Ara yang Ditinggalkan

Terasering persawahan di Dusun Ara, Desa Timpuseng, Camba. (foto by Tomo)
Terasering persawahan di Dusun Ara, Desa Timpuseng, Camba. (foto by Tomo)

Kata pepatah, “Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri”. Yah, begitulah kondisi Dusun Ara yang dulunya terdiri dari 40 KK dan kini hanya kisaran 20 KK saja. Mereka pindah ke Sulawesi Tengah untuk berkebun kakao dan cengkeh. Kejadian ini berawal dari satu Kepala Keluarga saja. Karena ada hasil yang dibawa pulang, yang lain pun seolah terhipnotis untuk bermigrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa motif ekonomi adalah salah satu alasan yang berperan besar di sini.

Sejarah peradaban masyarakat Bugis-Makassar memang tidak lepas dari perantauan. Perbaikan nasib tentu menjadi dalang terjadinya mobilitas. Tak hanya di Ara, hampir di setiap tempat yang pernah saya datangi pun demikian. Di bekas lokasi kerja saya, di Soppeng misalnya, banyak yang beralih ke Luwu untuk berkebun. Sementara orang-orang di kampung saya (Luwu) malah beranjak ke wilayah Luwu Utara hingga Bungku untuk hal yang sama.

Aksioma yang kemudian muncul adalah bekerja di luar kampung akan meningkatkan etos kerja. Hal ini bisa dilihat dari berhasilnya sebagian besar kaum pendatang dibanding pribumi. Yang datang dan pergi tidak lepas dari aktivitas bercocok tanam. Bedanya, ada rasa malu “siri” yang menjadi motivasi kerja saat meninggalkan kampung. Artinya faktor kondisi alam bida di ceteris paribus-kan.

Saya sebagai orang luar pun melihat Ara dengan segala potensi. Air yang mengalir sepanjang tahun di sungai menjadi aset yang sangat besar dalam pembangunan pertanian. Seperti yang diutarakan Ambo Lette, Imam Dusun Ara “Disayangkan banyak warga yang berpindah padahal banyak kekayaan yang melimpah di Ara, terutama mata air dan tanah yang subur”. Justru Ambo Lette yang jika namanya diartikan menjadi “orang, bapak yang berpindah” malah menetap di tanah kelahirannya. Bapak yang datang dengan keluhan kadar gula yang tinggi ini pun menyambut antusias acara Kemah Bakti.

Air yang Melimpah Sepanjang Tahun Adalah Aset yang Berharga Di Ara. (foto by : Win)
Air yang Melimpah Sepanjang Tahun Adalah Aset yang Berharga Di Ara. (foto by : Win)

Dengan sawah yang luasnya 25 are, Ambo Lette menghasilkan padi ± 1 ton per musim tanam. Jika dikonversi akan menjadi ± 4 ton/ha/musim tanam. Dalam setahun dua kali tanam. Itu sudah lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada keinginan untuk bertani secara organik ketimbang membakar jerami dan penggunaan pupuk anorganik serta pestisida secara praktis, tapi harus ada perbedaan harga. Masyarakat selalu berargumen “Generasi anak cucu akan diusahakan oleh mereka sendiri nantinya” tuturnya, sambil menggeleng sembari mengunyah snack yang mungkin bahan dasarnya dari tepung Tire (iles-iles) yang sudah mulai dibudidayakan di Ara.

Tumpukan Tire yang Siap Diekspor Ke Makassar. (foto by : Win)
Tumpukan Tire yang Siap Diekspor Ke Makassar. (foto by : Win)

Tak jauh beda dengan Pak Baharuddin yang saya jumpai saat perjalanan menuju ke Dusun Ara yang “15 menit” mendaki itu. Setelah menghela napas panjang, saya pun menyapanya dengan salam dan dengan senang beliau membalas salam sembari tersenyum ramah khas masyarakat pedesaan. “Mau ki kemana, Pak ?” tanya saya, “Iye, mau pigi ambil makanan kuda” jawabnya.

Pembicaraan dalam tempo sekira tiga menit lebih banyak menyentuh ke hal teknis bercocok tanam. Yah semacam pembuka sekaligus menggali informasi sebagai bahan untuk sharing di kelas penyuluhan yang diembankan ke saya sebagai salah satu rangkaian acara di Kemah Bakti.

Berinteraksi dengan masyarakat selalu memberi kesan tersendiri, paling tidak sekedar berbalas senyum dan sapa. Yang paling menyenangkan buat saya jika diberi izin memanen buah jambu biji, lobe-lobe maupun raspberry yang ditemui sepanjang setapak dusun. Lumaayan kan, kebutuhan buah yang kaya manfaat terutama saat berkegiatan di alam terbuka bisa dinikmati secara gratis.

Sepanjang jalan pun mata akan dimanjakan dengan padi menguning laksana emas yang tersusun mengikuti kontur bumi. Di sudut yang lain tampak pohon kemiri yang sudah tak lama lagi memasuki masa panen, terlihat dari buah-buah yang sudah mulai berjatuhan. Sayangnya, semua kelebihan itu tidak mampu dilihat sebagai rumput hijau yang kaya oleh sebagian masyarakatnya yang memilih mencari rumput yang lebih hijau di sana.

Hamparan Padi Laksana Emas yang Siap Mengharumkan Lumbung. (foto by : Tomo)
Hamparan Padi Laksana Emas yang Siap Mengharumkan Lumbung. (foto by : Tomo)

Di sinilah Kemah Bakti sebagai wadah alih transformasi informasi maupun pengetahuan bisa mengambil peran. Semangat dan tekad komunitas Pajappa, Earth Hour, Makassar Berkebun, Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar Berbagi, SIGI Indonesia, Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ) Makassar, Youth Act for Charity and Sociality (Yacs), Berbaginasi Makassar dan Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS) bukan sesuatu yang kecil. Tak mudah membangkitkan semangat dengan latar belakang dan bendera yang berbeda untuk satu tujuan.

Tim Kemah Bakti (foto by: Win)
Tim Kemah Bakti (foto by: Win)

Meskipun dalam tahap pelaksanaannya belum maksimal, tapi kami tak melihat itu sebuah kegagalan. Kegagalan hanya bagi mereka, si penuntut hasil. Ini baru langkah awal dan semua butuh proses. Jadi, mari menikmati dan mencintai proses.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Ara yang Ditinggalkan”

  1. Wah kakak… pemandanganx bagus sekali… hampir seindah terasering di Bali yg kulihat via kartupos. Andai bs kuminta ini fotonya dan perkenalkan ke teman2ku di luar negeri via kartupos, maka sy sangat berterima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s