Belajar Akuaponik bersama Sang Idola

Mendengar kabar bahwa Daeng Fadly Padi (@FadlyPadi13) sedang berada di Makassar dan hendak berkunjung ke kebun @MksrBerkebun dan akan berbagi pengalaman dalam membuat akuaponik, tentu disayangkan jika tidak mengikutinya. Hujan bukan halangan untuk menuju ke kebun.

Akuaponik mungkin adalah hal yang masih baru dalam terobosan dunia pertanian, termasuk di Makassar. Akuaponik adalah sebuah teknik yang memadukan antara bercocok tanam dengan memelihara ikan. Buangan ikan yang bercampur dengan air lama kelamaan akan bertumpuk dan bisa saja menjadi racun untuk ikan itu sendiri. Padahal kandungan dalam kotoran ikan dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai sumber hara. Pada prinsipnya, akuaponik sama dengan hidroponik, dimana unsur hara diberikan dalam bentuk zat terlarut. Bedanya adalah pada akuaponik, nutrisinya bersumber dari ekskresi ikan. Secara alami, bakteri nitrifikasi akan mengubah amoniak dari kotoran ikan menjadi nitrat yang dapat diserap oleh tumbuhan dan aerator yang mengirimkan udara ke air agar akar tumbuhan dapat bernafas. Menurut Daeng Fadly, tanpa aerator juga sudah cukup karena air buangan yang menuju ke kolam ikan akan menciptakan gelembung dan tentu membawa oksigen.

Ada tiga metode pemberian nutrisi yang bisa di buat dalam akuaponik, yaitu sistem NFT (Nutrient Film Technique), rakit apung dan system pasang surut. Sistem NFT sekarang ini sedang menjadi trend karena dapat digunakan untuk grow beds yang lebih luas dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi. Tapi yang kali ini dipraktikkan adalah sistem pasang surut. Dikatakan pasang surut karena air yang dipompa dari kolam ke  grow beds jika sampai pada ketinggian tertentu, maka secara otomatis air akan terbuang. Nah, ini merupakan bagian yang paling menarik dari akuaponik. Kendali pasang surut secara otomatis dilakukan oleh botol air mineral bekas yang bawahnya dibuka sedang pada penutup dipasang selang kecil. Alat ini dinamakan Bell Siphon, jadi kita tak perlu timer untuk menyiram tanaman sepanjang waktu.

Gambar

Pada bak grow beds dibuat lubang pembuangan yang kemudian dihubungkan dengan bell siphon untuk mengatur pasang dan surutnya air di wadah tanam. Untuk melindungi bell siphon agar tidak tertekan media tanam, maka dipasang pipa paralon sebagai ring sehingga bell siphon bekerja dengan baik. Pada bak ikan disambungkan pompa yang mengangkat air ke atas grow beds nantinya.

Gambar

Setelah semua alat dirakit, selanjutnya bak tanam diisi dengan media berupa arang kayu dan batu-batu coral. Pada bak ikan, sebaiknya menggunakan air sumur galian. Jika yang tersedia adalah air PAM maka sebaiknya diendapkan dulu selama dua hari kata vocalis Padi Band tersebut. Ikan dan tanamannya pun tak serta merta dipasang bersamaan. Untuk hasil terbik dan lebih sustainable, air tanpa ikan dibiarkan saja terputar selama seminggu. Seminggu ke depan barulah ikan dimasukkan ke dalam kolam lalu dibiarkan lagi bersirkulasi selama tujuh hari. Hal ini daimaksudkan agar koloni bakteri yang akan merombak amonia dari buangan ikan dapat berkembang dengan baik pada media tanam. Dengan demikian maka siklus hara dapat berjalan dengan baik nantinya. Penanaman baru dilakukan setelah seminggu siklus air dan kotoran ikan berlangsung, unsur hara pun sudah tersedia dan bisa diserap oleh akar tanaman.

Gambar

Budidaya secara akuaponik lebih menjamin sterilitas bahan pangan yang dihasilkan karena tidak ada kontaminasi dengan parasit dari tanah. Selain itu, efisiensi penggunaan air sudah pasti jika dibandingkan dengan budidaya tanaman secara convensional yang memungkinkan banyak air yang terbuang. Untuk kita yang hidup di lingkungan perkotaan yang tidak punya lahan untuk bercocok tanam dan sibuk dengan rutinitas kantor, akuaponik menjadi salah satu pilihan yang menarik.

By. @enal_18

Photo by: @enal_18 & @MksrBerkebun

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."