Malam yang Hangat di Taman Perahu Karam

Salah satu sudut pandang di depan lokasi camp kami (Gambar : @enal_18)
Salah satu sudut pandang di depan lokasi camp kami (Gambar : @enal_18)

Akhir pekan pun kian dekat, belum ada kawan yang berinisiasi untuk mengajukan destinasi trip. Sederet pertanyaan copy paste di group dengan nada “Kemana trip Pajappa pekan ini ?” sedikit menggelitik. Beberapa teman yang risih dengan itu melakukan koordinasi dengan pak ketua untuk menjadikan trip pekan ini ke Bisseang Labboro yang lebih sering disebut Bislab. Kali ini Agus dipercayakan sebagai Trip Manajernya. Saya sendiri belum pernah menjejakkan kaki di tempat yang sudah tidak lazim bagi penggiat alam ini. Rasanya saya tidak akan mendapatkan feel tempat itu jika tidak menikmati suasana pagi, siang, sore dan malamnya. Akhirnya saya mempengaruhi beberapa kawan untuk ngecamp di sana, biarlah rombongan Agus menyusul hari minggunya karena mereka hanya merencanakan perjalanan sehari.

Sampai pada hari Sabtu, baru saya, Appy, Wirya dan Nanha yang positif untuk ngecamp di Bislab. Kami pun bersepakat bertolak ke Maros pukul 15.30 wita. Sambil menunggu Appy pulang kerja, notif line berbunyi, rupanya Win juga ingin ikut trip shingga jadilah kami berlima. Setelah kelengkapan dan tim siap, kami pun akhirnya baru meninggalkan Makassar pukul 17.00 wita, setelah hujan sore berlalu. Jalanan yang tidak begitu padat membuat perjalanan kami lancar-lancar saja. Di Pasar Tradisional Mandai kami singgah untuk belanja kebutuhan makanan. Mulai dari seledri, bawang prei, bawang merah, bawang putih, minya goreng, petsai, jagung manis, ikan asin dan telur. Tak lupa beli pisang untuk menu pelengkap. Perjalanan pun kami lanjutkan, rupanya lupa untuk membeli garam kasar. Nanti di Pasar Tradisional Maros kami singgah untuk membeli garam. Garam biasanya digunakan sebagai barier terhadap binatang-binatang melata seperti ular. Bagaimana pun kita harus waspada apalagi berkemah di lokasi pinggiran sungai dan batuan karst yang bercelah.

Setelah berkendara sekitar 15 km dari kota Maros, akhirnya Nanha menyalakan lampu weser kanan tepat di depan Maros Water Park. Tak ada penanda jelas kalau kita suda sampai di kawan Bislab. Kami pun memarkir kendaraan dengan rapih di bawah kolong rumah panggung warga setempat dengan biaya sebesar Rp. 5.000,00 per motor. Hujan kembali turun, kami kemudian bermusyawarah dan memutuskan untuk mencari makanan dulu sambil menunggu hujan reda. Pilihan jatuh di Warung Pangsit. Dengan merogoh koceh sebesar Rp. 18.000,00, saya menghabiskan semangkuk mie pangsit ditambah dua bakso jumbo, satu lontong bungkus daun pisang dan satu butir telur rebus. Rupanya saya sedang lapar.

Hujan pun reda, sekitar pukul 20.00 wita, kami mulai berjalan dengan nyala headlamp sebagai penerang. Jarak tempuh 500 m, kita akan memasuki gerbang Bislab. Dengan membayar konstribusi sebesar Rp. 2.500,00 per orang, kami pun masuk ke area yang masih merupakan Kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung ini. “Wah, jalannya sudah bagus, tidak seperti waktu pertama ke sini, jalannya masih becek dan berlumpur” tutur Appy. Dengan jalur sirkulasi yang sudah menggunakan beton, pejalan akan lebih dimanjakan. Sepanjang jalur telinga selalu dimanjakan oleh riak-riak air yang mengalir di sungai bebatuan khas perbukitan karst. Rupanya sudah banyak rombongan yang lebih dahulu datang sehingga spot-sopt yang diidamkan untuk memasang tenda telah terisi. Setelah mempertimbangkan beberapa spot, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan camp di tepian sungai agar lebih mudah untuk mengambil air.

Suhu udara malam yang hangat meski pun sesekali rintik jatuh ke pangkuan pertiwi. Sesekali jua bintang menampakkan diri dari sela-sela dedaunan yang rimbun pada kanopinya. Matras pun digelar, kompor dinyalakan dan air didihkan. Kopi gelas pertama dan kedua begitu cepat berlalu seraya meninggalkan ampas pekat bersama canda dan tawa malam itu. Suara gitar dan lantunan tembang-tembang Iwan Fals dari rombongan lain sesekali memancing kami untuk ikut bernyanyi. Kopi gelas ketiga dan keempat pun tuntas tak tersisa, cerita pun berlanjut seperti kisah yang tak ada habisnya. Tak henti juga pengunjung yang datang seraya menyapa kami. Tepat pukul dua dinihari, kami membubarkan diri masuk ke dalam tenda untuk beristirahat dan berharap bisa bangun lebih pagi dan menikmati suasana asri taman perahu karam ini.

Suasana pagi saat membuka pintu tenda (Gambar oleh @hellowin_  ).
Suasana pagi saat membuka pintu tenda (Gambar oleh @hellowin_ ).

Sahutan burung yang semarak menandakan pagi telah tiba, waktunya menyiapkan sarapan. Terlihat beberapa ekor kera hitam khas Sulawesi sedang melintas di atas sungai tak jauh dari tenda kami. Di atas pohon jambu hutan (mirip jambu air tapi rasanya sepat) terlihat beberapa spesies anggrek yang melekat pada cabang-cabangnya. Yang menarik perhatian adalah Coelogyne celebensis yang sedang berbunga, sungguh anggun dan mempesona. Sambil mengamati anggrek-anggrek tersebut, ada yang tiba-tiba mengalihkan perhatian dari salah satu dahan pohon itu, terlihat seekor iguana sebesar dua jari orang dewasa yang mungkin sedang mencari serangga yang hinggap di balik-balik daun. Sementara dari dalam air terlihat ikan-ikan kecil yang bermain.

Oh ya, semalam juga kami sempat melihat udang galah yang memancarkan sinar merah dari kedua matanya saat diterpa cahaya lampu. Ekosistem sungai yang masih terjaga dengan kualitas airnya tercermin dari banyaknya biota air yang hidup di dalamnya. Kembali ke dapur, sarapan kali ini sangat spesial, bubur jagung, telur orak-arik, roti bakar yang bersanding dengan coklat susu dan kopi Jambi. Maka nikmat apa lagi yang kamu dustakan?. Setelah sarapan, kami pun berjalan-jalan di sekitar untuk menikmati aliran-aliran air yang semalam hanya suara gericiknya terdengar.

Menu sarapan dan suasana camp (gambar oleh @hellowin_  )
Menu sarapan dan suasana camp (gambar oleh @hellowin_ )
Anggrek Coelogyne celebensis yang anggun (Gambar : @enal_18)
Anggrek Coelogyne celebensis yang anggun (Gambar : @enal_18)

Matahari pun mulai meninggi, ada baiknya mempersiapkan makan siang sembari menunggu kedatangan teman-teman yang diperkirakan tiba sebelum pukul sebelas siang. Sedikit melenceng, rombongan Agus, sekitar 30 orang tiba pukul 11.30 wita bersamaan dengan siapnya hidangan makan siang kami. Kami pun makan siang bersama dan saling berbagi bekal, ada juga yang sudah tak tahan diri menceburkan diri ke dalam sungai. Ada juga yang menikmati suasana dengan berayun di atas hammock yang tersusun tiga.

Sayangnya teman-teman dari Stand Up Makassar harus pamit lebih awal karena ada agenda mereka yang sudah terjadwal. Sementara kami dengan riangnya bermain air tapi tetap waspada dengan situasi, apa lagi terlihat mega hitam di atas langit. Volume hujan meningkat dan sepertinya kami harus beranjak dari sungai dan berlindung di bawah flysheet. Setelah hujan reda, kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Makassar. Dan jangan lupa sampah-sampahnya dibereskan sebelum meninggalkan camp. Damailah bumi beserta segala isi-isinya.

Suasana yang tenang di sekitar camp (Gambar : @enal_18)
Suasana yang tenang di sekitar camp (Gambar : @enal_18)
Semua pansang gaya (Gambar : @enal_18)
Semua pansang gaya (Gambar : @enal_18)
Menikmati suasana dengan berayun di hammock (Gambar : @wiieerrr)
Menikmati suasana dengan berayun di hammock (Gambar : @wiieerrr)
Sisi lain damainya Bisseang Labboro (Gambar : @hellowin_  )
Sisi lain damainya Bisseang Labboro (Gambar : @hellowin_ )
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s