Parede Kadundung yang Menggugah Selera

Mengutip sebuah kalimat bijak, “Alam adalah kehidupan. Tak ada kehidupan jika alam tidak tercipta.” Seolah menjadi pedoman universal bahwa segala keperluan hidup telah disediakan di alam semesta ini, termasuk kuliner. Beragam bangsa dan ras yang mendiami bumi ini masing-masing memiliki kekhasan untuk urusan perut. Faktor geografis sangat berperan di sini karena menyangkut ragam flora dan fauna yang mendiami suatu wilayah. Biasanya, semakin beragam organisme yang hadir pada suatu bentang alam, semakin beragam pula jenis panganan yang ada. Ataukah dalam sebuah menu kulinernya mengandung rasa yang beragam. Rasa yang keluar dari berbagai jenis bumbu yang dipadukan dengan takaran tertentu.

Makassar yang selama ini dikenal dengan menu kuliner tidak lepas dari ragam flora dan faunanya. Mulai dari coto, konro, pallubasa, pisang ijo, pallu butung yang sudah tidak diragukan lagi ketenarannya.

Sedikit kita bergeser ke arah utara yang terkenal dengan kapurungnya. Panganan yang berbahan dasar sagu ini memang menjadi primadona di tanah Sawerigading, Palopo. Tidak hanya itu, ada lagi pacco, lawa’, sinole, lanya’, dange, barobbo dan sudah pasti parede.

Kali ini kita sedikit bercerita tentang parede. Parede sendiri adalah masakan yang berkuah menyerupai sup. Jika yang di sup adalah ikan maka disebut parede ikan, begitupun jika bahan bakunya ayam, udang, atau pun daging. Kadang juga nama paredenya mengikuti bumbu atau penguat rasa yang dominan terasa, misalnya parede kadundung.

Kadundung merupakan kerabat dekat dengan kedondong. Sepintas, susunan dan bentuk daun sama. Bedanya, buah kadundung lebih kecil dan rasanya sangat kecut sehingga cenderung tidak dimanfaatkan. Namun demikian, rasa asam dan aroma khas yang kuat dari daun, menjadikan tumbuhan ini akrab di masakan yang berkuah. Aroma yang dihasilkan sangat menggugah selera makan. Rasa asamnya pun menyegarkan. Konon,daun ini berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah dan meningkatkan fungsi kerja jantung.

Daun Kadundung yang Dimanfaatkan sebagai Bumbu.
Daun Kadundung yang Dimanfaatkan sebagai Bumbu.

Parede kadundung sering hadir dalam acara keluarga, seperti lebaran, terlebih jika ada pernikahan. Pembuatannya pun tidak susah karena bahan-bahan yang dibutuhkan sudah akrab dengan dapur. Misalnya ayam, setelah dibersihkan, daging ayang dilumuri dengan kunyit untuk menghilangkan bau amis. Sedikit ditambah garam dan asam lalu dibiarkan meresap selama beberapa menit.

Bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, lada, batang serei dihaluskan. Semua bahan ditumis dengan sedikit minyak goreng hingga aromanya harum dan bahan berubah menjadi kecoklatan.

Ayam dimasak dalam panci hingga setengah matang. Selanjutnya, bumbu tumisan pun dimasukkan, diikuti dengan pemberian potongan daun kadundung. Daun kadundung yang dipilih tidak muda dan tidak tua, cirinya hijau terang. Biasanya daun berada pada urutan 3-5 dari pucuk. Daun yang tua cenderung keras, asam dan aromanya kurang tajam, juga tidak enak jika dimakan.

Untuk menambah gurihnya parede, ditambahkan kelapa parut yang telah disangrai dan dihaluskan. Agar rasa semakin kuat, ke dalam parede juga ditambahkan daun kecombrang yang masih muda, orang Palopo menyebutnya daun patikala. Daun honje (Sunda) ini juga kaya manfaat. Kandungan antioksidan dan vitamin C daun kecombrang cukup tinggi.

Daun Kecombrang, Patikala (Palopo), Honje (Sunda).
Daun Kecombrang, Patikala (Palopo), Honje (Sunda).

Parede kadundung sangat pas dinikmati di siang hari saat udara terik. Rasa asam segar dari daun kadundung mampu meningkatkan kesegaran tubuh. Soal pedis atau tidaknya, itu disesuaikan dengan selera masing-masing saja.

Parede Kadundung dengan Menggunakan Daging Ayam.
Parede Kadundung dengan Menggunakan Daging Ayam.

Kalau jalan-jalan ke kampung halaman saya, tidak afdol kalau melum mencoba parede kadundung. Kurang hikmat jika tak nambah dan tidak mengusap butiran keringat di ujung kening kalian.

Banyak tumbuhan yang sedari dulu dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sebagai bumbu dapur dan tentu tidak begitu saja memanfaatkannya. Mungkin itu juga salah satu yang membuat orang-orang terdahulu rata-rata memiliki umur yang panjang. Selayaknyalah kita mempelajarinya sebab dengan mengetahui manfaat dan pemanfaatannya, kita akan cenderung berupaya melestarikannya. Bahkan menjadikannya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dari kepunahan.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s