Kedai Pojok Empat Agustus

Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, saat tiba di Kedai Pojok, kami selalu menarik kabel untuk keperluan charger. Setelah semua perangkat terpasang pada terminal listrik, semua lalu duduk seperti sebuah konferensi. Cerita pun berlalu mulai dari candaan hingga hal yang lebih serius. Apa saja yang terlintas di kepala, akan diceritakan.

Pekan ini, Makassar sedang banyak kunjungan dari berbagai provinsi di Indonesia. Mukhtamar Muhammadiyah yang diselenggarakan di kota Makassar membuat kota ini menjadi magnet yang menarik bagi simpatisan salah satu ormas Islam tersebut. Beberapa ruas jalan pun dikabarkan padat hingga macet.

Di sudut kota bagian utara, terdengar kabar telah terjadi ledakan di daerah Pattene. Diduga, dentuman tersebut bersumber dari bom ikan yang meledak. Serentak membuat geger masyarakat kota. Pasalnya, hari itu bertepatan dengan orang nomor satu negeri ini sedang bertandang ke Makassar. Ledakan tersebut membuat beberapa rumah rusak dan menewaskan dua anggota keluarga mereka.

Hijau daun berganti kuning hingga kecoklatan. Tak lama lagi gugur menutup tanah lalu lapuk dimakan rayap. Awan putih entah kemana, yang tampak hanya biru sejauh mata memandang. Mengisyaratkan hujan masih lama datang. Hari sebelumnya beredar kabar, seorang pendaki tenggelam hingga tak dapat diselamatkan. Sublim Danau Tanralili menjadi saksi betapa kuasanya Tuhan pada seluruh ciptaanNya. Dapat dibayangkan suasana di sekitar danau kala itu. Wajah-wajah pendaki yang terdiam bagaikan potret usang dalam bingkai tua di pojok gudang.

Secara psikologi, kami yang biasa berkegiatan di alam terbuka ikut terusik. Pembicaraan tentang gender dan hijab ikut bergeser. Layaknya filsuf yang merumuskan sebuah metodologi, kami pun mengkaji tentang kondisi kepecintalaman. Hingga akhir pembicaraan, kami simpulkan bahwa memang terjadi degradasi ideologi dan identitas antara pendaki atau pecinta alam yang dulu dengan sekarang. Ada etika yang kemudian terabaikan.

****
Tulisan ini adalah salah satu tugas di Kelas Menulis Kepo. Semua peserta yang hadir menyebutkan kata yang muncul di benaknya secara spontan. Kata tersebut adalah sebagai berikut : hijab, potret, keluarga, hijau, tenggelam, mukhtamar, psikologi, gender, lapuk, ideologi, kabel, filsuf, sublim dan awan. Semua kata tersebut harus dituangkan ke dalam sebuah cerita.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s