Emas Hijau Nan Wangi itu Bernama Nilam

nilam

Siapa sangka kalau wewangian yang kita gunakan salah satunya berasal dari dedaunan. Yah, tepatnya daun dari tumbuhan Nilam. Nilam yang umum ditanam di Indonesia adalah nilam aceh (Pogostemon cablin Benth.). Minyak nilam atau Patchouli oil diekspor untuk dipergunakan dalam industri parfum, kosmetik, antiseptik dan insektisida. Inilah yang menjadikan nilam merupakan salah satu komoditas unggulan nasional.

Saya sendiri mengenal nilam saat mengikuti kegiatan kampus di Enrekang, tahun 2003 lalu, dari seorang senior. Tapi belum dibudidayakan secara massal waktu itu, bahkan hanya terlihat sebagai tumbuhan liar karena tidak terurus.

Empat tahun lalu, nilam baru mulai marak diceritakan dan dibudidayakan di Sulawesi Selatan, Khususnya di Kabupaten Luwu. Tak mau ketinggalan, orang tua saya pun ikut membudidayakannya. Maraknya petani menanam nilam saat itu karena dipicu oleh penurunan produksi kakao. Banyak petani yang kemudian melakukan replanting (penanaman ulang) kakao. Nilam kemudian menjadi pilihan sebagai tanaman sela di antara pertanaman kakao. Alasan karena nilam dianggap sebagai tanaman yang tidak terlalu membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Benar saja, tanaman yang satu ini memiliki daya tumbuh yang kuat serta area penyebaran yang luas. Awalnya, Nilam di kampung saya berasal dari Sulawesi Tenggara. Orang tua saya pun mendapatkannya dari keluarga yang ada di sana.

Antara Aku, Nilam dan Pohon kakao.
Antara Aku, Nilam dan Pohon kakao.

Dengan menggunakan setek pucuk, nilam dapat berkembang dengan pesat. Pucuk nilam yang terdiri dari empat helai, dengan panjang sekitar 5-10 cm ditancapkan pada daun pisang yang disemat lidi menyerupai potongan pipa lalu diisi tanah gembur. Aktivitas ini diistilahkan koker. Setelah berakar, bibit nilam pun ditanam sehingga mengurangi risiko kematian pada tanaman muda.

Tanaman Nilam yang Berusia Satu Bulan dengan Sistem Tanam Langsung.
Tanaman Nilam yang Berusia Satu Bulan dengan Sistem Tanam Langsung.

Semakin ke sini, petani pun semakin bisa menyiasati penanaman nilam ini. Mereka tidak lagi membuat persemaian karena dianggap boros tenaga kerja. Menurut Hamriah, tante saya yang juga menanam nilam, “Lebih baik ditanam langsung lalu disungkup dengan gelas bekas minuman yang tidak tembus pandang. Hampir semua akan hidup dan mampu bertahan tanpa disiram selama dua hari”. “Sungkup baru bisa dilepas jika sudah terdorong dengan sendirinya oleh bibit yang tumbuh” lanjutnya.

Tanaman Nilam Berada Diantara Kakao yang Masih Kecil.
Tanaman Nilam Berada Diantara Kakao yang Masih Kecil.

Setelah tumbuh, langkah selanjutnya adalah mengatur percabangan. Semakin banyak cabang maka potensi hasil pun semakin besar. Pemupukan juga perlu dilakukan untuk menunjang pertumbuhannya. Setelah tajuk antar tanaman mulai merapat, gulma nyaris tidak ada yang tumbuh di sekitarnya. Dengan demikian, nilam akan berfungsi ganda karena sebagai cover crop di pertanaman kakao, juga akan bernilai jual nantinya.

Tanaman Nilam Berada Di Antara Kakao dan Jagung.
Tanaman Nilam Berada Di Antara Kakao dan Jagung.

Nilam mulai dipanen setelah 7-9 bulan sejak tanam atau pada saat bagian bawahnya mulai menguning. Sekali tanam, nilam dapat dipanen hingga empat kali dengan interval 3-4 bulan. Panen tertinggi diperoleh di ratoon pertamanya dan menurun berikutnya. Setelah berusia 3 tahun, tanaman nilam harus diganti dengan tanaman baru. Panen dilakukan dengan menggunakan gunting. Semua cabang dipotong, kecuali cabang primer untuk penumbuhan cabang baru.
Harga nilam di pasaran pada tahun 2011 berkisar di angka Rp. 3000,- pe kg kering. Bertambah tahun, harga ikut melemah karena stok bahan baku semakin banyak. Hal ini kemudian yang menyurutkan minat petani untuk menanam dan memelihara nilam lagi. Baru di tahun 2015 ini, harga nilam mulai meningkat, hingga pencapai Rp. 10.000,- per kg kering. Nilam pun kembali dibudibayakan layaknya emas hijau yang menjanjikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kecenderungan harga hasil pertanian sangat mempengaruhi perilaku petani kita. Ini yang kemudian menjadi PR bersama, sehingga ke depannya petani kita mampu merencanakan komoditi yang diusahakan diminati pasar. Tak jauh beda dengan fenomena harga hasil pertanian lainnya seperti cabe dan bawang. Dengan pembacaan yang cermat maka setiap komoditi yang ditanam tentu lebih menguntungkan.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s