Tugondeng dan Bunga Di Tepi Jalanan

Sabtu pagi yang cerah, teriring suara musik dan diikuti gerakan senam yang menghentak, saya pun terbangun dan bergegas menunaikan kewajiban meskipun sudah telat. Semua orang dengan kesibukan masing-masing pada kegiatan yang terencana semalam. Agar lebih bersemangat, saya dan teman-teman lainnya ikut senam bersama dengan para peserta Bakti Tani. Udara sejuk begitu terasa. Tampak kabut tipis yang menyelimuti seiring jatuhnya embun pagi ke pangkuan pertiwi. Hijau nyiur yang mengalun pelan menambah hikmatnya suasana Desa Tugondeng, Kecamatan Herlang, Bulukumba.

 Gambar

Waktu yang ditunggu pun tiba, sarapannnnn….. hahahah. Setelah semuanya rampung, tim pengaman jalur pun pengambil bagian untuk bergegas menuju pos-pos pengamanan yang telah ditetapkan di dari sebelumnya. Melewati jalur penggembalaan sapi yang berlumpur lalu persawahan yang bertingkat-tingkat di antara bukit dan lembah. Pertanaman kelapa yang rapat dan barisan pohon jati sungguh menjadi sajian yang istimewah di perjalanan ini. Di beberapa titik terdapat gubuk-gubuk yang di bawahnya terlihat tungku-tungku besar dengan wajan besar yang berisi nira. Tak nampak banyak pohon aren di sini, rupanya nira yang dibuat gula di sini bersumber dari sadapan malai kelapa. Hanya beberapa pohon kelapa yang dibiarkan untuk menghasilkan buah dan oleh masyarakat setempat, kami dipersilahkan untuk mengambil jika hendak mereguk segarnya air kelapa.

 Gambar

Perjalanan selanjutnya menyajikan pemandangan kebun kakao yang diselahi pisang dan kopi. Ada juga yang baru menanan cengkeh. Di sekeliling tepi kebun dipenuhi nenas yang sayangnya tak ada yang belum siap panen.  Di sisi yang berbeda terlihat larikan-larikan bekas bajakan yang ditumbuhi jagung dan kacang. Sungguh kaya negeri ini gumamku.

Stringline demi stringline yang kami pasang kemarin pun kami lewati. Sungai besar dengan arus yang begitu tenang di depan mata. Dengan perlengkapan yang kurang memadahi saat membuat jalur, kami tak mau mengambil resiko untuk memotong arus Sungai Pattong. Kami memilih melewati tepian sungai yang dipenuhi rumpun-rumpun bambu.

Entah mengapa sorotan mataku tertuju pada bunga-bunga kecil berwarna putih yang muncul dari serasah daun bambu yang berserakan. Saya pun penasaran, dengan seksama saya memperhatikan bagian-bagian bunga tersebut. Dari ciri tersebut, saya berani menyimpulkan bahwa tumbuhan tersebut termasuk dalam golongan anggrek yang tumbuh secara saprofit yang kaya bahan organik. Dari setiap tangkai bunga yang muncul, tak ada terlihat sehelai daun pun. Saya pun enggan untuk menggali dan mengamati bagian yang dalam tanah. Secara umum, anggrek dengan tipe seperti ini tidak memiliki pigmen hijau. Saya pun cukup memetik beberapa tangkai sebagai bahan dokumentasi. Tak hanya satu titik saya menemukan tumbuhan mungil nan mempesona itu, tapi di setiap teduhan rumpun bambu pada bantaran sungai saya mendapatinya. Kekayaan alam yang tesembunyi, si cantik yang terabaikan, bunga di tepi jalanan.

 Gambar

Gambar

Suara riak semakin mendekat, sampai jualah kami di pos jaga. Selanjutnya kami menyiapkan tali sebagai penuntun untuk menyebrang. Sebenarnya arusnya tidak begitu deras tapi alangkah lebih bijak jika kita melakukan langkah antisipasi. Sambil menunggu peserta, kita lewatkan dengan bersantai-santai di hammock, berendam kaki di sungai serta menikmati kelapa muda dari kebun paman petani. Dan setelah semua peserta melintasi jalur, kami pun kembali ke camp.

 Gambar

Gambar

***

Setelah di Makassar…

Rasa penasaran tak henti untuk segera mengetahui jenis anggrek tersebut. Segera saya pindahkan file dari kamera saku ke laptop dan diedit. Saya pun coba bertanya pada teman di sosial media dan ternyata beliau juga belum tahu pasti. Saya pun belum punya waktu luang untuk menelusurinya lewat buku katalog. Melalui penelusuran di internet, saya pun berhasil menemukan gambar yang sama setelah memasukkan kata kunci “anggrek saprofit”. Dari tulisan Asief Abdi (http://mywildindonesia.blogspot.com/2013/11/finally-crystal-bells.html) saya menemukan kalau nama anggrek tersebut adalah Didymoplexis pallens. Akhirnya rasa penasaran pun terobati.

Alam kita sungguh kaya, sungguh banyak rahasia surga yang belum kita tahu dan kita kaji. Sepantasnyalah kita menjaga apa yang telah diamanahkan kepada kita selaku khalifah di muka bumi ini. Tentunya kehadiran mereka adalah satu isyarat bahwa lingkungan kita masih terjaga kelestariannya. Tapi sampai kapan keberadaannya akan kita pertahankan? Mari kita renungkan bersama :).

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s