Bulusaraung; Rindu yang Tertumpahkan

blss
Pagi yang berkabut menuju puncak.


Monster (lemon serai) yang berkeringat di gelas kaca. Siang itu begitu menyegarkan. Saya mencoba peruntungan dengan membuka kunci smartphone berharap signal bersahabat. Benar saja, begitu banyak pesan yang masuk di grop chat. Rupanya teman-teman sedang merencanakan trip untuk mengisi waktu libur yang tersisa. Saya tertarik kala ada ajakan untuk menjejakkan kaki di puncak Bulusaraung. Tak berpikir lama, saya pun memajukan jadwal keberangkatan ke Makassar. Saya masih di kampung halaman kala itu.

Gunung Bulusaraung terletak di Kabupaten Pangkep. Dome ini adalah gunung yang pertama kali memanjakan saya dengan sensasi berdiri di atas puncaknya. Di atas ketinggian yang dikelilingi awan putih. Laksana berada di negeri di atas awan dengan mata berbinar yang takjub atas segala kebesaran Pencipta alam semesta ini.

Sembilan tahun lalu, bersama teman-teman dari Plant Klopedia Agronomi dalam tajuk Eksplorasi Plasama Nutfah. Itulah kali pertama saya berkesempatan mencumbui triangulasi Bulusaraung. Banyak cerita yang sudah pudar dalam ingatan. Sekarang, saya punya kesempatan untuk mengingat kembali keseruan itu meskipun dengan cerita yang berbeda.

Perjalanan kali ini saya lakoni bersama kawan-kawan yang motonya “Hidup itu butuh hiburan dan liburan”. Tak mengherankan lagi jika sorak sorai sepanjang jalur pendakian begitu riuh untuk saling memberi semangat. Canda dan tawa seolah membuat keringat yang bercucuran dan rongga hidung yang kian mengembang pun terasa biasa. Pos demi pos pun kami lalui, sesekali singgah untuk mengatur napas dan meregangkan kaki. Dua jam waktu berlalu, terhitung mulai dari pos jaga, kami pun tiba di pos 9. Rupanya memang pendaki yang datang begitu banyak sehingga kami harus berpindah dari titik ke titik yang lain untuk mendirikan tenda, apalagi hari sudah menjelang magrib.

bb
Suasana di perjalanan

Setelah tempat camp sudah disepakati, kami pun membagi tugas antara satu dengan yang lainnya. Ada yang memasang tenda, ada yang mencari ranting-ranting kering untuk perapian, ada yang mengambil air dan ada yang mempersiapkan bahan makanan untuk hidangan malam. Ada juga yang masih menyempatkan diri untuk berburu sunset di atas puncak.
Malam pun tiba, setelah menunaikan kewajiban sebagai muslim, kami pun masak bersama-sama. Tak ada diantara kami yang merasa nyaman dengan hanya duduk, diam dan menunggu panggilan makan saja. Alhasil, menu yang kami racik bersama sudah siap untuk disantap. Kami pun makan dengan lahapnya dalam temaram sinar headlamp.

Setelah itu kami berbaur dalam lingkaran kecil dengan api unggun kecil menjadi sumbunya. Berbagi cerita dalam canda dan tawa membuat segala lebih hangat. Belum lagi kopi dan coklat susu menjadikan suasana kian santai. Sungguh semua terlihat ceria, seperti tak ada yang ingin mengingat masalahnya. Toh memang kita trip bukan untuk mencari masalah.

Satu yang kurang malam itu, kami tidak bisa menyaksikan taburan bintang karena vegetasi pohon di pos 9 ini memang terbilang rapat. Yang terdengar adalah desiran angin, suara serangga malam dan nyanyian-nyanyian dari pendaki lain. Tak terasa waktu berlalu, api pun kian meredup, kopi bersisakan ampas, satu per satu dari kami masuk tenda untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk menggapai triangulasi esok paginya. Akan sangat berbeda ketika menghabiskan malam di puncak, tapi beresiko karena angin cukup kencang.

Serasa baru saja terlelap, kicauan para penari pagi mulai terdengar, oh sudah pagi rupanya. Setelah semuanya bangun, kami lalu menyiapkan bekal yang nantinya menjadi sarapan pagi saat menikmati panorama alam di puncak. Perjalanan dari pos 9 ke puncak cukup menguras tenaga tapi semua dapat teratasi karena hasrat untuk menapakkan kaki di puncak lebih besar.

Untuk menuju puncak, sebaiknya tetap membawa jaket tebal karena angin yang cukup kencang membuat tubuh lebih cepat merasakan dingin. Seperti biasa, kami tak luput untuk mengabadikan momen-momen penting lewat kamera smartphone. Setelah dirasa cukup, barulah kami bergeser ke sisi yang sedikit terlindungi dari angin agar dapat membuat minuman hangat sekaligus menyantap isi daypack yang kami sediakan tadi.

bb1
Suasana di puncak

Terima kasih kawan-kawan @Pajappa_ (Nanha, Tomo, Allank, Iccank, Ucok, Rama, Iyan, Iccang Jr) atas perjalanan ini, perjalanan yang hampir sepuluh tahun lalu baru bisa terulang di tempat ini. Mari mengambil cerita-cerita baik dari setiap perjalanan kita dan biarlah yang indah-indah untuk kita kenang. Semoga kita semua lebih memaknai hidup yang butuh perjuangan dan tetesan keringat ini agar kita semakin dekat pada penciptaNya. Damailah bumi beserta isinya.
Foto by: Enal dan Rama

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s