Bermain Tali Bersama Komunitas Pajappa

Salah satu Pajappa sedang memperagakan turun dengan tali secara terbalik.
Salah satu Pajappa sedang memperagakan turun dengan tali secara terbalik.

Bermain tali kedengarannya bukan hal yang baru lagi. Sewaktu kecil kita sering bermain lompat tali. Saat ikut pramuka di sekolah pun kita sering berhubungan dengan tali-temali. Saya ingat betul saat masih di kampus, kala itu dilakukan penertiban melalui larangan masuk kampus jika sudah malam. Merasa hak belajar kita dibatasi, kami pun tak patah arang. Nah, untuk menyiasati, kami terpaksa memasang tali tambang seukuran pipa satu inch di samping himpunan sebagai alat turun dan naik. Dengan hanya mengandalkan kekuatan tangan dan tanpa alat pengaman, kami nekat melalui tali tersebut. Kala itu badan saya juga masih sangat proporsional dengan kegiatan seperti itu, heheheeee….

Beruntung menjadi bagian dari Komunitas Pajappa. Pajappa dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pejalan. Melalui program Educamp yang dikemas dalam tema-tema khusus sehingga kita tidak hanya melakukan liburan, tapi lebih pada perjalanan yang sarat akan nilai edukasi. Sebaik-baik perjalanan adalah perjalanan yang memberi manfaat baik pribadi maupun orang lain atau lingkungan sekitar.

Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “Caving dan Climbing”, keduanya tidak jauh-jauh dari tali sebagai alat bantu dalam aktivitasnya. Kegiatan yang berlangsung dua hari ini di Gua Saripah sangat padat akan aktivitas. Walau pun demikian, peserta yang jumlahnya mencapai 50 0rang itu sangat menikmati.

Bertolak dari tepian danau Unhas, kami pun sampai di lokasi dengan waktu tempuh satu jam. Tak menunggu waktu lebih lama, teman-teman mengambil peran masing-masing untuk menyiapkan camp. Setelah semuanya siap, mereka lalu menyantap bekal masing-masing lalu bersantai menikmati udara segar sekitar dengan segelas kopi.

Setelah cukup bersantai, peserta pun diarahkan untuk membentuk sebuah lingkaran besar lalu melakukan pemanasan. Dengan jumlah yang dibatasi, kami pun melakukan caving dalam Gua Saripah. Bagi saya, ini yang kedua, tapi kali ini dengan rute yang berbeda, tentu tantangannya pun berbeda. Apa lagi debit air dalam sungai besar sehingga perlu bantuan tali sebagai pengaman jalur. Bagi yang sudah handal berenang mungkin sudah bukan hal yang rumit. Tapi bagaimana dengan saya yang berenangnya belum mahir, atau yang tidak tahu sama sekali berenang. Belum lagi terbatasnya oksigen dalam perut bumi. Dengan bantuan tali yang dipasang oleh leader maka kami pun bisa melalui sungai dalam gua dengan mudah.

Salah satu dinding dalam Gua Saripah.
Salah satu dinding dalam Gua Saripah.
Webbing dipersiapkan sebagai pegangan saat melintasi sungai dalam gua.
Webbing dipersiapkan sebagai pegangan saat melintasi sungai dalam gua.

Dalam lingkaran besar, kami menikmati santapan opor ayam, nasi dan tumis buncis teman-teman konsumsi yang kali ini dikomandoi oleh Om Beib. Saya nambah hingga tiga kali, dasar perut karet. Maklum lah, berpetualang layaknya seorang caver (orang yang menyurusuri gua) cukup menguras energi.

Tak membuang waktu, kami pun diarahkan oleh Kakak Matamatahari untuk mengambil posisi di sekitaran tebing karena kelas edukasi sudah siap. Materi pertama tentang gua dan caving oleh Kakak Farid yang lebih akrab disapa Om Brewok. Dalam materi ini disajikan pengetahuan tentang gua, jenis-jenis gua, dan elemen-elemen dalam gua. Dalam sesi diskusi kemudian dikembangkan mengenai etika seorang caver saat berkegiatan dalam gua serta berbagai peralatan yang diperlukan saat ingin menyusuri sebuah gua. Belum selesai diskusi, kami pun harus berteduh dulu karena hujan.

Beruntung hujan tidak begitu deras dan dengan cepat bintang pun muncul satu per satu. Kami kembali dalam barisan untuk materi selanjutnya. Kali ini giliran Kanda Anwar dari Petualang Telusur Alam (PETA) untuk berbagi pengetahuan bersama kami. Mulai dari pengenalan jenis-jenis tali dan peralatan panjat serta fungsinya masing-masing. Mengenal dan mempraktikkan jenis-jenis simpul serta waktu penggunaannya. Dan baru kali ini saya tahu kalau ada yang namanya simpul kambing. Sementara teman-teman yang sudah mendapat materi saat persiapan membantu yang lainnya agar mudah memahami apa yang diperagakan oleh instruktur. Tak tanggung-tanggung, kelas kami tutup pukul 02.30 wita dini hari.

Beberapa Peralatan yang diperlukan saat Caving dan memanjat.
Beberapa peralatan yang diperlukan saat caving dan memanjat.

Karena badan terasa capek, maka tidur pun begitu nyenyak hingga tak terasa kalau sudah pagi. Setelah sarapan dengan sepotong roti dan secangkir kopi Toraja, kami pun kembali menyatu dalam barisan untuk senam pagi sekaligus pemanasan untuk caving dan climbing. Sementara teman-teman yang lain merasakan sensasi menjadi caver, yang lain mulai bermain tali di tebing. Ada lima jalur yang sudah disiapkan, empat untuk Single Rope Technique (SRT) dan satu lagi untuk Rock Climbing (RC).

Suasana Senam Pagi dan Pemansan.
Suasana Senam Pagi dan Pemanasan.
Stalakmit dan Stalaknit dalam Gua Saripah.
Stalakmit dan Stalaknit dalam Gua Saripah.
Beberapa medan sangat licin sehingga butuh kerja sama yang baik.
Beberapa medan sangat licin sehingga butuh kerja sama yang baik.

Secara bergantian teman-teman memperagakan apa yang dipelajari semalam. Mulai dari penggunaan alat yang sederhana dengan teknik prusiking hingga yang menggunakan alat modern dengan Gerigri dan Jumar. Untuk SRT yang biasanya diaplikasikan di gua vertikal ini, saya mampu top dua kali. Sedangkan untuk panjat tebing, ternyata tak semudah di angan. Dengan berat badan yang mulai over, semangat tak cukup. Saya pun hanya mampu hingga empat meteran dari tebing yang tingginya mencapai 25 meter itu.

Beberapa Pajappa sedang melakukan SRT.
Beberapa Pajappa sedang melakukan SRT.
Ada Juga yang sedang latihan Panjat Tebing.
Ada Juga yang sedang latihan Panjat Tebing.

Yahhh, tak semua yang di pikiran harus kita raih. Perlu bercermin agar mengenal diri lebih dalam. Jangan memaksakan kehendak karena pada akhirnya kamu akan jatuh. Belajar dan berlatihlah dengan giat dan jangan lupa bersyukur atas apa yang kamu miliki. Pertahankan lalu tingkatkan.

Bersama Kanda Allank yang begitu riang bermain tali.
Bersama Kanda Allank yang begitu riang bermain tali.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s