Prau dan We Are AC Milan

prauu
Sunrise Prau yang romantis

Musim panen masih berlangsung dan rasa penat kian menumpuk di kepala. Rindu kampung halaman, rindu orang-orang terdekat, dan rindu akan ketinggian semakin menumpuk seolah bom waktu yang menunggu waktu untuk meledak. Sangat aneh memang bertandang ke tanah Jawa tapi tidak pernah menjejakkan kaki di salah satu triangulasinya. Apa daya kesempatan tak ada karena rutinitas yang padat bahkan di hari minggu sekali pun. Setiap pagi Lawu dan Wilis hanya dapat saya nikmati dari kejauhan, tepatnya dari Ngawi.

Sebulan sebelumnya saya sudah berkoordinasi dengan Wirdhan yang posisinya di Jogja untuk mendaftarkan diri di pendakian bersama perayaan dua tahun Mipala (Milanisti Indonesia Penggiat Alam). Mungkin seperti ini yang dikatakan galau, saat hari pelaksanaan tinggal tiga hari, pekerjaan tak jua memberi kelonggaran. Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk mengikuti perayaan itu, pasalnya sehari sebelum acara, pekerjaan bisa dirampungkan 90% dan teman kerja pun memberi saya kesempatan untuk meninggalkan lokasi selama tiga hari. Alangkah senangnya hari itu.

Sore hari setelah pulang dari sawah, saya pun packing seadanya langsung bertolak menuju Yogjakarta menggunakan bus. Saya tidak was-was lagi karena sebelumya saya juga sudah pernah ke sana jadi saya sudah tahu dimana saya akan berujung dan dijemput. Setelah menghabiskan waktu selama lima jam di atas bus, saya pun tiba di Terminal Giwangan. Tak lama berselang, Wirdhan pun datang lalu kami makan tengah malam di Malioboro.

Pagi harinya kami baru mempersiapkan perbekalan untuk camp dan setelah jumat kami pun berangkat menuju Magelang. Karena lama menunggu bus di Jogja maka kami tiba di terminal Magelang ba’da magrib. Beruntung sesaat setelah sampai, kami mendapat bus yang segera beranjak menuju Wonosobo. Dua jam perjalanan, kami pun tiba di terminal kota Wonosobo yang juga ditetapkan sebagai meeting point oleh panitia. Rasa lapar tak tertahankan, kami pun memilih makan di warung depan terminal sambil mencari informasi penginapan. Kami sempat ditawari untuk menginap di terminal oleh suami ibu tempat kami makan. Dengan mempertimbangkan perjalanan yang kami lewati dan pendakian esoknya, kami memilih mencari penginapan sekalian untuk menonton perhelatan piala dunia.

d1
Terasering dataran tinggi Dieng

Sebelum pukul 07.00 WIB, kami pun bergegas menuju terminal yang waktu tempuhnya cuma lima menit dari tempat menginap kami semalam. Di meeting point, saya baru bertemu dengan Jigol yang selama ini hanya bertegur sapa lewat kicauan twitter. Sambil menunggu peserta yang lain, kami pun berbaur dengan kawan-kawan yang sudah lebih dahulu tiba. Tak lupa kami mencari tahu bagaimana kondisi Prau kepada mereka yang sudah pernah ke sana. Dari sini kami baru tahu kalau tidak ada sumber air dan harus membawa air untuk masak dan minum, empat botol ukuran 1500 ml sudah lebih dari cukup buat kami berdua. Dengan dua mini bus, kami menuju Dieng, udara sejuk pegunungan makin terasa. Pemandangan terasering ladang hortikultura dan rumah-rumah penduduk yang beratap hitam akrab di pandangan mata. Kami pun tiba di camp terakhir sebelum pendakian. Karena sudah siang, kami memilih makan dan ibadah dulu. Setelah mengenakan kaos seragam, kami pun mulai langkah demi langkah meniti ketinggian. Gunung yang tingginya 2565 mdpl ini punya karakter yang mirip dengan Bulusaraung, tidak tinggi-tinggi amat tapi kemiringannya cukup membuat lutut seperti memainkan drum double pedal. Nyaris tak ada bonus di rutenya meskipun cukum memakan waktu dua jam perjalanan. Pendakian kali ini sangat terasa karena terakhir saya nanjak sembilan bulan lalu. Berjalan pelan dengan langkah kecil dan sesekali berhenti menarik nafas adalah ritme yang rutin saya lakukan. Akhirnya saya tiba pada sisi yang landai dan penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran. Tak sungkan saya berteriak “Ada bonus kaka”, lalu saya duduk di sebuah batu sambil mengagumi kembang-kembang itu laksana kumbang yang bertemu nekhtar. Dengan langkah santai saya melanjutkan perjalanan, baru sekitar 100 m melangkah, triangulasi sudah terlihat. Tak membuang kesempatan, kami pun berfoto-foto dulu, asik.

prau1
Pose andalan di Prau

Setelah mendidirkan tenda di lokasi yang telah diplot oleh panitia, kami kemudian diarahkan untuk berkumpul lalu saling berkenalan satu dengan yang lainnya berikut kota asal kami. Selanjutnya kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang kemudian berlomba melalui beberapa games. Lewat canda dan tawa, kami menyatu menikmati setiap tantangan yang diberikan meski gerimis tipis turun sore itu. Kami pun tak dapat menikmati sunset yang berlatarkan Gunung Slamet. Hingga malam tiba, setelah semua bersantap malam, kami pun berkumpul untuk ceremonial kecil-kecilan atas pencapaian dua tahun Mipala melalui pemotongan tumpeng. Selanjutnya masuk pada acara mimbar bebas. Udara malam yang sangat dingin malam itu tidak membuat saya sanggup berlama-lama di luar tenda.
Rasanya baru sesaat tidur dan sudah terdengar suara-suara yang berteriak “sunrise”, sudah pagi rupanya. Setelah melaksanakan kewajiban subuh meskipun agak telat, kami pun keluar dari tenda. Kaget juga dengan suasana di sekitar setelah melihat begitu banyaknya pendaki-pendaki yang tersebar, layaknya pasar tumpah Prau di pagi itu, sangat ramai. Sunrise yang menawan berlatarkan Sindoro dan Sumbing menjadi nilai plus bagi para pendaki di Prau. Dari sisi lain, Slamet yang kokoh dan Telaga Warna menjadi suguhan berbeda. Tak heran jika banyak penikmat ketinggian yang bertandang ke sini.

da1
Keunikan flora Prau

 

pr5
Menikmati pesona Prau

 

d9
Site camp milanisti

 

d8
Ramainya pengunjung Prau

 

d12
Sunrise Prau yang romantis

 

d14
Pajappa On Prau

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, kami pun packing dan pulang. Rute yang kami lalui berbeda dengan rute pendakian kemarin. Berada di barisan depan bersama Mas Dede dan Wirdhan, kami pun berujung pada sebuah candi kecil bernama Candi Dwarawati. Pemandangan pertanaman kentang, carica (pepaya khas dataran tinggi Dieng), dan cabe gendot Dieng menjadi pemanis bersama hangatnya senyum dan sapa masyarakatnya. Terima kasih Wirdhan, Kang Jigol, Mas Dede, tim Kelompok 5 dan seluruh aktivis Milanisti Indonesia Penggiat Alam serta saudara-saudara Pajappa. Damailah bumi dengan segala isi-isinya, Forza Milan.

d16
Candi Dwarawati

 

d10
Bukit teletubbies Prau

 

d13
Triangulasi Prau berupa pohon hdup

*coretan yang tertunda sejak Juni 2014

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s