Empat Jam yang Berbeda Di Pantai Bara

Gambar

Setelah melewati perjalanan panjang dari Makassar, akhirnya kami tiba di Dongi, kediaman nenek Indah. Rasa lapar terbayar lunas oleh sajian udang tumis, ikan bakar dan goreng yang dilengkapi sambal tumis dan dabu-dabu. Perut kenyang tentunya membuat tubuh enggan untuk beranjak, tapi kami tak boleh kehilangan  moment. Kami pun bergegas naik ke kendaraan dan meluncur ke arah Tanjung Bira. Namun, yang kami tuju bukanlah Pantai Tanjung Bira, melainkan Pantai Bara yang berada di sebelah barat Bira.

Tak mudah menuju Pantai bara. Kita masih menempuh jarak sekitar 2 km dengan kondisi jalan yang tidak mulus, sepi dan tidak begitu luas. Sisi kiri dan kanan masih dipenuhi oleh hutan tapi tak begitu lebat. Di beberapa titik telah dilakukan land clearing, sepertinya untuk bangunan nantinya. Tak jauh berjalan, kita akan menemukan pemandangan yang kontras dengan nuansa Bulukumba yang kita tahu secara umum. Cafe-cafe dan mini bar yang tak tertata dengan baik berada di kiri kanan jalan. Beruntung kami melihat seekor ayam hutan jantan yang bertengger di tembok pagar tanah yang sudah terkapling. Saya juga sempat melihat dua ekor kera hitam yang bermain di atas pohon beringin di dekat pantai. Selanjutnya kita akan menemui resort-resort yang katanya hanya untuk bule-bule.

Gambar

Tepat pukul 17.00 Wita, kendaraan terparkir dengan baik, kami pun segera berjalan menuju pantai. Rasa letih selama perjalanan pun terbayarkan dengan pemandangan yang begitu indah. Pantai yang panjang dengan pasir yang agak merah muda nan halus, barisan pohon kelapa serta batu-batu cadas yang seolah membingkai pantai menjadi sebuah karya alam yang luar biasa. Sayangnya pantai ini kurang bersahabat dengan sunset karena kita tidak berhadapan jika menatap ke laut. Aktivitas berfoto dan menceburkan diri ke laut pun tak terhindarkan. Dengan hati yang riang, masing-masing dari kami mengekspresikan diri.

Gambar

Gambar

Gambar

Tak terasa sejam berlalu, siang berganti malam, desir angin pun kian terasa. Melihat dua orang bule asal Jerman yang sedang menumpuk kayu lalu mencoba menyalanakan api namun tetap padam, kami pun menghampirinya.  Bermodalkan minyak kayu putih dan ranting bambu, kami membantu membuatkan perapian. Duduk bersama, ada yang berbagi foto, ada yang menikmati kesendirian, ada yang bersantai di atas hammock, ada yang memanggang roti mantau, termasuk kedua bule tersebut.

Gambar

Perut pun melayangkan kode, tepat pukul 21.00 waktu setempat, kami pun memutuskan untuk kembali ke Dongi yang menjadi home stay kami. Dalam perjalanan, suasana semakin kontras di kiri kanan jalan. Dentuman musik yang memicu adrenalin serta kelap-kelip lampu dan perempuan-perempuan yang berbusana minim menjadi pemandangan berbeda. Yah itu dunia mereka dan kita hanya pengunujung.

Akan tetapi keinginan begitu kuat untuk kembali ke Bara di suatu waktu bersama kawan-kawan yang lebih banyak. Menghabiskan malam bersama di tepi pantai yang berirama deburan ombak. Karena hidup butuh hiburan dan liburan.

by. @enal_18

Photo by: Enal, Win, Lusi, Tomo, & Umbang

All team : Enal, Achil, win, Nanha’, Allank, Arfan, Wahyu, Tomo, Ridho, Nkha, Tri, Emmank, Yuyun, Ridha, Jule’, Lusi, Ewi, dan Indah.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s