Lemo-Lemo 30 Derajat Celcius

Gambar

Suasana pagi di Dongi memang berbeda. Sejuk udara pagi adalah suguhan yang begitu nikmat. Baru beberapa orang dari kami yang terjaga, selebihnya masih enggan beranjak dari mimpi indahnya, bahkan ada juga yang baru mencari peruntungan untuk memejamkan mata. Menikmati kopi panas di beranda rumah panggung, burung-burung pun saling sahut mendendangkan lagu favoritnya. Lambaian sayonara dari helaian daun-daun kelapa yang pohonnya menjulang tinggi seolah mengisyaratkan bahwa pagi akan segera berlalu. Rupanya jam sudah menunjukkan pukul 08.30 wita. Setelah semuanya bangun, kami pun berdiskusi untuk menentukan tujuan selanjutnya. Dari perhitungan waktu yang ada, maka pilihan jatuh pada Pantai Lemo-Lemo yang tak jauh dari tempat nginap kami.

Dengan jarak tempuh sekitar 10 km, kami pun tiba di Pantai Lemo-Lemo. Tak ada fasilitas yang menarik di sini. Hanya ada dua bungalau tapi yang satu sudah tak layak huni. Yang kami dapati adalah rombongan pramuka dan PMR yang sedang melakukan perkaderan. Mungkin pantai ini mereka pilih karena suasana yang sepi dari pengunjung sehingga mereka lebih fokus ke kegiatannya.

Panas terik matahari yang mencapai 30o C tak menghalangi niat teman-teman untuk menceburkan diri kedalam laut. Berenang di sini harus selalu waspada sebab arus balik dari ombak yang besar bisa saja menyeret kita. Zona dangkalnya juga sempit hanya sekitar 5 meter dari garis pantai yang nyaman untuk beraktivitas di air. Ada juga yang menikmati terapi pasir, sementara yang lain asik dalam ayunan hammock serta bereteduh dibawah shelter nelayan. Saya sendiri menyusun beberapa papan untuk alas dan sandaran sambil memandang hamparan laut yang biru.

Gambar

Gambar

Puas bermain-main di pantai, mereka pun menuju ke sebuah kolam alami yang berjarak sekitar 200 m. Kolam ini berisikan air payau. Sayangnya kolam yang juga difungsikan sebagai tempat cuci-mencuci oleh masyarakat sekitar ini kurang terawat. Sampah plastik yang berserakan tak jauh dari bibir kolam tentu kurang sedap dipanadang. Yang anehnya tak ada timba yang tersedia, bahkan oleh warga setempat, teman-teman dipersilahkan untuk menceburkan diri saja ke dalam kolam tersebut. Kita pun belum tahu pasti adakah sirkulasi air yang terjadi.

Gambar

Yah, pada prinsipnya semua tempat adalah biasa, yang membuat luar biasa adalah dengan siapa kita di sana dan apa yang kita lakukan. Semua suasana akan selalu ceria bersama sahabat-sahabat yang hebat, lucu, ceria dan menggemaskan. Apalagi yang takut sama anjing hahahaaa….

by. @enal_18

Photo by: Enal, Win, Lusi, Tomo, & Umbang

All team : Enal, Achil, win, Nanha’, Allank, Arfan, Wahyu, Tomo, Ridho, Nkha, Tri, Emmank, Yuyun, Ridha, Jule’, Lusi, Ewi, dan Indah.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s