Si Kebul yang Menjengkelkan

Kamis sore kemarin (23 Juli 2015), seperti biasa setelah rutinitas harian selesai, kendaraan terparkir di bawah naungan pohon mangga Kedai Pojok Adhyaksa. Saat baru saja memasuki bangunan yang berkonsep joglo itu, Kak Yayu owner Kepo, menghadang. Ada apa gerangan? Ternyata dia mengeluhkan pohon mangganya yang diserang oleh hama putih yang menyelimuti hampir semua ranting-ranting mudanya. Kehadiran hama itu juga diperkirakan membuat pohon mangga tidak berbuah. Pembandingnya adalah mangga lain di halaman belakang yang bebas hama bisa berbuah.

Kutu Putih yang Mengerumuni Ranting dan Daun Mangga di Kepo Adhyaksa.
Kutu Putih yang Mengerumuni Ranting dan Daun Mangga di Kepo Adhyaksa.

Hari sebelumnya juga saya melihat kasus yang serupa di halaman kantor Lurah Kassi-kassi. Pohon mangga di depannya juga mengalami serbuan hama putih yang sepintas terlihat seperti kapas. Di awal pekan pertengahan bulan ini pun saya menerima keluhan dari saudara sepupu di Minasa Upa kalau mangga di halaman rumah juga sedang banyak putih-putihnya, katanya.

Hama yang dimaksud tidak lain adalah kutu putih. Lazimnya, kutu ini sering hadir di pertanaman cabe, terong, tomat, mentimun dan labu. Jika tidak ditangani dengan baik, tanaman akan mengalami kematian. Selain menghisap cairan sel tumbuhan, hama ini juga meninggalkan bercak hitam pada daun hingga nekrotis (kering) yang tentu mengganggu metabolisme tanaman. Parahnya lagi, serangga ini membawa virus yang dapat membuat tanaman yang terserang menjadi kerdil dan mati, terutama pada cabe, tomat dan mentimun. Keberadaan Mealy Bug ini juga akan mengundang semut untuk berdatangan karena tubuhnya diselimuti oleh lapisan yang manis. Semut yang bergerombol di pucuk pun akan mengganggu pertumbuhan tunas baru. Bahkan memakan primordia tunas yang dikerumuni kutu kebul (nama lain kutu putih). Tentunya sangat menjengkelkan jika tanaman kesayangan sudah terserang hama ini.

Dampak Keberadaan Kutu Putih di Daun.
Dampak Keberadaan Kutu Putih di Daun.

Meski pun ukuran tubuhnya sangat kecil, 400-an telur dari seriap betina siap menjadi ancaman setelah 5 hari. Bisa dibayangkan jika lebih dari setengahnya adalah betina dengan siklus reproduksi yang cepat. Tubuhnya yang diselimuti lapisan lilin yang terlihat seperti kapas membuat hama ini kebal dan membandel.

Sebenarnya, pengendaliannya mudah jika kelestarian si Walang Kekek alias belalang sembah ikut terjaga. Tapi sekarang, sangat jarang lagi kita jumpai belalang yang dikenal rakus memangsa serangga-serangga kecil itu. Bahkan kehadirannya sering dianggap sebagai hama dan ikut dimusnahkan. Padahal fungsinya adalah predator yang menjadi musuh alami. Sama dengan fungsi capung dalam sebuah ekosistem.

Pada tanaman cabe misalnya, hama ini dapat dikendalikan dengan bagian dari pohon cabe itu sendiri. Buah cabe yang dihaluskan bersama dengan tembakau dan buah cengkeh rupanya ampuh mematikan si kutu. Untuk memecah lapisan lilin, larutan perlu ditambahkan sedikit sabun untuk cuci piring atau menggunakan alkohol 70% yang diencerkan bersama dengan air. Selanjutnya larutan disemprotkan ke bagian yang berhama. Bahan lain yang bisa dimanfaatkan adalah daun mimba, daun sambiloto, daun pepaya, daun sirsak, bawang dan brotowali.

Si kebul cenderung datang dan menetap lalu berkembang pada tanaman dengan tajuk yang rimbun. Oleh karena itu, pemangkasan memegang peranan penting dalam mengendalikan hama melalui teknis budidaya. Hanya saja, pemangkasan sering menjadi bagian yang tidak penting di kalangan petani. Apa lagi bagi yang mereka hanya sekadar menanam dan memanfaatkan ruang kosong. Melalui pemangkasan, tajuk akan terbuka sehingga cahaya dan intensitas sinar matahari dapat merata ke seluruh bagian tanaman, terutama untuk pohon.
Dalam kasus-kasus tertentu seperti serangan pada tanaman hias, pengedaliannya lebih mudah lagi. Cukup melarutkan sedikit sabun cuci piring atau detergen kemudian diusapkan pada daun yang terserang menggunakan spons. Selanjutnya daun dibilas lagi dengan air. Cara manual ini lebih ampuh untuk menghilangkan si kutu dari tanaman.

Setelah pengendalian yang ramah lingkungan dilakukan dan karena intensitas serangan yang tinggi. Setelah kapasitas serangan sudah di atas ambang ekonomi, langkah terakhir adalah penggunaan bahan kimia sintetik dari pestisida. Namun demikian, harus diperhatikan kaidah penggunaannya untuk meminimalkan dampak negatifnya.

Pilihan ada pada diri kita. memahami teknis budidaya yang baik membuat kita bisa mengambil tindakan lebih bijak. Mari menjadi dokter yang baik untuk tanaman kesayangan kita.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Si Kebul yang Menjengkelkan”

  1. Setuju Daeng, kutu putih ini cukup bikin pusing… Tapi berkat pestisida nabati pohon cabe dan tomat di halaman sudah rajin berbuah 😀

    1. Iya, hanya saja kebanyakan dari kita cenderung melakukan tindakan saat tanaman sudah terserang hama. Padahal semestinya, untuk penggunaan senyawa nabati, kita harus lakukan tindakan pencegahan. Akibatnya, sering kita menuding bahwa penggunaan pestisida nabati itu tidak manjur. heheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s