Lappa Jampu, Habitat Para Pembuat Gula Aren

1

Pagi itu hujan turun disertai angin, kadang deras dan kadang berhenti. Begitulah cuaca bersiklus hingga kami tetap memutuskan untuk beranjak menuju Dusun Lappa Jampu. Setelah menyantap nasi goreng dan mereguk teh hangat yang telah tersaji, kami pun bergegas menyalakan sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan.

Jalanan perkerasan yang basah hingga berlumpur serta pendakian dan penurunan yang membutuhkan ekstra kehati-hatian. Sedikit saja salah ambil keputusan atau lengah maka jurang siap menadah. Tak heran jika Jack membawa oleh-oleh berupa sengatan knalpot di betis kanannya akibat terjatuh dan tertindis motor.

jal

Melewati jalan setapak yang diapit oleh hutan pinus yang cukup rapat dan beberapa campuran vegetasi pohon, kami pun tiba di Lappa Jampu. Sedikit berjalan kaki masuk ke hutan, kami menemukan gubuk pembuat gula aren milik Pak Mappa dengan pohon-pohon aren yang rapat berada di sekitarnya. Tak heran jika tempat ini disebut sebagai surga pembuat gula merah. Pak Mappa yang memulai aktivitas “massari” (sebutan untuk penyadap nira aren) memulai aktivitasnya sejak pukul empat subuh dan kembali ke pondoknya dengan membawa “timbo-timbo” (penampung nira) yang telah berisi nira pukul sembilan pagi dan memulai memasak sari aren tersebut menjadi gula. Dalam sehari, Pak Mappa mampu menghasilkan 200 biji gula merah dengan harga Rp. 1000,- per bijinya. Yang unik adalah cetakan gula terbuat dari kayu yang di pahat, berbeda di tempat lain yang menggunakan bambu atau tempurung kelapa.

gul gt

Tak hanya gula, masyarakat dusun juga mendapat penghasilan dari ternak sapi yang tidak dikandangkan. Sebagian juga menanam kopi di antara tegakan-tegakan pinus namun tidak terawat sebagaimana kopi dalam anjuran budidayanya. Ada juga kemiri yang dalam bahasa bugis disebut “pelleng” menjadi komoditi hutan yang bisa menambah pendapatan masyarakat. Pemecah biji kemiri terbuat dari anyaman rotan. Biji kemiri kering dimasukkan ke alat tersebut lalu ditumbukkan di batu sehingga cangkang kemiri yang keras itu pecah tapi tidak membuat isi kemiri ikut pecah tak beraturan. Ternyata biji kemiri ini juga dijadikan bahan tambahan dalam pembuatan gula. Setelah nira mulai mendidih, ke dalam wajan ditambahkan beberapa biji kemiri yang ditumbuk halus. Menurut pak Pance, minyak dari biji kemiri tidak akan membuat nira meluap-luap saat di masak. Sebenarnya minyak kelapa juga bisa digunakan tapi kemiri cukup banyak di sini, lanjutnya.

ken

Setelah cukup bercerita dan langit kembali berjelaga, kami pun bergegas kembali ke Desa. Dalam perjalanan sempat dua kali berteduh karena lebatnya hujan. Seandainya cuaca bagus, perjalanan tidak semenantang ini kata Amril yang sudah beberapa kali ke Lappa jampu.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s