Safari Pangeran Kale dan Kalu di Sepuluh Desa

Pada Bulan Ramadan, kata safari sering kita jumpai mengikut di depan, menjadi Safari Ramadan. Dalam KBBI sendiri, kata safari diartikan sebagai perjalanan jauh. Jadi, bisa diartikan bahwa safari ramadan merupakan rangkaian perjalanan yang dilakukan pada Bulan Ramadan. Semua ingin melakukan yang terbaik di bulan yang lebih baik dari seribu bulan itu. Bernilai ibadah atau tidak, kita tidak punya tendensi yang kuat untuk itu, Tuhan yang tahu.

Entah sejak kapan istilah safari ramadan ini mulai dipopulerkan. Yang ada di kepala saya, safari ramadan adalah strategi yang digunakan oleh pejabat sebagai momentum untuk mengunjungi tempat-tempat ibadah di berbagai pelosok, terutama pedesaan. Pendekatan religius adalah senjata yang ampuh dalam melakukan pendekatan pada masyarakat. Lewat ceramah agama, pesohor akan mudah mengambil simpatik warga. Belum lagi dengan ragam rupa sumbangan yang mengiringi kegiatan safari tersebut.

Hingga saat ini, kegiatan serupa masih berlangsung dan format kegiatannya pun nyaris tak ada perubahan. Karena memang fokusnya ke orang dewasa dan orang tua, maka keberadaan anak-anak cenderung terabaikan. Padahal anak-anak juga merupakan komponen yang tidak terlepas dari desa.

Melihat hal tersebut sebagai satu masalah, melalui kegiatan supervisi di sepuluh desa dampingan dengan cara yang berbeda. Desa-desa tersebut adalah desa dampingan program Desa Bangkit Sejahtera, Community Depelopment, Yayasan Kalla. Kami menambahkan kegiatan yang menyentuh anak-anak melalui dongeng. Tentunya tidak mendengar dongeng begitu saja, kegiatan yang selalu dimulai setelah ibadah asar ini diisi dengan bermain dan bernyanyi. Malamnya pun diisi dengan kegiatan amaliah di masjid.

Tidak hanya anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan yang sengaja ditempatkan di luar ruangan ini ternyata menarik minat orang tua mereka untuk datang menonton dan larut dalam tawa dan keceriaan anak-anak mereka.

Suasana Kelas Mendongeng di Desa Pa'ladingan dan Kelurahan Cikoro, Gowa.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Pa’ladingan dan Kelurahan Cikoro, Gowa.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Ujung Bulu, Bontolebang dan Kelurahan Tolo' Timur, Jeneponto.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Ujung Bulu, Bontolebang dan Kelurahan Tolo’ Timur, Jeneponto.

Mulai dari Desa Pa’ladingan dan Cikoro di Gowa, petualangan Kale dan Kalu berlanjut ke Ujung Bulu, Tolo’ Timur dan Bontolebang di Jeneponto. Kale dan Kalu adalah tokoh fiksi dalam cerita dongeng yang dibawakan langsung oleh Abdul Hakim yang akrab disapa Kak Aking dan tidak lain adalah manager program DBS. Setelah Jeneponto, kedua pangeran memacu kudanya menuju Desa Bontomanai’ dan Pucak di Maros. Petualangannya berakhir setelah melewati Desa Abbumpungeng, Bana’ dan Pammussureng di Bone. Perjalanan yang panjang dan tentunya cukup menguras energi.

Suasana Kelas Mendongeng di Desa Bontomanai' dan Pucak, Maros.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Bontomanai’ dan Pucak, Maros.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Abbumpungeng, Bana' dan Pammussureng, Bone.
Suasana Kelas Mendongeng di Desa Abbumpungeng, Bana’ dan Pammussureng, Bone.

Dongeng tersebut menceritakan kehidupan raja dengan usia yang sudah tua sehingga perlu mewariskan tahta kepada putranya. Pangeran Kale dan Kalu yang keduanya ahli dalam berkuda dan bermain pedang pun diberi tantangan oleh sang ayah untuk berlomba mengambil buah apel di sebuah gunung. Ketika hari mulai pagi, setelah ayam jantan berkokok, keduanya memacu kuda menuju gunung yang dimaksud sang raja. Pangeran Kale rupanya lebih dahulu tiba di kaki gunung. Dengan ambisi yang kuat untuk menjadi raja, Kale tak lagi memperhatikan hal lain selain untuk mengambil apel dan membawanya pulang untuk ditunjukkan pada baginda raja. Taman bunga di kaki gunung pun berantakan akibat terinjak oleh kuda yang dipacu begitu kencang. Segera setelah mengambil apel, dia pun memacu kudanya menuju istana.

Berbeda dengan Kalu, tak secepat saudaranya. Setelah sampai di kaki gunung dan mendapati taman bunga yang berantakan, ia tak ingin menambah kerusakannya. Setelah mengikat kudanya lalu ia berjalan menuju puncak gunung untuk mencari apel. Yang dicari sudah di depan mata. setelah mengucapkan basmalah, Pangeran Kalu memetik apel lalu memasukkannya ke dalam saku kemudian berjalan kembali ke kaki gunung tempat kudanya diikat. Selanjutnya ia pun memacu kudanya ke istana.

Pangeran Kale yang sudah hampir memasuki gerbang istana tiba-tiba dihentikan oleh seorang pengemis tua yang kelaparan. Si pengemis pun kemudian meminta balas kasih pada pangeran Kale untuk diberikan makanan. Kale pun tak peduli karena apel yang dibawanya adalah kunci untuk menjadikan dirinya sebagai pewaris tahta. Kale pun berlalu dengan kegembiraan yang meluap-luap sambil memanggil-manggil ayahnya. Tapi tak ada satu pun penghuni istana yang menyambutnya, semua diam membisu.

Hal yang sama dialami oleh pangeran Kalu ketika hendak memasuki istana. Melihat kakek tua yang tersungkur, ia pun menghentikan kudanya dan dengan cepat ia menghampiri kakek tua tersebut. Dengan rasa iba yang mendalam, Pangeran kalu pun menyerahkan apelnya kepada pengemis tersebut. Melihat si kakek memakan apel dengan lahapnya, Kalu tetap tersenyum manis dan mengikhlaskan saudaranya untuk menjadi raja. Ia pun memasuki istana dengan menggandeng kudanya.

Serentak penghuni istana pun bersorak menyambut Pangeran Kalu. Tak terima dengan kejadian itu, Kale pun mengajukan protes ke ayahnya, mengapa Kalu yang tidak membawa apel justru mendapat sambutan meriah di istana. Dengan bijak, Sang Raja pun menjelaskan bahwa untuk menjadi raja, tak hanya keberanian dan kemampuan fisik yang dibutuhkan. Kecintaan terhadap alam dan rakyat menjadi hal yang sangat penting. Dengan beragam alasan, Pangeran Kale tetap membantah sang ayah. Hingga akhirnya Kale terdiam setelah mengetahui bahwa pengemis tua yang di depan istana tadi adalah baginda raja yang menyamar. Pangeran Kalu pun kemudian diangkat menjadi raja. “Hidup Raja Kalu !” seru anak-anak di akhir cerita.

Dengan pembawaan dongeng yang interaktif serta ditunjang oleh gerakan-gerakan yang lucu, semua yang hadir begitu menikmati. Namun demikian, makna yang ingin disampaikan dalam cerita tetap diutamakan. Anak-anak pun secara partisipatif maju untuk memperagakan beberapa adegan dalam dongeng. Banyak yang diantara mereka pada mulanya malu-malu kemudian bisa memberanikan diri untuk tampil di depan umum.

Setidaknya, melalui aktivitas mendongeng ini, keceriaan anak-anak terlihat begitu lepas. Dan yang paling penting bagaimana membangun rasa percaya diri mereka. Bukankah bahtera desa suatu saat ada pada kendali mereka? Lalu bagaimana kemudi itu tetap melaju pada jalur yang benar jika mereka tak dipersiapkan sedini mungkin. “Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita tak bisa mengubah sesuatu yang tak bisa dihindari. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah berpegang pada tali yang kita punya. Dan itu adalah perilaku yang benar.” Charles R Swindoll, Penulis AS.

Kebahagiaan tersendiri ketika kami bertemu dengan anak-anak tersebut, mereka bertanya “Kapan kita mendongeng lagi ?

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s