kopi mencapai 320 Ha. Kopi yang dibudidayakan adalah arabika, di beberapa titik masih terlihat pokok-pokok robusta. Di beberapa titik pandang, cengkeh mulai melakukan ekspansi perluasan lahan tanam.

Intuisi mulai bekerja saat memasuki batas dusun Kahayya. Bentang alamnya menyimpan makna yang tersirat. Mulai dari indahnya bunga-bungaan hingga lezatnya buah-buahan yang kaya manfaat. Namun, di sisi lain ada raksasa yang terdiam seolah menunggu kesempatan untuk datang meneror. Kondisi geografis Kahayya akan membuat angin lembah dan angin gunung berada pada titik bencana di waktu-waktu tertentu, terutama saat peralihan musim. Dari data yang disajiakan di profil desa, terlihat angka yang sama antara luas total desa dengan kawasan rawan bencana angin topan. Setelah di-cross check dengan Bang Fery, salah satu fasilitator dari Indonesia Movement Project (IMP) yang juga putra Bulukumba, ia membenarkan bahwa setiap tahun ada bencana angin puting beliung. Dari kejadian terakhir, hampir sepuluh rumah dilaporkan rusak parah. Di sejumlah titik, seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di sektor pertanian, bukaan lahan yang tidak diperhitungkan juga berdampak pada terjadinya bencana longsor. Dari data yang ada, separuh wilayah Kahaya masuk dalam rawan longsor. Data itu bisa meningkat jika aktivitas pertanian tidak mengikuti kaidah pembukaan lahan.

Sadar akan hal itu, semangat teman-teman IMP patut diacungi jempol. Dari visinya, “Menciptakan keunggulan lokal (masyarakat) melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi”, ada tiga hal yang saya garis bawahi. Tiga aspek tersebut adalah keunggulan lokal, pendidikan dan kemandirian ekonomi. Keunggulan lokal dapat berupa bentang alam yang indah, maupun dari hasil pertanian, dalam hal ini kopi sebagai komoditi unggulan.

Melalui forum singkat dengan Kepala Desa Kahayya, Bapak Abdul Rahman, saat menyambut rombongan kami di kediamannya, beliau mengutarakan bahwa selama ini kopi Kahayya hanya dikenal sebagai kopi Malakaji. Orang-orang dari malakaji, Gowa, datang membeli kopi di Tanah Kaha lalu menjualnya dan mengakui kalau itu kopi Malakaji, bukan kopi Kahayya. Bisa jadi ketika terjual ke Enrekang akan beralih nama lagi menjadi kopi Enrekang, lalu Kahayya hanya negeri dongeng dengan masyarakatnya yang bertani kopi.

Tak dipungkiri lagi, pendidikan sudah merupakan kebutuhan dasar. Melalui aktivitas di taman baca, teman-teman di IMP sadar betul akan pentingnya pemenuhan pendidikan terutama bagi anak-anak. Anak-anak tersebutlah yang nantinya merupakan generasi penerus yang menahkodai pembanguanan desa dan mengontrol kemudi regulasinya. Berdirinya dua rumah baca di Desa Kahayya merupakan implementasi nyata dari perjuangan mereka yang sudah menginjak tahun kedua ini. Dalam salah satu misinya, IMP menegaskan bahwa melalui model pendidikan alternatif akan terbentuk masyarakat mandiri, berkarakter, religius, dan memiliki kepedulian sosial. Selain sebagai perpustakaan untuk masyarakat, taman baca juga difungsikan sebagai taman Al-qur’an dan pos penyuluh desa seperti pertanian dan kesehatan.

Salah Satu Model Taman Baca Di Kahayya.
Salah Satu Model Taman Baca Di Kahayya.
Salah Satu Aktivitas Di Taman Baca yang Ada Di Kahayya.
Salah Satu Aktivitas Di Taman Baca yang Ada Di Kahayya.

Benar bahwa kemandirian suatu desa hanya bisa tercapai jika perekonomian desa stabil. Namun, bagaimana meningkatkan stabilitas perekonomian masyarakat yang memiliki 281 Kepala Keluarga (KK) yang tergolong miskin dari total 325 KK ? Secara hitung-hitungan dari tanaman yang dibudidayakan dengan luas area pertanaman, seharusnya kondisinya tidak demikian. Coba bayangkan, kopi panen sekali setahun, cengkeh dua kali, demikian juga tembakau. Jagung bisa panen tida kali sementara sayur-sayuran bisa tiga sampai empat kali panendalam setahun. Peningkatan kapasitas petani melalui pembinaan kelompok tani mungkin akan memberi solusi. Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk mengubah mindset petani. Sulit memotong rantai panjang para tengkulak yang selama ini menikmati keuntungan dari hasil panen petani. Hal ini juga yang menjadi tantangan bagi kami di Desa Bangkit Sejahtera (DBS) pada sebelas desa yang kami dampingi. Saat ini IMP mendampingi kopi Kahayya dengan mengenalkannya pada coffee shop di Makassar.

Senandung Kopi Kahayya banyak memberi kita inspirasi bahwa dengan semangat yang gigih kita bias berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat. Kegiatan yang diisi oleh Daeng Khrisna Pabichara dan Heri (puisi), Abdul Hakim Dg. Ngalle (dongeng), Arif Budiman (Sinrilik), Ryza “JustBeGood” dan MJ27 (akustik), serta Sanggar Seni Al Farabi dan Aliyah Kindang (tari)berlangsung tanpa adanya sponsor. “Inisiasi dari teman-teman IMP dan swadaya masyarakat Kahayya serta partisipasi peserta dan pengisi acaralah yang menghidupi kegiatan tersebut” tutur Om Fery lewat pembicaraan kami di line chat.

Suasana Malam Di Senandung Kopi Kahayya.
Suasana Malam Di Senandung Kopi Kahayya.

Semoga ke depannya masih ada acara seperti ini di Kahayya, paling tidak saya berkesempatan untuk menyeruput kopi dan memetik bancara (sebutan masyarakat Kahayya untuk blackberry). Ataukah menikmati indahnya anggek bambu yang bermekaran. Semoga acara yang seperti ini dapat diadopsi oleh desa-desa lain sebagi upaya menunjukkan identitas desanya. Saatnya revolusi harus dimulai dari desa.

 

Data yang disajikan bersumber dari data primer dan data statistik desa.

Anggrek Bambu yang Tumbuh dan Berbunga dengan Indah Di Kahayya.
Anggrek Bambu yang Tumbuh dan Berbunga dengan Indah Di Kahayya.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s