Botanical Survival; Lebih Dekat dengan Tumbuh-Tumbuhan

Saya mencintai kehidupan, tetapi saya tidak takut akan kematian. Betapapun, sebisa mungkin saya lebih suka meninggal paling belakangan.” Georges Simenon – Pencipta Karakter Detektif Fiksi Inspektur Maigret.

Belakangan, sering kita dengar berita tentang orang yang hilang di alam bebas dengan berbagai alasan penyebabnya. Sebenarnya, perencanaan yang matang sebelum melakukan sebuah perjalanan ke alam bebas itu menjadi kunci utama berhasilnya sebuah perjalanan. Bagaimana tidak, segala informasi tentang area yang dituju adalah bahan dari sebuah perencanaan dan setiap orang baik secara individu maupun tim harus memahami tahapan ini. Perencanaan yang matang tidak hanya menitikberatkan pada ketepatan waktu tapi lebih pada manajemen perbekalan, baik peralatan maupun ransum dan obat-obatan.

Lain cerita jika segala persiapan telah dilakukan dengan baik dan terjadi hal-hal di luar kendali kita sebagai manusia. Terlebih lagi jika kita memang merencanakan sebuah program survival. Yang perlu diperhatikan, bahwasanya kondisi keterbatasan bahan makanan bisa saja mengancam dan di luar kendali kita. Semisal terjadi kecelakaan pesawat ataukah terjadi bencana alam. Pepatah lama mengatakan “Tak ada rotan, akar pun jadi”. Dalam kondisi survival, pepatah tersebut berlaku untuk mempertahankan hidup.

Peran para ahli etnobotani tidak bisa dipungkiri dalam upaya penemuan-penemuan jenis tumbuhan yang memiliki nilai bagi manusia. Etnobotani sendiri berasal dari dua kata yaitu etnologi (cabang ilmu yang melakukan kajian terntang budaya atau peradaban) dan botani (cabang biologi yang melakukan pengkajian terhadap tumbuh-tumbuhan). Jadi Etnobotani bisa diartikan sebagai hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan terutama pemanfaatannya.

Dalam perjalanannnya, tumbuh-tumbuhan tidak hanya pada persoalan sandang, pangan dan papan tapi juga meliputi obat-obatan, praktik keagamaan, kosmetik, pewarna, bahkan mata uang/alat tukar. Khusus untuk kasus botanical survival, kita hanya fokus pada bahan makanan, minuman, obat-obatan, serta perlindungan dan perapian.

Dari berbagai penelitian dan kebiasaan masyarakat serta dari pengalaman para penggiat alam bebas, berikut beberapa ciri dari tumbuhan yang bisa dimakan (non jamur):
a. Bagian tumbuhan untuk dikonsumsi daunnya adalah yang masih muda atau bagian pucuk.
b. Tumbuhan tidak memiliki getah yang pekat.
c. Tumbuhan tidak berbulu atau kasar.
d. Tumbuhan tidak mengeluarkan bau yang kurang sedap.
e. Sering dijadikan makanan oleh binatang mamalia.
f. Tumbuhan tidak memiliki warna yang mencolok.

Berikut beberapa ciri-ciri jamur yang bisa dikatakan beracun :
a. Memiliki warna mencolok.
b. Mengeluarkan bau yang kurang sedap.
c. Bila diraba, jamur akan mudah hancur.
d. Memiliki cawan (seperti mangkok) pada bagian pangkal batangnya.
e. Tumbuh pada kotoran binatang.
f. Mengeluarkan getah putih seperti susu.
g. Jika jamur diiris menggunakan pisau stainlees, setelah beberapa saat akan meninggalkan noda hitam di pisau.
h. Jika sudah terlanjur dimasak, sendok stainlees yang digunakan mengaduk akan berubah warna menjadi hitam.
i. Jika dimasukkan ke dalam nasi panas, nasi akan berubah warna menjadi kuning.

Tidak cukup dengan mengetahui ciri-ciri tersebut di atas saja, ada beberapa kaidah yang mesti kita ketahui untuk memastikan keamanan tumbuhan tersebut layak atau tidak untuk dikonsumsi, sebagai berikut:
a. Makanlah tumbuhan yang betul-betul sudah dikenali.
b. Jangan makan satu jenis tumbuhan saja, makanlah bermacam-macam jenis.
c. Perhatikan buahnya, jangan makan yang berwarna ungu atau kehitaman karena itu sebagai indikator adanya kandungan racun alkaloid.
d. Oleskan sedikit pada bagian kulit yang peka seperti lipatan siku atau belakang telinga. Kalau tidak terasa gatal, coba oleskan pada pinggiran lidah. Jika tidak juga terasa gatal berarti tumbuhan tersebut bisa dikatakan aman dimakan (tapi tidak berlaku pada jamur).
e. Tumbuhan liar selain buah, sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan alergi.

Tapi, bagaimana jika telanjur memakan tumbuhan yang beracun? Jawabannya adalah “muntahkan” sebelum senyawa racunnya beraksi dengan tubuh. Selanjutnya, minumlah air dalam jumlah yang banyak. Jika ada susu atau air kelapa, itu lebih baik.

Berikut beberapa tumbuhan liar yang bisa dimanfaatkankan saat kondisi sedang survival:
1. Buah Arbei
1. arbei
Buah arbei, baik berupa murbei, raspberry, maupun strawbery hutan dapat dimakan buah yang sudah matang. Buah matang dicirikan dengan warna yang merah kehitaman, semakin hitam buah akan terasa manis. Buah ini banyak mengandung senyawa antioksidan.

2. Jambu
2. jambu
Tumbuhan jambu banyak tersebar di nusantara dengan ciri khas berupa serbuk sari yang banyak. Yang umum ditemui adalah jambu biji atau jambu batu, baik yang merah maupun putih. Buah banyak mengandung air dan tentunya vitamin C. Selain itu daunnya juga bisa dimanfaatkan sebagai obat untuk meredakan diare.

3. Anggrek Bulbophyllum
3. bulbophyllum
Anggrek ini bisa dimanfaatkan bulb atau bagian yang membulat karena mengandung banyak air sehingga bisa dijadikan sumber air saat mengalami dehidrasi.

4. Bunga Tahi Ayam
4. bunga tahi ayam
Buah dari buanga lantana atau bunga tahi ayam ini dapat dimanfaatkan buahnya yang sudah berwarna kehitaman untuk dikonsumsi. Rasanya mirip buah berry Cuma ukuran buah yang kecil jadi harus mengumpulkannya dalam jumlah yang banyak.

5. Buah Lengkuas
5. buah lengkuas
Secara budidaya, kita jarang menjumpai lengkuas yang berbuah karena memang yang sering dimanfaatkan adalah rimpangnya sebagai bumbu masak. Lengkuas juga dikenal sebagai anti jamur alami. Dalam ekosistem bebas, buah lengkuas dapat kita jumpai. Rasanya tidak jauh beda dengan honje atau kecombrang.

6. Ciplukan
6. ciplukan
Ciplukan sering ditemui tumbuh di kawasan terbuka. Buahnya bulat seperti buni dan diselimuti kelopak bunganya. Buah yang sudah matang dicirikan dengan warna hijau pucat hingga kuning. Buah matang itu dapat dimakan langsung.

7. Dengen
7. dengeng
Buah Dengen adalah tanaman asli dari Asia Tenggara. Pohon ini termasuk tumbuhan yang bisa hidup bertahun-tahun. Habitat pohon buah Dengen adalah hutan. Tumbuhan ini juga endemik di kawasan Luwu Timur (Malili). Ciri khas dari buah Dengen yaitu berbentuk mahkota berwarna kuning, dan setengah mirip telinga bila dibelah dengan helaian buahanya. Buahnya dapat dimakan dengan rasa asam dan biasanya digunakan sebagai pengganti asam jeruk, serta kayunya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan perahu dan bahan bangunan rumah.

8. Genjer
8. genjer
Genjer termasuk tumbuhan air atau rawa, sering ditemukan tumbuh sebagai gulma pada ekosistem persawahan. Bagian yang dimanfaatkan adalah tangkai dan helaian daunnya. Tumbuhan ini sangat akrab dengan masyarakat Sunda. Sebelum dimakan, dilayukan atau ditumis dahulu.

9. Harendong
9. harendong
Tumbuhan ini memiliki habitat yang luas dengan ciri bunga yang berwarna ungu muda. Bagian yang dimanfaatkan adalah buah yang sudah matang dengan ciri berwarna kehitaman. Rasanya seperti buah berry dengan tekstur agak berpasir.

10. Beluntas
10. beluntas
Tumbuhan semak bayak dijumpai di kawasan pesisir tapi cukup adaptif di dataran menengah. Daun mudanya dijadikan sayur setelah dilayukan. Bagi yang mengalami masalah dengan bau badan, tumbuhan ini bisa menjadi solusinya.

11. Jamur
11. jamur konsumsi
Sebenarnya, selama pilihan lain masih ada, ada baiknya jamur dikesampingkan dulu. Kita harus mengenal baik mana jamur yang bisa dikonsumsi dan mana yang bisa menjadi malaikat maut saat dikonsumsi. Meskipun ciri-cirinya telah disebutkan di atas, tapi kita tetap harus hati-hati dengan tumbuhan ini. Jamur yang umumnya bisa dikonsumsi adalah jamur kuping, jamur merang dan jamur payung.

12. Kalli-Kalli / Druju (Argemone mexicana)
12. kalli-kalli
Hidup di kawasan pesisir, merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang hidup pada daratan yang lebih jauh dari garis pantai. Daun terlihat seperti berzigzag dengan duri pada ujung-ujung tepi daunnya. Daunnya dimanfaatkan sebagai bahan minuman penyegar berupa teh. Belakangan menjadi sorotan khusus karena dapat mengatasi berbagai jenis penyakit.

13. Kecombrang
13. kecombrang
Keluarga jahe-jahean ini sudah akrab dengan masyarakat Indonesia. Bunga, buah dan daunnya sangat sering dijumpai dalam sebuah hidangan. Rasa asamnya dapat membangkitkan selera makan. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sabun mandi.

14. Kelapa
14. kelapa
Bukan sesuatu yang asing lagi di negara tropis dengan pesisir pantai yang panjang. Kelapa menjadi tumbuhan yang hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Dalam kondisi survival, daunnya digunakan sebagai bahan bivak, buahnya untuk dikonsumsi baik muda maupun tua, airnya dapat diminum dan bisa mengurangi efek keracunan. Pada buah yang berunas, embrionya seperti serat busa padat yang bisa dimakan. Umbut kelapa lebih manis dari jenis umbut suku palem-paleman lainnya.

15. Ara (Indonesia) / Kenlang (Soppeng)
15. kenlang, pahit. buah muda dimasak dulu
Nama umumnya ara (Ficus racemosa L.). Tumbuhan ini masih kerabat dengan beringin. Buah yang masih muda, berwarna hijau, dimakan setelah direbus berkali-kali. Rasanya sedikit pahit sehingga perlu bumbu tambahan. Buah masak umumnya dimakan oleh primata.

16. Matoa
16. matoaa
Tumbuhan ini endemik di Asia Tenggara dengan penyebaran di wilayah timur Indonesia. Masih kerabat dengan rambutan, buah ini memiliki rasa yang menggabungkan antara lengkeng dengan durian. Karena rasanya yang enak ini, tumbuhan ini banyak dibudidayakan.

17. Nipa
17. nipa
Keluarga palem yang satu ini banyak tumbuh menjadi barier pada kawasan sungai-sungai dengan air yang payau. Buahnya dalam bentuk tandan, isinya seperti kelapa dengan rasa yang sedikit agak asin karena pengaruh ekosistemnya. Daunnya digunakan sebagai bahan membuat bivak.

18. Pakis
18. pakis ekor monyet
Pucuk pakis muda umumnya bisa dimakan setelah direbus. Khusus pakis cakar elang, harus direbus berkali-kali untuk menghilangkan pengaruh senyawa beracunnya.

19. Rotan
19. palmae
Rotan dimanfaatkan sebagai pengikat saat membuat bivak. Umbut rotan juga dapat dimakan setelah direbus berkali-kali karena rasanya sepat. Semakin sering dilakukan perebusan maka rasa sepatnya semakin berkurang.

20. Putat
20. putaat
Pohon putat biasanya ditemui tumbuh di lembah-lembah, tepi sungai dan kawasan tanah lembap. Daun putat berbentuk bujur, panjang dan tebal dengan bahagian tepi bergerigi kecil. Daun muda di bahagian pucuk berwarna merah keunguan dan apabila matang daunnya berubah menjadi hijau tua. Daun muda ini dimakan sebagai ulam, rasanya renyah dan sedikit manis. Pucuk putat juga bisa digunakan sebagai peredam nyeri saat disengat serangga. Pucuknya dihancurkan atau dikunyah lalu ditempelkan pada luka sengatan.

21. Rambusa
21. rambusa
Keluarga markisa ini memiliki buah yang tertutup oleh kelopak yang terlihat seperti jaring-jaring. Buah maatang berwarna kuning dapat dimakan, rasanya manis dan juicy. Tumbuhan ini tentunya sudah akrab dengan masa kecil kalian.

22. Bambu
22. rebung bambu
Dalam kondisi survival, bambu dapat dijadikan sebagai bahan makanan dengan memasak terlebih dahulu rebungnya hingga lunak. Batang bambu juga bisa digunakan sebagai wadah memasak makanan. Selain itu, dalam bambu sering terdapat ulat yang mengandung protein tinggi juga bisa dimakan.

23. Ruceng
23. rucengg
Pohon ruceng ini juga masih kerabat dengan beringin. Di Bulukumba dikenal dengan nama erasa. Bentuk daunnya seperti daun pulai namun berukuran lebih kecil. Yang dikonsumsi adalah daun muda yang berwarna agak putih. Biasanya berpucuk muda sekali dalam setahun.

24. Santigi
24. santigii
Tumbuh pada ketinggian di atas 1000 mdpl dengan corak warna merah pada daun muda seperti pada tumbuhan pucuk merah. Yang dimakan adalah bagian pucuk yang telah dimasak. Buah santigi yang matang juga bisa dimakan langsung. Tajuk santigi yang kuat dapat dijadikan bivak alami jika terjadi badai.

25. Selada Air
25. selada air
Tumbuh baik pada tempat-tempat sejuk dan berair bersih. Selada air sangat berperan sebagai saringan air pada saluran-saluran air seperti di Lembah Ramma. Di beberapa tempat, selada air sengaja dibiakkan pada sebuah kolam/sawah. Daunnya dimakan setelah dimasak atau ditumis.

26. Semanggi
26. semanggi
Ada dua tipe semanggi, ada yang tumbuh di lingkungan banyak air seperti di persawahan atau rawa dan ada yang di daratan. Semanggi air umumnya memiliki tiga helai daun sedangkan pada semanggi darat ada empat helai daun. Daunnya dimasak dahulu sebelum dikonsumsi.

27. Tapak Kuda
27. tapak kuda
Tapak kuda ini tumbuh pada tanah-tanah lembab dan kaya bahan organik. Daunnya bisa dimakan sebagai ulam, lebih aman jika dilayukan atau dimasak dahulu sebelum dikonsumsi.

28. Terong Pipit
28. terong pipipt
Terong kecil ini tumbuh liar dengan penyebaran yang dibantu oleh burung yang memakannya. Sangat mirip dengan leunca namun terong pipit sedikit lebih keras. Buah muda dimakan sebagai ulam atau direbus dahulu sebagai sayur.

29. Kantong Semar
29. kantong semar
Tumbuh di daerah ketinggian yang kaya bahan organik, biasanya bersanding dengan paku-pakuan. Daun yang berkantong dapat menampung air sehingga bisa menjadi sumber air. Saat ingin meminum air dari kantong semar, perhatikan baik-baik karena sering ada serangga yang terperangkap di dalamnya. Selain itu, kantong semar juga bisa digunakan sebagai wadah untuk memasak.

30. Kayu Angin (Akar Angin)
30. Kayu Angin
Berbentuk seperti lumut-lumut yang menggantung pada dahan dan ranting pohon pada ketinggian di atas 1000 mdpl. Tumbuhan ini digunakan sebagai obat masuk angin dan sesak nafas dengan cara direbus lalu diminum air rebusannya. Kandungan vitamin C pada lumut ini juga bisa digunakan untuk mengobati sariawan. Rasanya pahit sehingga lebih enak jika dicampur dengan madu.

31. Alang-Alang
31. alang2
Tumbuhan ini sering dijumpai di padang rumput maupun pada ladang sebagai gulma. Keluarga rumput ini memiliki pinggiran daun yang tajam serta tunas pada rhizoma yang runcing. Rhizomanya telah banyak dijadikan bahan jamu. Dalam kondisi survival, daun yang telah dimemarkan bisa digunakan untuk membalut luka baru untuk mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan.

32. Pesut Kuda
32. Pesut Kuda
Banyak tumbuh di tanah-tanah terbuka, bahkan sering dijumpai di pinggir jalan. Tandan bunganya seperti cambuk dengan bunga-bunga kecil berwarna ungu atau putih. Daunnya digunakan sebagai obat sariawan dengan dikunyah langsung. Air rebusan daunnya dapat mengobati panas dalam dan sakit pada tenggorokan.

33. Babadotan
33. jonga-jonga
Di sulawesi lebih akrab dengan sebutan jonga-jonga, aroma daunnya menyengat. Ambil beberapa daun mudanya lalu lumatkan hingga berair lalu tempelkan pada luka baru. Selain mempercepat pembekuan darah, juga untuk mencegah infeksi. Pada batang terdapat benjolan, itu berisi larva lalat argentina. Larva tersebut bisa dijadikan umpan untuk memancing.

34. Ketapang Cina
34. ketepang cina
Tumbuhan ini masih memiliki kerabat dengan kacang-kacangan, daun majemuk dan bunga cantik berwarna kuning. Daunnya biasanya digunakan sebagai anti jamur dengan cara dilumatkan lalu dioleskan pada tumbuh yang ditumbuhi jamur.

35. Kayu Jawa
35. kayu jawa
Pohon ini termasuk tumbuhan meranggas dengan menggugurkan semua daunnya pada suatu musim, lalu hijau kembali setelah datang musim penghujan. Banyak dijadikan sebagai pagar kebun. Mungkin karena tumbuhan ini memiliki ketahanan hidup yang tinggi sehingga dalam bahasa Makassar disebut Tammate (tidak mati). Cairan pada lapisan kambiumnya dapat dijadikan obat pada luka fisik untuk menahan pendarahan.

36. Pidada / Padada

Buah Padada
Buah Padada

Tumbuhan mangrove ini memiliki buah yang dapat dimakan, mengandung banyak air. Saat ini, pada banyak dibuat sebagai jus atau sirup pada kawasan wisata ekosistem mangrove.

37. Iles-Iles
37. iles-iles
Iles-iles lebih akrab di telinga kita dengan sebutan bunga bangkai. Tumbuhan dua musim ini memiliki umbi yang bisa dijadikan sumber makanan. Saat ini, telah banyak dicari dan dikembangkan sebagai bentuk sumber pangan alternatif.

Demikian beberapa tumbuhan liar yang bisa kita manfaatkan dalam kondisi survival. Alam kita sangat kaya dengan ragam spesies tumbuhan darat terbesar kedua di dunia tentu menjadi jaminan bahwa masih banyak lagi spesies-spesies tumbuhan yang bisa kita manfaatkan. Kesemuanya itu hanya bisa kita manfaatkan selama kita mau belajar dan mengkaji. Dengan demikian, alam bebas adalah rumah yang nyaman bagi kita.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

5 thoughts on “Botanical Survival; Lebih Dekat dengan Tumbuh-Tumbuhan”

  1. Maaf eka numpang lewat.. >,<
    kalo di tempat eka di Samarinda Kalimantan Timur buah dari pohon Kenlang (Soppeng) ini disebut Buah Bolo…
    yg udah mateng rasanya agak kecut ^^
    Makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s