Refleksi Tomat Pada Pertanian yang Latah

Baru-baru ini, kita menyaksikan berita yang mencengangkan di berbagai sosial media tentang tomat yang berserakan di pinggir jalan. Melalui akun facebooknya, tanggal 11 Agustus 2015 lalu, Fikka Selfiana mengawali postingan tersebut. Tidak hanya di Garut, di kota lain seperti Yogyakarta juga terjadi hal yang sama. Menurut salah satu komentator di postingan tersebut, bahwa tomat dibuang di sekitar pertanaman salak dengan harapan bisa jadi pupuk kelak. Lewat group line Indonesia Berkebun, saya mulai melihat capture postingan tersebut. Dalam group itu pun kami meluangkan waktu untuk berbicara banyak, termasuk program-program yang akan dilakukan ke depan.

Postingan Fikka Selfiana Tentang Tomat yang Dibuang di Pinggir Jalan. (sumber: Group Line Indonesia Berkebun)
Postingan Fikka Selfiana Tentang Tomat yang Dibuang di Pinggir Jalan. (sumber: Group Line Indonesia Berkebun)

Ini bukanlah hal yang baru di dunia pertanian. Di bilangan tahun 1990-an, ketika harga cengkeh anjlok, banyak petani yang kemudian menebang pohon cengkehnya. Mereka kemudian mengganti cengkeh dengan tanaman kakao dan vanili yang menjadi primadona kala itu. Hingga pada era dimana vanili mengalami masa suram di awal tahun 2000-an, hal yang sama terulang lagi. Vanili tidak terurus dan dibiarkan begitu saja.

Menyikapi persoalan tomat di atas, kita bisa berhitung berapa kerugian yang dialami petani. Mulai dari biaya olah tanah (traktor, pupuk kandang dan tenaga kerja). Lanjut pada biaya pemeliharaan (penyiangan, pemangkasan, pemasangan ajir, pemupukan dan pengendalian hama penyakit), sampai biaya panen dan pascapanen (tenaga panen dan pengangkutan). Itu baru tanaman semusim yang siklus hidupnya pendek. Bagaimana dengan cengkeh dan vanili yang merupakan tanaman tahunan ?

Kejadian-kejadian seperti ini memang sangat disayangkan, apa lagi di negeri yang berlabel negara agraris ini. Ada apa dengan kondisi pertanian negara yang memperingati hari jadi ke-70nya ini? Menurut Yansen (2014) dalam bukunya yang berjudul Revolusi dari Desa, bahwa pemerintah sejak kemerdekaan sampai saat ini hanya sukses menjalankan dan menghidupkan birokrasi pemerintahan saja. Mereka silih berganti menjalankan strategi, yang sebenarnya sama saja. Ibarat sebuah barang dagangan yang hanya berganti barang kemasan.

Kemana kebijakan pembangunan pertanian kita diarahkan? Selama ini kita cenderung berkutat pada masalah rendahnya produktivitas lahan. Lalu kita menggeneralkan masalah tersebut pada semua komoditi yang diusahakan di seluruh daerah. Dampaknya, kita kemudian tidak mampu melakukan regulasi terhadap surplus produk primer dari meningkatnya produktivitas lahan pertanian kita. Pasang surut harga produk pertanian pun tak terelakkan. Padahal keinginan petani sangat sederhana, petani hanya butuh kepastian harga yang stabil.

Saya teringat sebuah mata kuliah terntang perencanaan pembangunan pertanian. Yang paling membekas diingatan adalah pewilayahan komoditi. Asumsinya adalah Tuhan menciptakan negara ini dengan berbagai karakter bentang alam dan penghuninya, termasuk manusia dan tumbuhan. Itu berarti bahwa setiap daerah memiliki potensi yang berbeda. Tinggal bagaimana mengangkat potensi tersebut menjadi optimal untuk pemenuhan kebutuhan, terutama pangan pokok (padi, jagung, sorgum, ubi, dan sagu).

Untuk tanaman hortikultura pun seharusnya pemerintah lewat penyuluhnya bisa mengintervensi pengembangan komoditi. Yang terpenting di sini adalah seorang penyuluh harus menjadi seorang perencana, bukan pelaksana tugas semata. Seandainya pemerintah mampu melakukan pembatasan luas produksi pada kasus tomat di atas, panen tidak akan terbuang percuma. Padahal harga buncis pada waktu itu mahal (kemungkinan stock terbatas). Dengan memetakan komoditi berdasarkan luasan panen dan kebutuhan pasar maka stock hasil panen akan stabil, demikian juga harga. Tinggal bagaimana melakukan kontrol lewat pemberdayaan kelompok-kelompok tani yang ada.

Kasus cabe dan bawang merupakan masalah yang tidak pernah absen tiap tahun. Hal ini terjadi karena tidak adanya pemetaan pengembangan komoditi. Faktor alam, seperti musim hujan sedikit diabaikan di sini karena sudah banyak teknologi yang bisa dilakukan. Setiap petani semaunya saja menanam suatu komoditi. Ada petani yang dari dulu memang sebagai petani cabe misalnya, ada juga karena membaca peluang kapan cabe dibutuhkan banyak dan ada yang memang ikut-ikutan karena harga pasar yang bersahabat. Kategori kedua dan ketiga inilah yang sering membahayakan. Kategori kedua adalah mereka yang punya modal besar sehingga fluktuasi harga cenderung tidak berpengaruh nyata. Sementara kategori ketiga kita masukkan saja dalam kategori petani latah. Petani yang latah hanya mengupayakan apa yang mereka nilai menguntungkan dan cenderung mengabaikan kepentingan bersama. Mereka selalu ikut arus kemana harga menguntungkan. Ini yang merusak system kelembagaan masyarakat tani.

Pada mula markisa dataran rendah mulai dibudidayakan, buah ini kemudian memiliki prospek nilai jual. Karena masyarakat menilai tanaman ini mudah dalam tahap budidayanya, serentak mereka menanam, baik skala budidaya di kebun, maupun skala pekarangan. Dasarnya, masyarakat cuma latah untuk menanam dan tidak diawali dengan perencanaan yang matang, buah yang dihasilkan pun tidak berarti. Pasar yang pada mulanya menjanjikan hilang entah kemana. Yang dirasakan hanya kerugian belaka, baik materi maupun tenaga. Sekarang, harga markisa mulai menjanjikan, tinggal bagaimana mengubah mindset petani untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan pasar dan bagaimana pemerintah melakukan regulasi terhadap luasan panen dan tonase yang dihasilkan.

Kembali ke soal tomat di atas, akan berbeda jika mindset petani kita berubah. Terlepas dari ada atau tidaknya pesan khusus yang disampaikan pada aksi tersebut, tak semestinya petani membuang hasil keringat dan banting tulangnya begitu saja. Sudah sepantasnya petani menaikkan levelnya. Kalau dulu fokus pada peningkatan produksi, sekarang bagaimana mengubah produk primer menjadi produk sekunder. Buah tomat yang notabenenya merupakan produk pertanian yang mudah rusak (perishable) butuh kejelian dalam penanganan pascapanennya. Mulai dari sari buah, jus, saos, dan selai bisa menjadi produk yang tentu bisa meningkatkan nilai jual buah tomat. Bukankah tujuan pembangunan pertanian adalah meningkatkan pendapatan petani lalu memandirikan petani dan pada akhirnya mensejahterakan petani? Pertanyaan selanjutnya, siapa yang harus berjuang untuk mendampingi petani? Silakan jawab dalam hati.

Gila, jika kita mengharapkan hasil berbeda dengan melakukan cara yang sama” ~Albert Einstein~

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s