Danau Tanralili; Di Lembah Loe Kami Merdeka

9

Suara adzan subuh telah berkumandang tak lama setelah alarm berdering pas di sisi kuping kiriku. Sesuai dengan rencana perjalanan yang kami susun bahwa kami akan menuju ke Danau Tanralili selepas shalat subuh. Setelah semuanya siap-siap, tak lupa berdoa, kami pun bertolak menuju Kec. Parigi – Gowa. Kondisi jalan yang masih sepi membuat perjalanan kami lebih nyaman. Barulah di Bili-Bili kami singgah untuk menyantap nasi kuning dan ngopi pastinya. Perjalanan kami lanjutkan ke Dusun Bawakaraeng, pemandangan sawah terasering dan hijaunya pepohonan serta semerbak wangi bunga arabika sungguh tak ternilai.
Kendaraan pun terparkir dengan baik, beberapa ekor anjing saling sahut menyambut kami, mungkin karena insting mereka kala melihat pendatang baru. Tak lama berselang kami dihampiri oleh kepala kampung. Kami berbincang-bincang dengan beliau lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Awalnya jalur cukup landai dengan kebun-kebun kopi yang cukup rindang. Setelah itu barulah kaki dimanjakan dengan batu-batu cadas yang labil dari bekas longsoran dan erosi, mengharuskan kita tetap fokus pada apa yang dipijak.

Vegetasi yang terbuka serta teriknya matahari pagi cukup menguras keringat. Kami pun harus sering-sering berhenti agar jarak di antara kami tak saling berjauhan. Bagaimana pun, keselamatan dan kebersamaan tim selalu harus diprioritaskan, apapun kondisinya.

Rasa lelah dan lapar seiring meningginya sudut datang matahari makin terasa. Mata kian sayup karena belum cukup lelap semalam juga tak tertahankan untuk segera mencari pembaringan. Langkah demi langkah berpadu dengan semangat berkobar akhirnya membawa kami pada lokasi untuk camp. Saya pun tak sungkan untuk membuang carrier lalu menghela napas panjang, “huuuhhh…”. Setelah beristirahat sejenak di bawah teduhan tajuk pinus, kami pun segera memasang tenda lalu beristirahat. Tidurrrr…

a1

Perut memang bisa diandalkan menjadi pengingat, waktunya masak. Setelah makanan siap untuk disantap, kami pun makan siang bersama dalam lingkaran kecil. Sungguh hidangan siang yang nikmat bersama dengan turunnya kabut tipis menambah magisnya Danau Tanralili. Sungguh damai dan tenang, hanya sesekali riak gelombang ada kala ikan sedang muncul di permukaan. Sangat merdeka rasanya berda di tempat yang jauh dari keramaian ini. Setelah santap siang, masih ada kopi panas yang selalu menemani kami larut dalam suasana canda dan tawa. Di sisi selatan terlihat air terjun yang menggoda untuk dicumbui. Dan besok pagi kami berencana untuk bermain air di sana.
Tak jauh beda dengan malam-malam lain saat camping dengan teman-teman, setelah menunaikan ibadah magrib dan isya, lanjut dengan santapan malam lalu mengambil posisi dalam perapian. Ada yang memilih untuk tidur lebih awal karena menunggu saat langit bertaburan bintang sementara saya dan beberapa teman lebih memilih bertahan menunggu kayu terakhir habis di perapian. Nampak dari jauh, puluhan nyala headlamp berbaris turun dari Tallung menuju Lembah Ramma untuk merayakan hari kemerdekaan, kata orang-orang. Sementara kami di Danau Tanralili lebih menikmati kemerdekaan dengan cara kami sendiri, merdeka dalam ketenangan. Tak sengaja tombol lampu jam tangan tertindis, rupanya sudah pukul dua dini hari. Saya pun pamit untuk beristirahat sementara dua teman lainnya masih bertahan di depan perapian untuk menghabiskan kopinya.
Pagi pun tiba, matahari masih tersembunyi di balik punggungan Bawakaraeng. Pelan-pelan kubuka pintu tenda, pandangan langsung tertuju pada air terjun yang kian menawan. Sambil menunggu kawan yang lain bangun, saya berkeliling-keliling di sekitar untuk mencari adalah tumbuhan liar yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan maupun yang berkhasiat obat.

Pintu tenda sengaja saya biarkan terbuka agar udara dingin mengalir masuk ke dalam tenda. Harapannya, teman yang kedinginan akan bangun nantinya. Setelah sarapan dengan roti dan minuman hangat sesuai selera masing-masing, kami pun berjalan menuju arah air terjun tersebut.

Untuk mencapai air terjun, kami membutuhkan waktu setengah jam. Di perjalanan, beberapa kawan kami mendapat segatan tawon hingga tangan salah satunya mengalami pembengkakan. Saya sendiri mengalami luka di betis karena salah memilih tumpuan hingga kaki terperosot dan meninggalkan luka. Tapi semuanya terbayarkan dengan keindahan alamnya. Setelah puas bermain di air terjun, kami pun kembali ke camp. Kali ini kami memilih jalur sungai dengan batu-batu besar. Kami sangat menikmati berjalan, berlari dan melompat dari batu ke batu. Petualangan kali ini betul-betul seru.

a2
Sesampainya di camp, kami pun mempersiapkan makan siang lalu makan dan packing untuk pulang. Memang luar biasa kawan-kawan @pajappa_ (Nanha, Lenka, Ari, Tomo, Fadly, Rama, dan Lana) ini, kawan yang selalu ceria dalam perjalanan, kawan dengan inisiatif yang tinggi, dan yang penting mereka tak pernah kehilangan rasa humor yang selalu membangkitkan tawa kala lelah menghadang.
Foto: Enal, Rama, Lenka dan Fadly

14

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Danau Tanralili; Di Lembah Loe Kami Merdeka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s