Mengenal Pembela Kebenaran dalam Kesehariannya

Senyum Manis Om Ian dalam Posenya (sumber: mzuh.wordpress.com)
Senyum Manis Om Ian dalam Posenya (sumber: mzuh.wordpress.com)

Sushi Bizkid malam itu begitu ramai oleh keriuhan para naga Pajappa. Rupanya waktu itu adalah meet up untuk membahas teknis pelaksanaan educamp pertama dari salah satu komunitas jalan-jalan di Makassar. Kegiatan ini memang terbuka untuk semua kalangan. Di daftar hadir, terdapat nama Ian. Melalui perkenalan antar calon peserta, di situlah saya pertama kali tahu raga pria bernama Ian ini. Sebenarnya, bukan kali pertama saya bertemu dengannya, hanya kenal wajah saja. Setelah mengikuti educamp di Bellabori, Parangloe, berikut intensitas pertemuan di Kedai Pojok Adhyaksa tentu semakin membuat saya akrab dengan lelaki 25 tahun ini. Dari blognya, pria dilahirkan di kota Makassar (ujung pandang), 21 Januari 1990. Oleh orang tuanya diberi nama Muhammad Zia Ul Haq yang berarti pembela kebenaran. Setelah tahu nama aslinya, saya pun bertanya dalam hati, nyambung gak yah dengan nama sapaannya?

Sesuai dengan arti namanya, pembela kebenaran. Ian membenarkan tentang adanya konflik internal yang terjadi dalam komunitasnya bernaung. Yang luar biasa adalah bagaimana Om Ian (sapaan saya) ini melihat konflik bukan pada masalah tapi pada sebuah langkah positif untuk saling mengenal karakter di antara mereka. Ia cenderung melihatnya sebagai bagian dari proses. Seperti yang diungkap dalam blognya yang berjudul “Refleksi Satu Tahun Komunitas 100 Guru Makassar” bahwa Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik. Demikian halnya dengan kehidupan komunitas. Anggota-anggota komunitas senantiasa dihadapkan pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif: konflik konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang maupun kelompok terhadap pihak lain), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-ide yang berkembang.

Namanya pembela kebenaran, tentu tidak lepas dari rasa nasionalisme yang kuat. Pria yang lulus di Program studi pendidikan bahasa inggris universitas muhammadiyah makassar ini. Lewat postingannya di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, pria yang sekarang melanjutkan studi program magister pendidikan bahasa inggris di universitas negeri makassar ini berpetisi. “Sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa ini seperti kenaikan harga bbm, melonjaknya harga kebutuhan pokok, masih banyak anak-anak yang tidak sekolah, tidak meratanya pendidikan, jaminan kesehatan bagi rakyat. Namun peran pemerintah saja tidak serta merta dapat menyelesaikan segala masalah tersebut. Dibutuhkan peran serta masyarakat bangsa ini untuk bersama-sama bergotong royong membantu pemerintah.”

Seorang pembela kebenaran tidak cukup dengan berani mengungkapkan sesuatu dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Seorang yang benar adalah seorang yang senantiasa menjadikan belajar sebagai budaya. Di sela-sela aktivitas hariannya yang menghabiskan waktu di Kantor Urusan Internasional Universitas Muhammadiyah Makassar. Pria jangkung ini juga aktif mengikuti pelatihan penulisan di Kelas Menulis KEPO, termasuk juga saya. melalui kegiatan-kegiatan produktif di komunitas 1000 Guru Makassar, tergambar semangat Om Ian dan kawan-kawan untuk tetap belajar melalui mengajar. Tetap semangat Om Ian untuk berbagi sampai ke pelosok-pelosok negeri. Sukses terus untuk menginpirasi karena mereka adalah generasi masa depan yang bisa jadi calon pemimpin bangsa.

Tulisan ini adalah tantangan dari kelas menulis Kepo untuk meriview teman-teman kelas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s