Seru-Seruan di Educamp Pajappa

 

Sabtu pagi yang cerah, secerah harapan untuk saling berbagi dalam canda dan tawa. Harapan agar tidak terjadi hujan yang lebat hingga minggu esok. Namun demikian, kami telah diinstruksikan oleh kakak Ari selaku koordinator acara agar selalu siap menghadapi kondisi, terutama saat hujan lebat. Apatah lagi Educamp ini dilaksanakan di puncak-puncak musim penghujan.

Pukul 09.30 wita, rombongan beranjak dari Lapangan Hertasning menuju Bellabori, Kecamatan Parangloe, Gowa. Di perjalanan, rombongan mampir di sebuah Sekolah Dasar untuk menyampaikan paket berupa buku bacaan. Buku-buku itu adalah donasi dari BRI Peduli. Setelah penyerahan secara simbolis kepada pihak sekolah, kami pun melanjutkan perjalanan.

Panas matahari yang menyambut begitu menyengat. Tak mudah bagi semangat teman-teman untuk surut. Semua peserta mengambil bagian, mulai dari memasang tenda, menyiapkan kelengkapan acara dan tentunya menyiapkan santap siang. Selanjutnya tiap-tiap peserta merapikan barang bawaannya pada tendanya masing-masing sesuai dengan nomor yang mereka cabut.

Suasana Camp peserta Educamp #1 di Bellabori
Suasana Camp peserta Educamp #1 di Bellabori
Siap-siap untuk bersantap siang.
Siap-siap untuk bersantap siang.

Matahari mulai merendah, kami pun menepi ke sisi yang lebih teduh untuk memasuki kelas sharing. Namanya juga Educamp, bukan sekedar berkumpul tertawa lalu pindah tidur. Tapi bagaimana mengisi waktu-waktu luang saat camping dengan hal-hal yang lebih positif, seperti berbagi informasi dan pengalaman.

Dimulai dengan materi tentang perencanaan dan etika berkegiatan di alam terbuka oleh Kanda Arfan. Perencanaan sebuah kegiatan di alam terbuka memiliki peran yang sangat penting, bahkan mempengaruhi hasil dari aktivitas tersebut. Apa lagi kalau lokasi yang dipilih adalah lokasi yang belum pernah dikunjungi oleh salah satu dari anggota tim. Dalam menyusun rencana, setidaknya kita harus memiliki referensi berupa peta, transportasi, kondisi geografis dan adat istiadat setempat. Dari bahan tersebut kemudian akan diramu kesiapan fisik, waktu perjalanan, peralatan tim dan individu, hingga perbekalan serta segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Koordinator perjalanan sebaiknya memiliki wibawa dan pengalaman yang mumpuni. Namun demikian, keberhasilan perjalanan ditentukan oleh kemampuan setiap anggota untuk belajar dan bekerjasama sebagai tim yang kompak.

Persoalan etika juga harus dijunjung tinggi sebagai cermin dari masyarakat yang berbudaya. Sebisa mungkin menjaga sikap sejak pertama tiba hingga meninggalkan lokasi. Hindari hal-hal yang berlebihan seperti teriakan yang justru menguras energi tapi substansinya tidak ada. Tak hanya pada sesama manusia saja kita harus saling menghargai, ada makhluk lain yang juga mendiami setiap wilayah. Keberadaan tumbuhan dan binatang yang mendiami suatu kawasan juga harus dihargai sebagai tuan rumah. Belum lagi makhluk metafisik yang mungkin ada di situ, lanjut Kakanda yang aktif di Petualang Telusur Alam (PETA) ini.

Selanjutnya, saya diberi kepercayaan untuk berbagi pengetahuan seputar tumbuhan liar yang bisa dimanfaatkan. Tumuhan seperti matoa, pesut kuda, bambu, jambu biji, harendong, genjer, bunga tahi ayam, sirih, dan ketepang cina adalah contoh tumbuhan yang ada di lokasi camp kami dan bisa dimanfaatkan. Matoa misalnya yang endemik di Asia tenggara ini memiliki buah dengan rasa yang memadukan antara lengkeng dan durian, sangat lezat. Untuk lebih jelasnya, materi botanical survival ini sudah saya tulis sebelumnya di link ini https://enalgattuso8.wordpress.com/2015/02/01/botanical-survival-lebih-dekat-dengan-tumbuh-tumbuhan/.

Yang unik saat menentukan siapa yang masak untuk makan malam. Panitia memberi tantang untuk setiap perwakilan kelompok untuk mendeskripsikan bentuk lain dari sebuah tumbler dan memperagakan cara menggunakannya. Misalnya, saya menyebut sisir, saya harus memperagakannya seolah menggunakan sisir. Tiga kelompok yang gugur pertama akan diberi kewenangan untuk bereksperimen di dapur. Kelompok saya yang diwakili Dedy pun tak lolos di game tersebut.

Malam diisi dengan perkenalan dan sharing pengalaman dari tiap-tiap peserta. Beruntung malam bertabur bintang, hanya sesekali awan gelap menghampiri lalu pergi lagi. Panjang malam pun kami nikmati dengan hangat kopi dan cerita yang tiada putusnya. Bagaimana tidak panjang, lebih dari 50 peserta dari berbagai komunitas dan penggiat alam menyatu dalam lingkaran besar. Selain dari Pajappa, ada pula dari Blogger Anging Mammiri, Makassar Berkebun, Berbagi Nasi Makassar, 1000 Guru Makassar, Sigi Makassar, PETA, MIPALA, Kunrapala, PetualangINA dan Twiitventure. Saya sendiri tak sadar kalau tertidur belantaikan matras dan beratapkan langit.

Sesuai dengan jadwal, pagi hari akan diisi dengan out bond. Ada tujuh games yang telah disiapkan oleh Alan selaku pemandu out bond. Mulai dari Titanic, Panjang Tangan, Spider Trap, Tonggak, Ember Melayang, Lingkaran Setan dan Where is My Friend. Hanya satu dari semua jenis permainan yang tidak bisa dipecahkan oleh peserta, yaitu Titanic. Tantangan dari game Titanic ini adalah semua anggota kelompok naik di sebuah matras. Mereka harus membalik matras tersebut tanpa ada anggota yang keluar dari matras tersebut.

Peserta sedang menyelesaikan tantangan games Titanic dan Lingkaran Setan.
Peserta sedang menyelesaikan tantangan games Titanic dan Lingkaran Setan.

Setelah menguras energi dalam permainan, peserta pun menikmati mandi di sungai batu seperti tak ada capeknya. Selanjutnya menyantap nasi goreng yang telah disediakan oleh teman-teman yang bertugas di dapur. Terakhir tentunya packing dan foto bersama.

Foto Bersama sebelum pulang.
Foto Bersama sebelum pulang.

Banyak yang melakukan perjalanan, bahkan binatang pun melakukan perjalanan. Yang terpenting adalah apa hal positif yang dihasilkan oleh perjalanan tersebut. Bagaimana kita belajar dan meningkatkan kepekaan terhadap sesama dan alam sekitar. Hidup itu butuh hiburan dan liburan, mari saling menginspirasi.

Berikut video dokumentasi Educamp1 dari Pajappa yang dibuat oleh Om Achi.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s