Kopi Madu dan Dinginnya Malam Ujung Bulu

“Kulayangkan pandangku, melalui kaca jendela. Dari tempatku bersandar, seiring lantun kereta. Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah, membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna”, (Perjalanan Ini, Padi).

Seandainya saya berada dalam sebuah gerbong kereta, mungkin lirik lagu Padi Band ini sangat pas untuk didendangkan. Tapi itu hanya soal jenis transportasi saja. Justru dengan sepeda motor, saya lebih leluasa untuk memandang hamparan hijau yang memukau. Sesuka hati pun saya bisa singgah sejenak untuk melepaskan mata memandang, atau hanya sekadar menghela napas panjang menikmati segarnya udara pegunungan.

Perjalanan kali ini adalah kunjungan kerja yang memang berada di daratan tinggi Kabupaten Gowa dan Jeneponto. Jalanan yang menanjak lalu menurun serta berliku adalah teman yang selalu menjaga mata agar tidak larut dalam kantuk. Belum lagi jalur selepas Desa Pa’ladingan menuju Kelurahan Cikoro, jalan aspal yang tak lagi mulus bahkan tak jauh beda dengan jalanan perkerasan membuat badan bergetar dengan waktu tempuh dua jam.

Urusan di Pa’ladingan dan Cikoro sudah selesai, saya putuskan untuk terus ke Ujung Bulu yang sudah masuk administrasi Kabupaten Jeneponto. Pandangan kian buram seiring hari menjemput malam. Rasa dingin pun mulai terasa menusuk hingga ke dada. Desa Ujung Bulu yang terletak di kaki Gunung Lompobattang ini sudah berada pada kisaran 1.400 mdpl. Sepanjang kiri dan kanan jalan hanya terlihat pertanaman kopi dan beberapa komoditi hotikultura. Beruntung saya bisa tiba di rumah kepala desa 30 menit sebelum magrib. Rupanya Pak kepala desa sedang tidak di rumah.

Setelah salam sambut dan beberapa pembicaraan tentang maksud kunjungan, saya diajak oleh Pak Misi, sosok yang bertubuh kecil mengenakan gamis, mengingatkan saya pada sosok uztad, ke rumahnya sembari menunggu pak desa datang. Usai menunaikan shalat magrib berjamaah di masjid yang hanya berjarak beberapa rumah sebagai perantara, saya lalu disajikan secangkir kopi. Sesaat setelah dipersilakan, saya pun menyeruput kopi tersebut. Sepintas terasa seperti kopi hitam yang diberi gula merah, ada aroma manis seperti nira aren.

“Itu kopi madu” tutur pak Misi. Setelah tegukan kedua saya pun berkomentar, “pantas, seperti ada sesuatu yang lain dari kopi yang pernah saya minum sebelumnya”. Setahun belakangan ini memang sedang ramai diperbincangkan tentang kopi madu dan saya bersyukur bisa menikmati langsung di daerah produksinya.

Pak Misi pun bercerita banyak, bahwa kopi di Jeneponto sudah masuk sejak awal tahun 80-an. Waktu itu kopi yang ditanam adalah kopi arabika dengan tajuk yang tinggi sehingga perlu pengait untuk melengkungkan batang saat panen. Kopi itu lebih dikenal dengan Kopi Bantaeng karena asal bibitnya dari Bantaeng. Dari penjelasannya, sama dengan kopi yang pernah saya temui di Nating (Enrekang) atau di daerah Botto (Soppeng). Selain arabika, masyarakat Ujung Bulu juga menanam jenis robusta.

Sejak pertengahan tahun 80-an, barulah masuk jenis arabika dari Gowa yang oleh masyarakat disebut Arabika Gowa dengan tajuk yang lebih pendek. Kopi ini yang kemudian dikembangkan di Desa Ujung Bulu. Sementara jenis robusta ditebang lalu dilakukan sambung pucuk dari jenis arabika. Pak H. Muhammad yang tidak lain adalah bapak dari kepala desa yang banyak berperan di sini.

Kopi madu sendiri memang baru dikenal setahun yang lalu dari sebuah seminar kopi di Makassar. Oleh Pak Surip (sepintas saya dengar) yang bertindak selaku pembicara waktu itu mengemukakan bahwa ada kopi yang paling enak untuk disantap, yang tidak lain adalah kopi madu. Informasi ini kemudian disampaikan oleh Pak Mansyur selaku kades Ujung Bulu ke masyarakatnya.

Kopi yang Dipanen adalah Kopi matang dengan Warna Merah hingga Kehitaman.
Kopi yang Dipanen adalah Kopi matang dengan Warna Merah hingga Kehitaman.

Menurut pak Misi, “Dikatakan kopi madu karena saat penjemuran, ada lebah madu yang hinggap di butiran kopi. Anggapannya lebah akan hinggap karena ada kandungan madu atau sesuatu yang manis di situ. Sedangkan pada kopi biasa, malah yang hinggap adalah lalat”. Dengan penuh semangat, Pak Misi melanjutkan “Secara umum, tahapan kopi madu dimulai dari pemetikan kopi yang betul-betul matang di pohon. Selanjutnya kopi digiling untuk mengupas kulitnya lalu difermentasi selama dua hari. Kopi fermentasi selanjutnya dijemur hingga tiga hari atau berada pada kadar air 11-12 %. Dengan alat manual, kopi disangrai selama 30 menit”. Untuk hasil kopi cita rasa madu yang kuat, kopi matang yang telah digiling langsung dijemur sampai kering. Proses pengeringannya memang memakan waktu yang lama, disitulah tantangannya.

(atas) Kopi Yang Telah Difermentasi dan Dijemur. (bawah) Perbandingan Biji Kopi Setelah Dikupas, Buah Panen, dan Kopi Kering.
(atas) Kopi Yang Telah Difermentasi dan Dijemur. (bawah) Perbandingan Biji Kopi Setelah Dikupas, Buah Panen, dan Kopi Kering.

Tak terasa waktu berlalu dalam perbincangan kami, mungkin karena saking asiknya lidah bergoyang setelah mencicipi nikmatnya kopi madu, telpon Pak Misi berdering. Rupanya Pak desa sudah ada di rumah dan kami bergegas ke sana. Lagi-lagi saya disambut dengan kopi madu dan kue-kue tradisional. Pasangan yang serasi melewati dingin Ujung Bulu sambil menggesekkan telapak kaki di karpet agar tetap hangat. “Tahun ini sudah kami kembangkan dan sudah dipromosikan bahkan ke jakarta. Sementara ini sedang dalam proses pembuatan standarisasi untuk depkes”, tutur Pak Kepala Desa. Dan memang selama ini, nyaris kita tak pernah mendengar atau mengenal Kopi Jeneponto. Berbeda dengan Enrekang dan Toraja.

Kopi Madu dan Roko-Roko Cangkuning.
Kopi Madu dan Roko-Roko Cangkuning.

Alam dan desa kita memang sangat kaya. Sangat disayangkan jika desa yang menjadi sumber kekuatan ekonomi tidak bisa berpesta di atas kejayaan hasil buminya. Tinggal bagaimana kita saling mendukung untuk membangun desa berdasarkan potensi alaminya. Bagaimana membangun kepercayaan diri petani kita hingga suatu saat mereka berkata, “saya bangga menjadi petani”.

Kopi madu memang menyajikan rasa yang memanjakan lidah dan tenggorokan, tentu akan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan jika dikelola dengan baik. Suatu saat jika orang berkunjung ke Sulawesi, mereka tak lagi mencari Kopi Toraja atau Kopi Enrekang. Mereka akan mencari Kopi Madu Ujung Bulu.

Desa harus jadi kekuatan ekonomi. Agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama. Untuk bekerja dan mengembangkan diri” (Desa, Iwan Fals). Lirik lagu yang penuh harapan untuk kemandirian desa mengiringiku pulang ke rumah.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

5 thoughts on “Kopi Madu dan Dinginnya Malam Ujung Bulu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s