Lembanna; Cerita dalam Kabut dan Pohon Cinta

Gambar

Saat mendengar kata Lembanna, mungkin sudah tidak asing di telinga teman-teman. Apalagi yang sering melakukan kegiatan di alam terbuka di kawasan pegunungan Bawakaraeng. Desa terakhir yang menjadi titik awal pendakian ke Ramma-Bawakaraeng ini selalu menjanjikan suasana yang sulit dilupa dengan ramah masyarakatnya. Hanya sekitar satu kilometer kita berjalan, kita sudah berhadapan dengan air terjun yang tentu debit airnya besar di saat musim hujan seperti ini. Itulah yang menjadi tujuan kami kali ini.

Berangkat dari Makassar via lapangan Hertasning, kami yang berjumlah 21 orang dengan kendaraan roda dua dan pakaian safety dari hujan, start pukul 15.00 wita. Sepanjang perjalanan lancar, kecuali di tanjakan Burung-Burung yang memang kondisi jalan yang sangat buruk sehingga butuh konsentrasi yang lebih. Kabut tebal dengan jarak pandang 3-5 m diselingi hujan pada jalan yang berkelok-kelok membuat kami harus berhati-hati dalam berkendara. Tak heran jika kami baru tiba di Lembanna pukul 18.30 wita. Tim Nhana’ dan Wirdan pun bergabung.

Setelah bercengkrama dengan Tata’ Rasyid, kami putuskan untuk memasak dan makan malam dulu supaya tidak repot lagi saat tiba di lokasi camp, apalagi kondisi cuaca dengan hujan yang tidak menentu. Paket ransum pun segera dikeluarkan dari carrier dan diolah menjadi santapan malam. Dengan suasana kekeluargaan yang akrab tercermin dalam canda dan tawa mewarnai suasana makan malam kami. Dan setelah makan, kami pun mengemas kembali barang bawaan lalu bersiap-siap menuju ke lokasi camp yang sudah kami tentukan.

Tepat pukul 21.00 wita, cuaca mulai bersahabat. Kami pun segera pamit ke Tata’ dan berjalan menyusuri setapak dalam temaram nyala headlamp. Tiba-tiba di tengah jalan hujan deras pun menerpa. Lagi-lagi kami harus menepi dan memasang raincoat yang sudah stand by di sisi carier maupun ransel masing-masing. Dengan semangat kami tetap melanjutkan perjalanan.

Ahhh, akhirnya kami tiba di lokasi camping. Segera kami memasang flysheet dari backdrop bekas ultah ke dua JJSM yang memang ukurannya besar. Tali webbing pun dibentang diantara pohon-pohon pinus sebagai penyangga. Di bawahnya kami memasang tenda-tenda monolayer agar tidak kebasahan saat hujan. Masing-masing peserta pun memasuki tenda yang telah ditunjukkan oleh trip manajer. Yang lucu ketika Agus bingung mau masuk di tenda yang mana. “Masih ada webbing, Lenka?” Tanya Agus. “Ndak adami Gus, mauko apai?” sahut Lenka. Dengan spontan Agus menjawab “Saya kira masih ada, ikatma saja di pohon pinus”. Suara tawa yang riuh tak terhindarkan. Di shelter konsumsi masih ada yang memanaskan air untuk membuat minuman agar badan terasa lebih hangat. Ada juga yang lebih dahulu berlalu dalam alam mimpinya.

Sekitar pukul 01.00 dinihari, dua kawan dari PETA (Petualang Telusur Alam) yang membawa bibit pohon pun ikut gabung. Om Arfan segera menyiapkan tenda. Tenda yang terpasang malam itu sebanyak sembilan buah. Tak terasa, entah sudah gelas keberapa kopi habis diseruput, namun suasana seolah enggan mengantar kami ke alam tidur seperti kawan yang lain. Gerimis yang jatuh dari pucuh-pucuk daun pinus, kabut tebal yang menyelimuti malam dan hangatnya suasana menjadi hal yang mahal tak tak pernah sama dengan momen apa pun. Mengingat ada agenda yang lebih penting esoknya, jari pun menekan tombol cahaya pada jam tangan. Oughhh ternyata sudah pukul 03.00 dini hari, saya pun undur pamit untuk memejamkan mata.

Tampak terang dari balik jendela tenda, hmmm sudah pagi rupanya. Satu persatu keluar dari kepompong sleeping bag lalu keluar dari tenda masing-masing. Sebagian kembali ke rumah Tata’ untuk mengambil bibit dan peralatan untuk menggali. Sebagian lagi mengambil tugas di shelter konsumsi untuk menyiapkan sarapan. Dan setelah semua selesai dan tiba di camp, kami pun menikmati santapan pagi bersama.

.Gambar

Setelah sarapan, kami kemudian bergegas menuju spot penanaman yang kami tentukan. Spot tersebut sebelumnya telah dilakukan penanaman yang ditandai oleh pancang-pancang ajir yang masih tertancap namun sudah tidak ada bibit yang tumbuh di situ. Sengaja kami mengambil waktu seperti ini dimana hujan masih berlangsung agar ketersediaan air mampu menunjang pertumbuhan bibit. Berbagai pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa penanaman untuk reboisasi akan berhasil jika dilakukan di awal atau akhir musim penghujan dibanding melakukan penanaman yang berdasarkan momen-momen yang tidak disertai dengan hujan. Idealnya, penanaman pohon dilakukan setiap saat dan perawatan pasca penanaman jauh lebih penting. Tentunya faktor penyiraman adalah hal yang mendasar dan substansial. Sayangnya hanya 60 bibit yang mampu kami bawa, ke depannya akan dilakukan secara bertahap seiring mengamati perkembangan tanaman yang sudah tertanam.

Gambar

Gambar

Penanaman pohon usai, saatnya berkemas-kemas lalu menuju air terjun Lembanna. Benar saja, debit air yang mengalir sangat besar dan arusnya kuat. Hanya beberapa orang dari kami yang turun, sebagian lagi hanya menikmati dan mengambil gambar dari sisi atas air terjun. Sejam kami rasa cukup untuk merenungi kebesaran ciptaan Tuhan dengan segala keindahannya. Awan hitam pun semakin menebal seolah mengisyaratkan bahwa kami harus mencari tempat untuk berteduh yang aman. sesaat setelah kami tiba di kediaman Tata’ Rasyid, hujan pun datang mengguyur lalu diikuti kabut tebal setelahnya. Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk kembali ke Makassar  sebelum waktu magrib tiba.

Gambar

“Menanamlah setiap ada kesempatan untukmu, tak perlu ratusan atau pun ribuan karena sebatang pohon yang engkau tanam jauh lebih berharga dari sejuta pohon yang hanya cerita. Ikhlaslah dalam menanam karena kelak jika yang engkau tanam telah tumbuh maka banyak yang mengambil manfaat. Itu semua adalah bukti cintamu pada generasimu, anak cucumu. Dan semoga itu semua bernilai amal jariyah bagi kita semua. Aamiin…” 🙂

by: @enal_18

Photo by : Enal, Sahrul, Lenka, Win, Arfan

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s