Kunamai Dia Passion Sejiwa

Di bilangan juni tahun lalu (2014), saya berkesempatan bertandang ke kota keraton yang dijadikan oleh Ebiet G. Ade dan Kla Project sebagai judul salah satu lagu mereka yang hits. Kota yang terkenal dengan gudegnya, kota yang penuh mistis dengan Benteng Vredeburg nya. Kota yang lazim dengan Malioboronya dan kota yang tersohor dengan kampus birunya, Yogyakarta.

Ke kota yang memberi penghargaan khusus pada kerbau bule ini pun bukan tanpa sengaja. Seperti tagline dari salah satu komunitas jalan-jalan di makassar, Pajappa, bahwa “Hidup itu butuh hiburan dan liburan”. Setelah pekerjaan layak untuk ditinggal sejenak sembari merilekskan pikiran yang sudah berbulan-bulan di sawah. Saya pun memilih kota tempat Gunung Merapi itu berdiri. Kebetulan juga ada teman di sana, jadi lebih mudah.

Jalan-jalan sudah pasti, begitu pun dengan makan. Tapi, kala itu saya kurang begitu tertarik untuk berkuliner ria karena menu yang saya dapati hampir sama dengan yang ada di Ngawi. Apatah lagi pikiran lebih merindukan makanan khas Sulawesi.

Hingga di suatu tempat, mata saya tertuju pada daftar menu yang bertuliskan “Monster” (Lemon Serai). Dengan penuh rasa penasaran, saya memesan minuman tersebut. Dalam gelas jumbo, yang mungkin juga bermakna porsi untuk monster, tersaji. Gelas bening yang tampak berkeringat dan sebatang serai yang juga berfunsi sebagai pengaduk membuat saya tidak kuat menahan godaannya.

Rasa lemon berpadu dengan rasa manis yang mungkin dari gula dan cairan serai menyatu memberi suasana yang berbeda dalam rongga mulut. Aroma terapi serei membuat pikiran menjadi tenang. Setenang menikmati pekat arabika di Klinik Kopi. Jadi dua hal yang membuat saya terkesan dengan Jogja hingga saat ini adalah Monster dan Klinik Kopi. Mungkin karena saya belum merasakan sensasi moncong Merapi dan palung Jomblang.

Setelah di Makassar, saya masih sering membuat monster bahkan menambahkan bahan lain seperti daun mint yang tumbuh subur di halaman belakang rumah. Atau jika sempat, juga menambahkan potongan buah anggur sebagai penguat rasa. Sensasinya pun berbeda. Oleh teman-teman di Makassar Berkebun, monster plus daun mint lebih dikenal dengan nama “Mojito”. Peminatnya pun tak sedikit. Semua porsi sold out di acara Persta Komunitas Makassar 2015 lalu. Adalah Kakak Vby yang menjadi lakonnya, variasi rasa vanilanya membuat mojito semakin trend.

Lebaran pun tiba dengan beragam menu dan pola makan yang sulit dikontrol. Sepertinya perlu penyeimbang. Tak ada lemon, jeruk nipis pun jadi. Tak ada mint, markisa pun jadi. Saya pun kemudian mengambil gelas ukuran 300 ml, lalu memasukkan sedikit gula untuk memberi rasa manis. Batang serai yang dicuci dan dimemarkan bagian pangkalnya pun saya masukkan. Ke dalam gelas, saya menuangkan air panas hingga sepertiga tinggi wadahnya agar gula mudah larut, begitu pun sari batang serai. Satu buah jeruk nipis setelah dipotong tiga saya peras lalu menambahkan air dingin hingga dua per tiga gelas. Kemudian saya menambahkan buah markisa segar ke dalam gelas. Markisa yang digunakan adalah markisa dataran rendah dengan cita rasa yang asam manis. Mengaduknya tak perlu sendok, cukup dengan batang serinya saja. Finishingnya pun cukup menambahkan beberapa potongan batu es hingga gelas penuh.

Rasa passion fruit (markisa), serai dan jeruk nipis menciptakan wahana tersendiri saat menyentuh lidah dan menyelami tenggorokan. Perpaduan rasa yang menyegarkan. Markisa yang kaya vitamin C dan antioksidan berpadu dengan rasa serai yang kaya manfaat seperti mengatur gula darah dan kolesterol. sementara jeruk nipis mampu melawan radikal bebas serta menguatkan pembuluh darah. Minuman yang bahannya mudah didapat, mudah dibuat dan banyak manfaat. Kunamailah minuman itu, Passion sejiwa (passion, Se-rai, J-eruk n-i-pis… w-en-a-k !). #asalsingkat.

Passion Sejiwa dalam Gelas Berkeringat.
Passion Sejiwa dalam Gelas Berkeringat.

Rasakan manfaat berbagai macam kekayaan alam yang ada di sekitar kita. Bukankah Tuhan menciptakan alam semesta agar kita menjadikannya tempat merenung, belajar dan kemudian menyadari kehadiran Sang pencipta ? Maka dari itu, nikmatilah ketenangan yang terdapat di alam sekitar kita, dan temukan setiap kebahagiaan di dalamnya. “Jangki lupa bahagia.”

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s