Gema Berkebun di Makassar

gambar 0

Rasanya baru kemarin Konferensi Nasional Indonesia Berkebun dilaksanakan di Bali, yang sebelumnya di Solo, sekarang para vektor virus berkebun berkumpul di Tanah Karaeng, Mangkasara. Konferensi yang akrab dengan #IdBerkebunConf ini secara rutin dibuat untuk memantapkan visi bersama @Idberkebun, yaitu edukasi, ekologi dan ekonomi. Yang terpenting sesungguhnya adalah temu kenal dan temu kangen dari penggiat-penggiat yang ada dalam kota jejaring Indonesia Berkebun. Sangat menyenangkan bertegur sapa dan berbagi cerita dengan sosok-sosok yang selama ini akrab di kicauan gadget.
Apresiasi yang luar biasa buat teman-teman di Makassar yang telah berjuang dengan semangat “siri’” sehingga kegiatan yang dijadwalkan oktober, bahkan hampir dibatalkan ini dapat terlaksana di november ini. Seperti “mestakung” istilah yang sering dilontarkan oleh kakak Nyung, justru di satu bulan terakhirlah energi itu menguat bahwa kita bisa menyukseskan #MGCF dan #IdBerkebunConf ini.

Hari pertama…

Sebagai pembuka, teman-teman panitia dan volunteer menyiapkan hidangan Makassar Green Culture Fastival dengan mengangkat tema “Legenda Mappadendang”. Mappadendang sendiri adalah acara tradisional saat pesta panen raya padi dalam kultur masyarakat Bugis. Dalam #MGCF ini ditampilkan lomba menghias wadah tanam. Wadah tanam ini dibuat dari pipa kertas penggulung plastik yang dipotong-potong sehingga tak lepas dari unsur daur ulangnya. Dilanjutkan dengan dongeng dari Kak Heru yang membuat adik-adik larut dalam tawa. Kelas dari Daeng Fadly, sang vocalis band Padi pun memberi nuansa yang berbeda. Kita mengenal beliau dengan lantunan syair-syair indah dalam lagu, kali ini tampil dengan materi aquaponik yang menggabungkan sistem budidaya ikan dengan budidaya tanaman. Begitu pun saat adik-adik dari Mangrove Action Project memainkan mini teatrikal tengtang keprihatinan terhadap terkikisnya hutan mangrove akibat keserakahan manusia. Isi acara yang sangat menghibur dan mendidik.

Gambar 1
gambar 2

Yang paling menarik dari #MGCF ini adalah Passinrili’ yang memandu jalannya acara malam itu. Pertunjukan Tari Pepeka Ri Makka yang tarian yang diilhami dari kisah nabi Ibrahim yang tidak terbakar saat disulut api. Pertunjukan ini sering ditampilkan di upacara tradisional etnik Makassar. Belum lagi tari panen yang dipentaskan oleh teman-teman Pajappa, tarian yang terlihat riang dari etnik Padang ini menggambarkan kegembiraan dan kesyukuran atas panen yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa. Pertunjukan yang paling mendebarkan adalah Tarian Mabbissu, tarian yang sarat unsur magis ini dahulunya hanya disajikan di hadapan para raja. Saya sendiri baru kali ini punya kesempatan untuk melihatnya. Tari yang diperankan oleh para bissu, yang menyebut dirinya bukan laki-laki dan bukan perempuan ini adalah para penasihat raja yang juga bertugas menjaga dan merawat benda-benda pusaka kerajaan Bugis-Makassar. Pertunjukan dengan menusuk-nusukkan badik di badan hingga mata ini serupa dengan aksi debus di Banten. Konon jika persyaratan tarian ini tidak dipenuhi maka badik dapat menembus tubuh para penarinya. Malam yang manis dengan pertunjukan kakak-kakak dari Stand Up Makassar dan solo band dari Kakak Rizky, terutama lagu bento nya sangat menghibur.

gambar 3
gambar 4

Hari kedua…

Bangun pagi disapa ombak kecil di tepi Pantai Galesong berirama membelai pasir, angin berhembus sepoi melambaikan nyiur. Nikmat pagi yang sangat baik untuk menyegarkan pikiran. Rupanya teman-teman sudah pada siap untuk senam yoga yang dipimpin oleh kak Dee. Sudut datang matahari pun mulai bergeser, sebagian menikmati berenang dalam kolam dan sebagian berseru-seruan di atas banana boat. Berbaur dan berbagi cerita dalam canda dan tawa, tiada rasa kesukuan karena kita Indonesia.

gambar 5

Puas bermain air, saatnya kita masuk ke ruangan yang pada backdropnya bertuliskan Konferensi Nasional Indonesia Berkebun. Dimulai dari sesi perkenalan para penggiat. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa kebanyakan di antara penggiat @IdBerkebun hanya kenal di “time line”, maka di #IdBerkebunConf inilah yang menjadi wadah bagi para vektor virus berkebun untuk meng-genta-kan visi misinya terutama dalam meningkatkan produktivitas lahan-lahan yang selama ini tidak dilirik. Satu persatu pun memperkenalkan diri mulai dari nama, kota jejaring, sampai pada status. Iya sih, dari dua #IdBerkebunConf sebelumnya, selalu menghasilkan tagar-tagar jodoh. Dan tidak dipungkiri bahwa banyak penggiat yang ketemu jodohnya di kebun. Salah satunya adalah pasangan cabe, kakak Rama dan Nyung.
Setelah makan siang dengan menu coto, kapurung dan lawa, forum masuk ke sesi sharing program. Tiap kota jejaring memaparkan kegiatan dan progressnya setahun terakhir lalu diikuti dengan tanya jawab sehingga terjalin transformasi pengetahuan dari tiap kota jejaring yang ada. Spirit dan kreatifitas dari tiap-tiap kota jejaring ini sangat luar biasa, inspiratif dan inovatif. Yang paling mendapatkan perhatian adalah tim Bekasi Berkebun yang tahun lalu hanya tampil dengan tiga slide sudah termasuk sampul dan ucapan terima kasih, kata salah satu penggiatnya. Kali ini mereka tampil dengan progress yang patut diacungi jempol. Penggiat yang minim dan semuanya perempuan tentu bukan hal mudah untuk tetap menyebarkan virus berkebun melalui rentetan kegiatan yang menarik.

gambar 6

Forum kian hangat dengan segelas kopi, sanggara peppe dan sanggara balanda. Mitologi berkebun yang dibawakan oleh Daeng Nassa memberikan kita pemahaman mendalam tentang pentingnya memberi penghargaan terhatap tumbuh-tumbuhan, terutama yang menjadi sumber makanan dalam kehidupan sehari-hari. Menanan tanaman adalah doa, maka patutlah kita untuk memelihara tanaman itu hingga tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Orang-orang terdahulu memberi batasan tak lain hanya untuk mengajarkan kita bagaimana berdampingan dengan alam yang senantiasa memberi sumber penhidupan bagi manusia. Seperti halnya cengkeh sebagai mahakarya Indonesia hingga kini tetap menjadi primadona di tanah Maluku. Film Ekspedisi Cengkeh yang dipandu oleh salah seorang penelitinya, Kanda Djimpe adalah satu bukti kuat betapa kayanya negeri ini hingga bangsa-bangsa Eropa berloma-lomba datang untuk menguasai nusantara. Dalam dunia perkebunan, cengkeh dikenal sebagai tumbuhan indikator, dimana cengkeh tumbuh dengan baik maka tumbuhan yang lain pun demikian karena cengkeh membutuhkan tanah dengan solum yang dalam. Pala, lada, dan vanili adalah komoditi ekspor yang sering berdampingan atas kehadiran cengkeh. Cukuplah Sanzibar yang sempat mengungguli cengkeh lokal kita, cukuplah Jambu Citra yang disulap menjadi Tong Sam Si.

Ahhh, di meja makan sudah tersaji Pallubasa, Mie Titi, dan Bakso Ati Raja lengkap dengan buras dan ketupatnya. Makan malam yang sempurna bersama iringan tembang kenangan dari tamu lain Pantai Galesong. Lepas makan malam, tibalah forum pada pembahasan hal-hal yang urgen terkait pencapaian visi dan misi Indonesia Berkebun. Inilah sesi yang paling serius dan menghasilkan keputusan yang akan dipermantap di Rapat Keren Februari nanti serta Akademi berkebun yang secara khusus dibuatkan untuk para calon trainer di bulan Mei 2015. Lagu Bagimu Negeri menutup manis #IdBerkebunConf Makassar.

gambar 7

Hari Ketiga…

Suasana pagi begitu ramai dengan banyaknya pengunjung yang datang ke Pantai Galesong, sementara kami bersiap-siap untuk kembali ke kota Makassar dan lalu masing-masing menuju kota asal. Setelah menikmati sarapan bersama, kami pun bertolak menuju kebun Makassar Berkebun di Yayasan Kesehatan Telkom lalu menju ke Jalan Somba Opu untuk mencari tanda mata Kota Daeng sebagai oleh-oleh. Menyempatkan bersantap siang bersama lalu berpisah.

gambar 8

Terima kasih atas kedatangan teman-teman penggiat Indonesia Berkebun, maaf jika ada yang kurang dari kami. Sering-seringlah datang ke Makassar dan sampai jumpa pada Konferensi Internasional Urban Farming di Bandung. Tetap semangat menyebar virus berkebun agar dunia semakin hijau. Markibun !

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s