Ada Apa Di Lacolla ?

eflayer tentang 1dayTrip Pajappa
eflayer tentang 1dayTrip Pajappa

Kata orang bijak “Alam ini diciptakan dengan jutaan misteri yang tidak kita ketahui. Bukan misteri yang membuat kita takut, tapi misteri yang membuat kita bergairah untuk mengetahuinya”.

Pagi yang begitu cerah dan menggairahkan. Kopi hitam di canteng putih pun tinggal ampas. Saya kemudian mengambil ransel lalu memasukkan beberapa peralatan yang kiranya dibutuhkan saat perjalanan. Dengan memacu sepeda motor, saya menuju tepian danau Unhas. Tak lupa membeli makan sebagai bekal untuk perjalanan hari ini.

Suasana yang segar di sekitar Danau Unhas di pagi hari begitu menyegarkan. Tampak orang-orang dengan berbagai rutinitas adalah pemandangan yang lazim di hari minggu maupun hari-hari libur lainnya, umumnya mereka berolahraga. Itulah sebabnya kami selalu memilih tempat itu sebagai meeting point jika hendak melakukan trip ke utara kota.

Suasana Sebelum Berangkat Di Danau Unhas yang Menjadi Meeting Point
Suasana Sebelum Berangkat Di Danau Unhas yang Menjadi Meeting Point

Sedikit molor dari waktu yang ditetapkan, kami yang pada hari itu berjumlah 37 orang melaju dengan kecepatan rata-rata 60 km per jam pada speedometer menuju Camba, Maros. Kami memilih rute BTP – Bantimurung agar dapat menikmati suasana alam pedesaan. Hamparan padi yang mulai dengan latar pegunungan serta rimbunnya rumpun bambu menjadi pemanis sarapan mata pagi itu.

Hamparan Padi yang Mulai Menguning Di Sepanjang Jalan.
Hamparan Padi yang Mulai Menguning Di Sepanjang Jalan.
Kiri Kanan Jalan yang Dipenuhi Rumpun Bambu.
Kiri Kanan Jalan yang Dipenuhi Rumpun Bambu.

Sesekali saya merenggangkan tangan lalu menghela napas panjang sembari mengucap syukur atas nikmat pagi itu. Canda dan tawa pun seperti tak ada habisnya, sampai akhirnya saya dan Sang joki, Sulenka dikagetkan oleh suara letusan. Spontan di pikiran saya kalau ban motor kami mengalami masalah, eh tahunya ternyata suara itu berasal dari alat pembuat popcorn. Kami memutuskan untuk mampir, sambutan hangat pun kami dapatkan. Popcorn yang mereka sebut “lappo” hangat disuguhkan kakek dan nenek, menemani sedikit pembicaraan kami dengan mereka. Kami pun membeli tiga kantong ukuran 2 liter dengan harga yang Cuma RP. 5000,- saja. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Pembuat Lappo (Popcorn) Ala Kampung.
Pembuat Lappo (Popcorn) Ala Kampung.
Lappo yang Dihasilkan dalam Sebuah Bakul Anyaman.
Lappo yang Dihasilkan dalam Sebuah Bakul Anyaman.

Untuk mencapai Air Terjun Lacolla, ada dua rute yang bisa dilalui. Rute yang pertama adalah Gerbang Mas. Rute ini adalah rute yang umum dilewati oleh pelancong yang hendak ke sana. Jalanannya berupa perkerasan dan jalur berbeton. Kami memilih rute yang kedua, sebelum SPBU Camba. Kami diantar oleh salah satu pemuda yang lebih tahu akses menuju air terjun. Jalurnya tak jauh beda, ditambah dengan beberapa titik yang berlumpur sehingga membuat kendaraan bekerja lebih ekstra. Tapi semuanya terbayar dengan pemandangan alam yang begitu mempesona di sepanjang jalan. Senyum dan sapa dari masyarakat desa di sepanjang jalan membuat perjalanan yang sekitar 90 km dari Kota Makassar menuju Dusun Kajuara, Desa Cenrana tak terasa.

Beberapa Titik Jalanan yang Becek dan Berlumpur.
Beberapa Titik Jalanan yang Becek dan Berlumpur.

Setelah motor terpakir rapih di tepian jalan, kami pun melintasi sebuah pagar kawat dengan titian sebatang kayu sebagai jembatan. Melintasi penurunan yang licin di antara rumput gajah yang sengaja ditanam sebagai pakan ternak warga. Saya pun beberapa kali sempat terpeleset, beruntung saya masih mampu menjaga keseimbangan. Dengan elevasi yang mencapai 70°, kami harus memasang webbing di beberapa titik sebagai pegangan untuk turun maupun naik. Akhirnya pelajaran di educamp Pajappa diaplikasikan juga.

Peserta Menuruni Jalur yang Curam dan Licin.
Peserta Menuruni Jalur yang Curam dan Licin.
Di Beberapa Titik Harus menggunakan Webbing sebagai Pengaman.
Di Beberapa Titik Harus menggunakan Webbing sebagai Pengaman.
Nampak Appy da Nanha sedang Meniti Medan dan Berpegangan Pada Webbing.
Nampak Appy da Nanha sedang Meniti Medan dan Berpegangan Pada Webbing.

Sekira 15 menit kami berjalan, pandangan pun terbelalak melihat indahnya sususan batu yang mengalirkan air hingga menghasilkan suara gemuruh. Tak membuang waktu, saya pun mengabadikan moment-moment indah dari kamera ponsel. Begitu pun teman seperjalanan saya, semua mengabadikan diri lewat gambar. Selang beberapa saat, tim yang menyusul pun tiba sehingga kami berjumlah 46 orang saat itu. sebelum kami tiba, sudah ada juga beberapa pengunjung di sana.

Air Terjun Lacolla
Air Terjun Lacolla
Penampakan Dari Atas Air Terjun.
Penampakan Dari Atas Air Terjun.

Segala puja dan puji bagi Tuhan yang menciptakan alam semesta yang begitu indah dan sempurna ini. Langit biru dan awan putih di atas sana, hijau pepohonan dan warna-warni kupu-kupu memanjankan mata. Riak air, gesekan dedaunan serta nyanyian burung mengalun begitu damai di kedua telinga. Seolah bibir bungkam dan membiarkan mata yang berbinar berkomunikasi dengan pencipta-Nya.

Beberapa Teman yang Berfoto Dari Balik Air Terjun.
Beberapa Teman yang Berfoto Dari Balik Air Terjun.

Masih ingin berlama-lama memanjakan diri lewat pijatan air yang jatuh di tubuh tapi apa daya terbatas pada waktu. Lain kali akan ke sana untuk menikmati pagi dan senjanya. Melalui rute yang sama, kami pun meninggalkan Lacolla dengan cerita masing-masing dan tentu dengan segala keseruannya. Jangan lupa bawa sampahnya pulang ya teman-teman.

Foto Bersama sebelum Pulang
Foto Bersama sebelum Pulang
Peserta Terlihat Hati-Hati melewati Bebatuan yang Licin.
Peserta Terlihat Hati-Hati melewati Bebatuan yang Licin.

Sebagai penutup trip sehari itu, kami menikmati segarnya buah markisa yang dipetik langsung di pohonnya. Ada juga yang menambahkan buah markisa tersebut ke dalam gelas minumannya. Eh, rupanya ada panggilan makan, Alhamdulillah. Karena waktu sudah memasuki waktu magrib, kami memutuskan untuk bertolak ke Makassar setelah magrib. Terima kasih atas perjalanan hari ini kawan-kawan Pajappa, karena hidup butuh hiburan dan liburan.

Minuman dari Markisa
Minuman dari Markisa
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s