Belajar Bersama Komunitas Pajappa di Trip Fun Funky

te4

Sudah berapa kali kamu ke Ramma? Dua, tiga, sepuluh atau sudah tak terhitung kali? Saya sendiri sudah tiga kali ke Lembah Ramma dan saya tak pernah merasa bosan untuk ke sana, selagi ada kesempatan.

Lembah Ramma terletak dalam gugus pegunungan Lompobattang – Bawakaraeng ini memang punya nilai yang istimewah bagi para pendaki khususnya di kawasan Sulawesi Selatan. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Makassar membuat tempat ini dijadikan destinasi favorit kaum penikmat ketinggian. Kondisi alam dengan aliran air yang tak pernah kering sepanjang tahun membuat tempat bermukim Tata Mandong (Sang Juru Kunci Gn. Bawakaraeng) ini menjadi tempat yang nyaman untuk camping, entah semalam atau beberapa malam. Air adalah elemen yang sangat penting untuk berlangsungnya hidup, sementara Ramma memilikinya. Belum lagi dinding-dinding gunung dan warna – warni dedaunan yang berpadu dalam harmoni alam semakin memanjakan mata. Jika cuaca sedang bersahabat, malam akan bertaburan bintang. Tak heran jika sekali Anda menginjakkan kaki pada hijau rumputnya maka tak puas rasanya jika tidak mengulang petualangan itu. Wajar saja jika banyak yang ingin ikut saat ada ajakan untuk bertandang ke sana, apalagi di momen – momen tertentu seperti hari proklamasi, sumpah pemuda dan tahun baru. Pada saat – saat itulah Lembah Ramma sangat ramai dengan pengunjung.
te3

Berbagai cerita dan foto-foto menjadi daya pikat bagi yang belum pernah ke Lembah Ramma selain waktu dan ketahanan fisik serta mental. Ada yang punya banyak kesempatan tapi merasa fisik yang tidak mumpuni, ada juga yang mampu secara fisik tapi tidak punya waktu ke sana. Setelah melihat kalender dan ada angka yang merah di hari sabtu, maka direncanakanlah trip Fun Funky ini untuk mengakomodir keinginan teman-teman yang belum pernah merasakan langsung apa yang ada di cerita dan foto-foto itu. Mendengar istilah “funky” sepertinya cukup lawas di kuping. Ya, tujuannya memang agar kita merasa berada di zona remaja dengan semangat yang tinggi. Kalau pesertanya, silakan cek sendiri kartu pengenalnya.
te2

Dari 18 Jappaers yang terdaftar (Allank, Appy, Ardhe, Rama, Iyan, Tomo, Nanha, Enal, Lenka, Sahrul, Wirya, Dandi, Arfan, Yuyun, Ewi, Jule, Lusi, dan Eky), enam di antaranya baru kali ini melakukan perjalanan ke Ramma. Bahkan ada empat orang dengan pengalaman pertama dalam meniti ketinggian. Perjalanan terlama ke Ramma telah kami lewati di penghujung tahun 2012 lalu dengan lama tempuh 12 jam dari 4 jam waktu normal. Kami tidak ingin hal serupa terjadi. Kombinasi personil dalam tim sangat penting untuk menjaga stabilitas dan regulasi selama perjalanan. Dengan demikian, distribusi beban akan disesuaikan dengan kapasitas peserta. Suasana kondusif dalam pendakian akan terbangun sehingga antara yang berpengalaman dan yang baru sama-sama menikmati perjalanannnya. Toh memang kita bertualang bukan untuk mencari susah. Jadi paling tidak tiap peserta baru akan mendapat back up dari teman-teman yang sudah mumpuni. Sementara untuk kawan-kawan lain yang lebih muda diarahkan untuk pengembangan leadership. Secara tidak langsung proses belajar dapat berjalan tanpa disadari. Proses yang dinikmati bersama akan menunjang pencapaian visi bersama pula. Dari rencana perjalanan yang kami susun, semuanya berjalan dengan baik, hanya beberapa yang sedikit melenceng dari waktu tapi secara keseluruhan kami bisa menikmati perjalanan ini.
te

Perjalanan yang secara keseluruhan dapat dinikmati akan menjadi wadah pembelajaran bahwa semua tempat adalah sekolah dan setiap makhluk hidup adalah guru. Dalam kasus pendakian bahwa puncak bukanlah tujuan utama, yang penting adalah bagaimana kita bisa menggali makna dari setiap kejadian yang dilewati. Appy dalam status line nya menyebutkan bahwa “Perihal mendaki, esensi yang saya pahami sebagai seorang newbie bukan ketika sudah tiba di lokasi tujuan dan menikmati keindahan di sekelilingnya, melainkan seberapa tahan mental dan fisik menapaki langkah demi langkah yang tidak jarang dibumbui sorakan saling menyemangati dari para kawan”. Sementara Ardhe yang juga baru kali ini melakoni pendakian mengatakan kalau “Mendaki membuat kita belajar untuk lebih banyak tersenyum pada setiap orang meskipun tidak kita kenal”. Berbeda dengan Allank yang sudah kali keduanya bertandang ke Ramma “Trip Ramma kemarin itu merupakan perjalanan untuk menyegarkan fikiran dari berbagai persoalan yang ada”. Sementara Iyan dan Rama lebih cenderung mengamati perilaku para pendaki yang belum mampu menjadikan alam terbuka betul-betul sebagai rumahnya. Mereka kecewa dengan sampah yang ditinggalkan dan beberapa yang menebang pohon entah untuk perapian atau tiang shelter. Yah, gunung bukan milik siapa dan tak ada larangan untuk ke gunung tapi mari melihat diri apa tujuan kita ke gunung. Tak perlu jadi pecinta alam untuk mencintai alam, bukankah kita diciptakan untuk mengemban misi sebagai khalifah di bumi ini?.
te1

@enal_18

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s