Leang Londrong; Gua Kehidupan Minasate’ne

Di musim penghujan seperti ini, sudah selayaknya kita memberi waktu bagi gunung untuk memulihkan diri. Biarlah pepohonan berpesta atas hadiah hujan, kilat dan petir. Biarlah lumut dan paku-pakuan tumbuh menghijau dari batang pohon dan bebatuan. Kelak setelah hujan berlalu, akan hadir surga kecil berhiaskan bunga dimana mata berkomunikasi atas kebesaran Tuhan. Tak jauh beda dengan pulau dan laut. Hembusan angin dan badai menjadi ancaman yang serius saat berkegiatan di pulau. Mungkin juga itu adalah waktu yang tepat untuk biota laut mempercantik diri.

Lalu, kemana kita ngapain ? Mungkin Leang Londrong bisa menjadi solusi. Secara administratif, Leang Londrong berada di Desa Panaikang, Kecamatan Minasate’ne, Kabupaten Pangkep, Sulsel. Jaraknya sekitar 50 km dari kota Makassar, dengan waktu tempuh satu setengah jam menggunakan sepeda motor.

Setelah sampai Pangkep, belok kanan menuju jalur Tonasa I. Sekira 2 km, kita akan jumpai Pasar Kassi, pelankan kendaraan dan nyalakan weser kiri karena di depan sudah terlihat jalur menuju Leang Londrong. Selanjutnya ikuti papan petunjuk yang telah dipasang oleh pemerintah setempat. Setelah tiba pada pos lapor, hanya membayar kontribusi sebesar Rp. 2000 rupiah per orang, kita sudah bisa masuk ke kawasan. Sambil berjalan kaki, kita mata akan dimanjakan dengan lereng-lereng karst, akar-akar yang menggantung serta aneka ragam satwa yang ada.

pemandangan di depan mulut Leang Londrong.
pemandangan di depan mulut Leang Londrong.

Leang Londrong sendiri kalau diartikan menurut bahasa setempat adalah gua yang berair. Ada juga yang mengartikan kata “Londrong” dengan batu yang mengeluarkan air. Terang saja, dari dalam gua, terdapat sungai dengan aliran air yang cukup deras. Dari dalam gua juga terdapat pipa besar dengan diameter 20 cm yang mengalirkan air bersih ke pemukiman. Selain sumber air bersih, tentunya aliran sungai yang mengalir akan dijadikan warga sebagai irigasi di persawahan. Pantas jika leang ini disebut sebagai gua kehidupan. Leang Londrong akan ramai dikunjungi wisatawan pada akhir pekan. Di depan mulut gua dibuat tanggul yang membentuk kolam, dalamnya setinggi dada orang dewasa. Dalam kolam inilah para pengunjung berenang atau pun sekedar berendam merasakan kesegaran air yang keluar dari batu. Jika ingin menikmati mengambang di atas permukaan air, kita bisa menyewa ban seharga Rp. 5000 rupiah, itu sudah digunakan sepuasnya.

Beberapa sudut Leang Londrong yang indah.
Beberapa sudut Leang Londrong yang indah.

Di sisi kanan gua terdapat dua buah gazebo, sayang kondisinya sudah memprihatinkan. Atapnya sudah bocor-bocor, ditambah dengan coretan-coretan vandalis yang memenuhinya. Di beberapa titik juga terdapat tempat sampah namun nasibnya tak jauh beda dengan gazebo. Mungkin lebih baik jika tidak usah disediakan tempat sampah. Pihak pengelolah harus selalu mengingatkan pengunjung agar membawa pulang sampah yang dihasilkan dalam kawasan.

Fasilitas Gazebo di Leang Londrong.
Fasilitas Gazebo di Leang Londrong.

Saat berkunjung ke sana bersama teman-teman Pajappa, kami mencoba masuk ke dalam gua. Dengan hanya menggunakan headlamp, kami hanya sampai pada zona yang telah diberi pagar berupa tiang. Kami tak ingin nekad untuk masuk lebih dalam lagi tanpa peralatan yang memadai serta kurangnya informasi tentang jalur dalam gua tersebut. Kami pun keluar dan hanya berfoto-foto di mulut gua saja.

Berfoto di atas batu pada mulut Leang Londrong.
Berfoto di atas batu pada mulut Leang Londrong.

Kehadiran berbagai jenis kupu-kupu di kawasan wisata ini menjadi daya tarik tersendiri. Di antara ragam warna yang ada, kupu yang bersayap hitam putih lah yang bisa dinikmati lebih dekat karena cenderung ramah, selebihnya masih liar. Capung dan lebah madu pun terlihat bermain. Sesekali dari kejauhan terdengar suara monyet yang saling bersahutan.

Kupu-Kupu yang cantik sedang mencumbui bunga.
Kupu-Kupu yang cantik sedang mencumbui bunga.

Alam menyimpan banyak misteri dari setiap keindahannya. Semakin banyak misteri yang tidak terungkap maka semakin panjang kelangsungan sebuah ekosistem. Sudah selayaknya kita sebagai manusia harus berupaya menjaganya agar tetap lestari. Damai lah bumi dengan segala isinya.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s