Ujung Bulu; Melihat Jeneponto dari Sudut Berbeda

Tambak Garam Di Bangkala, Jeneponto.
Tambak Garam Di Bangkala, Jeneponto.

Apa yang timbul di pikiran kalian kalau mendengar kata Jeneponto? Yang umum terbesit adalah daerah yang kering dengan garam sebagai produk utamanya. Tapi cobalah berjalan ke arah utara kota Jeneponto, kalian akan mendapatkan sesuatu yang berbeda di kota berkuda itu. Kalian akan melihat Tanah Turatea dalam konteks yang berbeda di Ujung Bulu. Ujung Bulu adalah desa yang berada dalam administrasi Kecamatan Rumbia, diapit langsung oleh Kabupaten Gowa (Cikoro) dan Kabupaten Bantaeng (Lannying). Berada pada ketinggian 1200 – 2047 mdpl di kaki Gunung Lompobattang. Untuk sampai di Ujung bulu, kita dapat menempuh tiga jalur yang berbeda, baik dari Jeneponto sendiri maupun dari Gowa dan Bantaeng. Sebanyak lebih kurang 2000 jiwa penduduk yang tersebar di tujuh dusun dengan total luas sekira 6600 Ha.

Pemandangan Sungai Kelara dari Tolo Utara, Pemandangan yang Dijumpai Saat Menuju Ujung Bulu via Jeneponto.
Pemandangan Sungai Kelara dari Tolo Utara, Pemandangan yang Dijumpai Saat Menuju Ujung Bulu via Jeneponto.

Sebagaimana masyarakat pedesaan lainnya, warga Desa Ujung Bulu secara umum beraktivitas sebagai petani dan peternak. Karena berada di dataran tinggi, tentu komoditi yang dikembangkan tidak jauh dari tanaman hortikultura seperti kol, wortel, bawang daun, dan labu siam. Di desa ini juga dijumpai pertanaman tembakau dan sudah pasti kopi yang menjadi komoditi andalannya. Di beberapa titik terlihat sapi dan kambing yang menjadi peliharaan warga desa. Yang bagus di sini adalah adanya badan usaha yang dikelolah oleh masyarakat desa untuk mengubah limbah organik menjadi pupuk organik berupa kompos.

Aktivitas Umum Masyarakat Desa Ujung Bulu.
Aktivitas Umum Masyarakat Desa Ujung Bulu.

Untuk komoditi perkebunan, kopi arabika yang memberikan hasil terbaik jika dibudidayakan pada daerah dengan ketinggian di atas 1200 mdpl juga banyak ditemui. Adalah upaya peningkatan nilai jual kopi, melalui inisiasi pemerintah desa, dibualah kelompok petani untuk menghasilkan kopi cita rasa madu. Melalui perlakuan tertentu, kopi yang dipanen matang diproses lebih lanjut sehingga menghasilkan aroma yang menyerupai madu. Mengenai proses pembuatan kopi madu, saya telah tuliskan di artikel sebelumnya, di https://enalgattuso8.wordpress.com/2015/06/15/kopi-madu-dan-dinginnya-malam-ujung-bulu/.

Ada hal yang secara turun temurun juga dipertahankan di Desa Ujung Bulu. Ma’mancak adalah seni pertunjukan silat kampung yang biasa dijumpai jika ada acara atau keramaian di desa. Mulai dari akikah hingga acara pengantin, ma’mancak menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Ujung Bulu. Pertunjukan ini cenderung diperankan oleh anak-anak dan diiringi oleh musik sederhana.

Pertunjukan Ma'manca (Silat Kampung) di Ujung Bulu.
Pertunjukan Ma’manca (Silat Kampung) di Ujung Bulu.

Bila kita tidak segan untuk mendaki, kita bisa menikmati hamparan perkampungan dari ketinggian. Udara dingin khas pegunungan pun sangat terasa di sini. Bonto Lojong (Bonto = daratan, Lojong = cekungan) sekilas terlihat seperti wajan kosong atau stadion. Lereng yang mengelilingi lembah membuat lembah seolah tertutup. Vegetasi yang dominan di sini adalah Kayu Putih (Eucaliptus sp.) dan cemara. Ada juga stawbery hutan (Raspberry) yang bisa menjadi buah segar yang siap santap. Namun, untuk camping di Bonto Lojong, kita harus mempersiapkan air sesuai dengan kebutuhan selama waktu camping. Di musim penghujan, lembah Bonto Lojong akan menjadi danau musiman, terlihat dari beberapa vegetasi tumbuhan air yang masih bertahan. Moment terbaik untuk menikmati indahnya alam Bonto Lojong adalah malam dan pagi hari. Dimalam hari kita bisa menyaksikan gugusan bintang dan kerlap-kerlip lampu di kota. Pada pagi hari, saat kabut berada pda lingkarn cekungan lembah. Tidak ada sumber air yang dekat dengan parabol Ujung Bulu ini. Harus turun ke kaki bukit untuk mengambil air itu pun jika kaki masih sanggup untuk melangkah.

Bonto Lojong, Salah Satu Destinasi Tujuan di Ujung Bulu.
Bonto Lojong, Salah Satu Destinasi Tujuan di Ujung Bulu.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s