Pentingkah Menjaga Etika Saat Berada Di Alam Terbuka ?

12 - Copy
Menikmati Ketenangan Di balik kabut Tipis Danau Tanralili

Aktivitas berkegiatan di alam terbuka dalam kurun waktu tiga tahun terakhir memang mengalami peningkatan. Tak ada yang akurat, namum bisa dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang terparkir di tiap posko-posko desa terakhir. Sejak penayangan film tentang berkegiatan di gunung, animo berkegiatan di alam terbuka ikut bertambah. Munculnya berbagai macam kelompok-kelompok traveler yang mencari jati diri di dunia maya pun menjamur di mana-mana. Bahkan ada yang tak tanggung-tanggung menyebut namanya penakluk alam, penakluk gunung ini dan gunung itu.

Sebenarnya bukan masalah jika kelompok-kelompok penggiat alam tersebut mampu menekankan kepada anggotanya untuk mematuhi kaidah berkegiatan di alam terbuka. Tapi faktanya adalah volume sampah yang semakin banyak di gunung serta berkurangnya populasi pohon yang menjadi korban untuk perapian. Bagaimana dengan aktivitas lainnya? Sekarang ini marak para pendaki menyalakan petasan dan speaker musik. Padahal tanpa ke gunung, mereka lebih banyak menemukan hal serupa di kota. Mengapa mesti dibawa ke gunung ? Sekadar mencari sensasi atau tampil beda ? Belum lagi berbagai macam teriakan-teriakan yang kurang jelas apa tujuannya. Tak hanya mengganggu telinga bagi para pencari ketenangan. Tentu hal-hal seperti itu akan mempengaruhi interaksi dengan makhluk lain yang ada di tempat tersebut.

Bukan hal yang baru sebenarnya, di tahun 80-an, vandalisme di alam terbuka telah marak dilakukan oleh para pendaki. Seperti yang disampaikan dalam lirik lagu Kepada Alam dan Penciptanya yang dinyanyikan oleh Ritta Rubby Hartland. “Ketika aku daki dari gunung ke gunung, disana kutemui kejanggalan makna. Banyak pepohonan merintih kepedihan, dikuliti pisaumu yang tak pernah diam. Batu-batu cadas merintih kesakitan, ditikam belatimu yang pernah tak ayal. Hanya untuk mengumumkan pada khalayak, bahwa di sana ada kibar benderamu.”

Secara garis besar, etika berkegiatan di alam terbuka telah disepakati dalam tiga point utama. Dilarang mengambil sesuatu selain gambar, dilarang meninggalkan sesuatu selain jejak dan dilarang membunuh sesuatu selain waktu. Namun ketiga aturan dasar ini tidak serta merta dapat dipahami dan dijabarkan kedalam aturan-aturan yang lebih khusus. Sehingga yang terjadi adalah memetik bunga edelweis secara serampangan hingga mencabutnya, batu-batu beralih fungsi menjadi papan vandalis. Pohon-pohon ditebang untuk hangat semalam dan “banyak lagi, bahkan teramat banyak untuk disebutkan” kata Iwan Fals dalam lagu Bongkar.

Etika yang umum terabaikan adalah bagaimana menghormati dan menghargai adat istiadat setempat. Penggiat alam kekinian cenderung mendatangi suatu tempat dengan gayanya masing-masing. Hanya segelintir yang mencoba untuk mencari tahu aturan main masyarakat sekitar, tentang apa yang ditabukan bahkan dipantangkan. Bukan lagi soal mitos atau bukan. Toh nenek moyang kita banyak yang melahirkan sesuatu dalam bentuk mitos karena mereka belum mampu untuk merasionalisasikan maksudnya. Ada juga mitos yang lahir semata-mata menyiratkan seruan untuk menjaga, sehingga kadang kesannya berupa menakut-nakuti. Misalnya, ada larangan untuk tidak berktivitas di sekitar sungai atau danau di waktu magrib atau malam hari. Maksud yang bisa diinterpretasikan adalah pada waktu seperti itu, sudah jarang manusia beraktivitas. Sementara itu, binatang liar bahkan buas mendekati air untuk minum atau mencari makan. Jika terjadi serangan dari binatang tersebut maka akan sulit mencari bantuan. Atau bisa jadi di tempat tersebut pernah terjadi serangan atau hal buruk di jam-jam seperti itu.

1
Menikmati Kedekatan dengan Sang Pencipta.

Dalam surah Al A’raf ayat 55-56, Allah berfirman “Janganlah kalian merusak bumi ini (dengan kesyirikan dan kemaksiatan), sesudah bumi ini diperbaiki (dengan tauhid dan ketaatan), maka sembahlah Allah dengan rasa takut dan mengharap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik, (yaitu orang-orang yang memperbaiki dunia ini dengan tauhid dan ketaatan kepada Allah).” Ayat ini menegaskan kepada manusia yang ditunjuk sebagai khalifah untuk senantiasa menjaga bumi ini. Bukankah mencintai alam dan keidahannya adalah cara untuk mencintai Penciptanya ? Bukankah menjaga kelestarian lingkungan adalah bentuk ketaatan terhadap Allah ?

Tidak hanya pengetahuan secara normatif seperti di atas yang perlu di pahami. Ada hal yang sifatnya lebih teknis yang harus dimiliki oleh seorang penggiat alam. Seorang penggiat alam harus selalu memperhatikan kondisi fisik. Olehnya itu, pendakian atau kegiatan apa pun yang akan dilakukan harus dengan perencanaan. Perencaan ini mengacu pada kesiapan fisik, bukan pada waktu kosong dan ajakan teman. Tidak sampai di situ, perencaan yang baik tentunya sudah melakukan pengkajian terhadap kawasan yang akan didatangi. Pengkajian dapat berupa pengetahuan tentang regulasi iklim dan cuaca setempat. Ketidaktahuan akan hal ini akan berakibat fatal meskipun persiapan fisik telah dilakukan.

Saya teringat sebuah cerita teman saat melakukan pendakian di puncak tertinggi Sumatera, yakni Gunung Kerinci. Secara fisik, mereka sudah mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya. Rugi dong jauh-jauh dari Sulawesi dengan dana yang tidak sedikit, jika hanya persoalan fisik mereka mundur. Bahkan informasi tentang kawasan yang masih sering dijumpai binatang buas pun mereka telah data. Beruntung dalam tim mereka, ada yang sudah tahu betul kondisi lokal. Memang cuaca saat itu sedang kurang bersahabat, padahal sesaat lagi mereka akan menjejakkan kaki di puncak kedua tertinggi Indonesia, setelah Cartenz di Jaya Wijaya. Setelah berembug dengan tim, mereka sepakat untuk turun karena tekanan gas beracun sangat membahayakan hingga mengancam keselamatan jiwa jika pendakian dipaksakan untuk memeluk triangulasi. Ini yang saya maksud dengan pengetahuan terhadap regulasi hal-hal khusus suatu tempat.

Banyak hal yang tanpa perhitungan juga sering dilakukan saat berkegiatan di alam terbuka. Membawa barang-barang yang tidak penting dan cenderung tidak digunakan saat berkegiatan justru akan menambah beban. Masih beruntung jika memperhatikan kaidah dalam packing. Termasuk kebutuhan konsumsi selama berada di lokasi pun harus diperhatikan. Jika perlu suaikan dengan angka kebutuhan kalori.

Termasuk mendirikan camp, harus dengan perhitungan. Jangan mendirikan camp di lokasi yang masih terjaga kealamiaannya. Hindari mendirikan tenda di lokasi yang kondisi tanahnya labil atau efek alam lainnya baru saja terjadi. Jangankan untuk berenang, memasang tenda seharusnya tidak boleh berjarak terlalu dekat dengan sumber air. Contoh di Danau Tanralili, mungkin karena semakin ramai di kunjungi terutama di waktu akhir pekan, pendirian camp tidak lagi mematuhi kaidahnya. Di beberapa titik, banyak vegetasi yang dirusak untuk melapangkan campsites mereka. Ada juda yang nekat mendirikan tenda di kawasan yang masih sering mengalami kerikil lepas.

S__6258706
Campsites yang Mengalami Perluasan Area.

Perhitungkan kenyamanan diri dan orang lain. Toh kita berkegiatan di alam terbuka bukan untuk mencari susah tapi bagaimana memanfaatkan alam sebagai ruang belajar yang kaya. Teriakan lazimnya dilakukan pada kondisi terdesak seperti meminta pertolongan. Tapi coba lihat sekarang, beragam suara yang tidak jelas maksudnya terdengar di sana sini. Parahnya lagi jika mempermainkan diri pada kondisi seolah terancam. Dari kesaksian Adnan, salah satu penggiat alam dari Pajappa, sebelum korban betul-betul tenggelam di Tanralili. Dia dan rekannya sering mengkondisikan diri seperti orang yang tenggelam sembari berteriak untuk meminta pertolongan. Entah untuk mencari perhatian, tapi itu berdampak buruk jika kejadiannya yang dicandakan terjadi. Faktanya demikian, karena dianggap bercanda, pertolongan pun terlambat.

Ada yang mengatakan bahwa untuk mengenal dengan baik siapa kawanmu, ajaklah mendaki. Itu ada benarnya, sebab seorang pendaki atau penggiat alam harus jujur pada diri sendiri. Seorang penggiat alam, baik di gunung maupun di laut dan kedalaman, harus mengetahui batas limitnya. Memaksakan kehendak di atas batas toleransi tubuh akan berakibat fatal. Jujur saja, katakan lelah jika lelah, katakan tidak sanggup jika memang tidak sanggup. Nikmati perjalananmu dan buatlah berkualitas pengalamanmu.

10
Kondisi Campsites Danau Tanralili 17 Oktober Tahun Lalu.

Tentunya masih banyak aturan yang lebih khusus sesuai dengan karakteristik kawasan yang dituju. Kesempatan selalu ada untuk belajar. Mari saling memberi jaminan terhadap kualitas pengalaman saat berkegiatan di alam terbuka. Biarlah riak air, hembusan angin, nyanyian burung dan serangga malam memainkan harmoninya. Seberapa banyak pengetahuan kita tentang semesta, tidak akan mampu menghitung misteri yang ada di dalamnya. Alam bukan dan tidak untuk ditaklukkan. Tugas kita hanya satu, bagaimana ia tetap lestari agar mendatangkan banyak manfaat, baik bagi manusia maupun kehidupan lainnya. Avignam jagad samagram.

11
Danau Tanralili dengan Segala Ketenangannya.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s